Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted on Mar 10, 2020 in Buletin Teman Surga, Headline | 0 comments

Buletin Teman Surga 104. Pikir Kritis untuk Jadi Selebritis

Buletin Teman Surga 104. Pikir Kritis untuk Jadi Selebritis

buletin teman surga 104. pikir kritis untuk jadi selebritisGais, udah menjadi pemandangan rutin saban tahun ribuan peserta antre untuk ikut kompetisi pencarian bakat. Bukan saja para abege dan para seniornya yang antusias dan berharap menjadi idola instan, para batita juga tidak mau kalah eksis. Tapi yang terakhir ini sih kayaknya emak-emaknya deh yang ngebet. Hihihi.

Yah, gak heran sih di era serba sosmed hari ini, seolah menjadi lumrah untuk mengaktualisasikan diri. Segala potensi yang kita punya, sangat bisa untuk dikabarkan pada dunia. “Ini loh Gue!”. Begitu! Bisa jadi gak kecuali kamu juga kan? Hehe..

iklan buletin teman surga

Ingin Dikenal itu Fitrah, Kok!

#TemanSurga,  pastinya kamu akan merasa bahagia saat dipujI,  senang saat unggahan kita disinggahi ribuan jempol, sedih jika dilupakan. Mendadak galau kalau sosial media kita sepi kunjungan.  Bohong kalau gak! Ups..

Terus, salah gak sih punya perasaan seperti itu? Secara kita kan generasi Islam, generasi terbaik. Masak iya serapuh itu. Tapi kenyataannya emang ada sih perasaan-perasaan begitu. Terus gimana dong? Hiks!

Tenang, bukan Islam namanya kalau tidak menjawab tuntas setiap persoalan. Dear, wajar kok jika kita punya rasa bahagia, sedih, cinta, benci, takut, marah, suka, duka dan berbagai rasa lainnya terhadap sesuatu. Baik itu terhadap benda-benda, manusia, ataupun situasi dan kondisi tertentu.

Semua rasa yang ada ini adalah penampakan dari naluri yang Allah Swt. anugrahkan untuk kita. Naluri mempertahankan diri namanya atau biasa juga dikenal dengan gharizatul baqa. Jadi, setiap manusia pasti memiliki fitrah ini. Ingin dihargai, dikenal, dihormati, dipuji bahkan cendrung ingin menguasai adalah sesuatu yang manusiawi. Tidak ada yang salah sampai di sini.

Sebagaimana yang telah Allah Swt. isyaratkan dalam Alquran:

”Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakan binatang ternak untuk mereka yaitu sebagai bagian dari apa yang telah Kami ciptakan dengan kekuasaan kami sendiri, lalu mereka menguasainya?” (QS. Yaasin:71).

Nah, hanya saja kita juga harus ingat kembali. Bahwa adanya segala rasa tadi pasti akan mendorong kita untuk beramal atau beraktivitas. Ya, tentu dalam rangka mengekspresikan rasa yang ada. Dalam beramal inilah kita membutuhkan aturan. Tidak boleh bebas tanpa batas. Sebab kebebasan pasti akan membawa kita pada amal yang kebablasan dan berakhir pada kebinasaan. Ngeri, kan?!

Lantas aturan apa yang kita butuhkan? Aturan lalu lintas? Hem, aturan dari yang menciptakan kita dong, gais! Aturan yang tidak mungkin salah. Aturan yang pasti benar dan menyelamatkan. Yups, aturan Islam. Al Quran dan As Sunnah. Generasi terbaik memang tidak bisa jauh-jauh dari mukjizat ini, gais!

Ringkasnya, punya jiwa ngartis itu fitrah. Alaminya manusia memang suka jadi sorotan. Senang kalau diidolakan. Hanya saja, kita mesti teliti. Dalam hal apa kita ingin jadi idola dan dikenali? Ini penting, gais. Karena akan menentukan tempat kita di akhirat kelak. Yapz, generasi Islam emang kudu selalu mikir tentang tempat kembalinya. Surga atau neraka.

iklan buletin teman surga

Hitam Kelam Dunia Selebritis

Membludaknya peserta dalam setiap audisi ajang pencarian bakat setidaknya menunjukkan bahwa semakin banyak orang yang ingin uji talenta. Mengadu nasib, barangkali terpilih menjadi bintang yang dipuja. Sekadar eksis bahkan juga sebagai pendulang pundi-pundi materi tentu saja jadi alasan.

Tidak hanya melalui audisi, jagad sosial mediapun bisa menjadi corong untuk mengorbitkan siapa saja. Sama, terkenal di dunia dalam jaringan juga berpotensi mendatangkan ketenaran dan penghasilan. Ya, memang dua hal inilah kata kunci yang menjadikan gemerlap selebriti digandrungi.

Berbagai macam cara sanggup dilakukan demi mendulang popularitas. Macam-macam peran dan adegan tidak jadi soalan asalkan bisa menghantarkan pada puncak kemasyhuran. Meski harus melanggar aturan dari keyakinan yang dimiliki, tetap tidak peduli. Pokoknya klimis, eksis, jadi artis. Nastagfirullah!

Banyak pula kita saksikan konten-konten unfaedah bertebaran di televisi ataupun di jagad sosial media. Unjuk kesadisan, pamer kekayaan, bangga jadi pelaku perundungan, buka-bukaan pakaian, ekstrim-ekstriman gaya pacaran, alih peran laki-laki jadi perempuan atau perempuan jadi laki-laki alias transgender, dan segudang amoral lainnya merebak bak cendawan di musim hujan. Mengerikan!

Demi apa sih rela memutus urat malu dan nurani gitu?  Gak takut apa sama dosa? Hidup di dunia ini kan hanya sementara. Kita akan kembali menghadap kepada Allah Swt. dan mempertanggungjawabkan semua perbuatan kita. sekecil apapun itu. so, apa gunanya coba segala ketenaran dan harta benda jika hanya akan menyeret kita ke neraka. Ih, ogah ah!

Secara akal warasnya memang begitu, zheyeng. Tapi tidak bagi yang telah terpapar virus sekularisme dan liberalisme. Sekularisme menghembuskan sihir agar manusia memisahkan agama dari kehidupan. Liberalisme pula menaburkan racun kebebasan. Sehingga siapa saja yang mereguk dua virus ini, niscaya hanya gerlap dunia yang mereka cinta. Maka halal dan haram tidak akan lagi masuk dalam kamus kehidupannya. Lagi-lagi, yang hinggap dipikiran hanyalah menjadi kondang dan banyak uang. Titik!

Begitulah dunia selebritis. Alam yang memuja ketenaran. Sangat dekat dengan hitam dan kelamnya kehidupan. Karena memang dipisahkan dari aturan yang menyelamatkan. Dijauhkan dari cahaya kebenaran. Diasingkan dari rahmat Islam.

iklan buletin teman surga

Jadi Idola untuk Jalan Ke Surga

Katanya ingin jadi terkenal itu fitrah, gak salah. Tapi kok terkesan dibuat susah, sih? Benarnya seperti apa, dong?

Betul bahwa setiap manusia memiliki naluri mempertahankan diri. Ingin terkenal, ingin kaya, dan ingin-ingin yang lainnya. Ini semua memang dibolehkan dalam Islam. Tidak dilarang meraih ketenaran. Tidak diharamkan menjadi hartawan. Asal syarat dan ketentuanya dilaksanakan. Catat!

Jika bicara masalah ketenaran, siapakah kiranya yang lebih tenar dari Rasulullah Saw.? Pun, adakah tandingan jumlah follower dari Baginda Nabi Saw.? Baginda Nabi Saw. dikenal oleh seluruh penduduk bumi bahkan juga oleh penduduk langit. Pengikut Rasulullah Saw. tidak hanya hitungan jutaan, tapi milyaran. Ada lawan?

Begitu pula halnya dengan kekayaan. Rasulullah Saw. adalah orang yang selalu terdepan dalam mendermakan hartanya. Ada saja tujuan untuk menjadi tempat berderma baginya. Sedekah untuk fakir miskin. Bantuan untuk jihad fi sabilillah. Juga nafkah untuk keluarganya. Ini adalah pertanda bahwa Muhammad Saw. adalah manusia yang juga kaya akan harta.

Para sahabat Nabi Saw. juga tidak terhitung jumlahnya yang tenar dan berdinar. Bahkan keterkenalan mereka tidak sebatas hanya di masanya. Melainkan tembus hingga ke masa kita sekarang.

Abu Bakar As-Shidiq ra., Umar bin Khatab ra., Utsman bin Afan ra., dan Ali bin Abi Tholib ra. adalah sahabat yang selalu dikenang hingga sepanjang masa. Khalifaur rosyidin yang namanya selalu disebut dalam setiap pelaksanaan salat terawih. Bagaimana eloknya kepemimpinan mereka selepas meninggalnya Rasulullah Saw. juga selalu jadi perbincangan. Meninggalkan gemilang jejak peradaban Islam yang tidak akan pernah terlupakan.

Banyak pula sahabat Rasululla Saw. yang menjadi hartawan. Bahkan ketika memilih jalan hijrah dari Mekah ke Madinah tanpa membawa harta sekalipun, kekayaan tetap datang menghampirinya. Dialah Abdurrahman bin Auf ra. yang namanya juga masih kita kenal hingga saat ini. Tentu saja, bukan hanya Abdurrahman bun Auf ra. yang bergelar saudagar kaya, masih banyak yang lainnya.

Sungguh, faktanya menjadi idola dan berharta bukanlah keburukan dalam pandangan Islam. Sangat manusiawi dan sama sekali tidak dihalangi. Hanya saja, Islam memiliki aturan yang jelas dan rinci dalam hal ini.

”Tidak akan bergeser kedua kaki anak Adam di hari kiamat dari sisi Rabb-Nya, hingga ia ditanya tentang lima perkara (yaitu): tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa ia gunakan, tentang hartanya dari mana ia dapatkan dan kemana dibelanjakan, serta bagaimana ia mengamalkan ilmu yang dipunya.” (HR. AT-Tirmidzi, no. 2416)

Bagaimana, cukup jelas apa yang tersurat dalam hadist di atas? Inilah syarat dan ketentuan yang harus kita tunaikan dalam beramal apa saja. Ya, kita harus memastikan bahwa semua kata dan laku harus peroleh rida-Nya. Kenapa? Karena hidup kita tidak berhenti hanya di dunia. ada kehidupan lain yang kita kenal dengan keabadian. Itulah kehidupan akhirat di mana ada surga dan neraka di dalamnya. Kita tentu mengidamkan surga bukan? Karenanya hidup kita di dunia harus patuh pada syariat-Nya. Jelas, ya!

Maka, silahkan menjadi idola. Sangat boleh jika ingin kaya. Tapi pastikan bahwa semua itu bisa membawamu ke Surga. Caranya mudah. Jadilah idola yang semakin mendekatkan penggemarmu pada Allah Swt. Buatlah konten-konten penuh inspirasi sehingga membawa follower-mu ke jalan ketaatan. Bertakwa hanya pada Allah Swt. yang Maha Menciptakan.

Menjelmalah sebagai hartawan yang menjemput kaya dengan jalan halal. Kemudian tidak ragu berderma untuk kebangkitan Islam. Menyantuni fakir miskin, membiayai anak yatim,  berinfak untuk berbagai kegiatan dakwah, dan kegiatan syiar Islam lainnya. Jadi bukan justru hedon dan foya-foya. Pamer harta hanya  demi pujian dari manusia. Big no!

Intinya, lakukan semuanya demi Islam. Demi Allah Swt. dan Rasul-Nya. Bagaimana, siap menjadi idola untuk jalan menuju surga? Kuy![]

iklan buletin teman surga

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *