Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted on Mar 31, 2020 in Buletin Teman Surga, Headline | 0 comments

Buletin Teman Surga 107. Islam di Layar Lebar

Buletin Teman Surga 107. Islam di Layar Lebar

buletin teman surga 107. islam di layar lebarGaes, kalian sudah atau pernah nonton film-film islami ini: Hijab (2015), Ada Surga di Rumahmu (2015), Sang Kiai (2013), Sang Pencerah (2010 ), 99 Cahaya di Langit Eropa (2013), Ayat-Ayat Adinda (2015), Haji Backpacker (2014), Mencari Hilal (2015), Jilbab Traveler: Love Sparks in Korea (2016), Assalamualaikum Beijing (2014), Surga yang Tak Dirindukan (2015), Bulan Terbelah di Langit Amerika 2 (2016) ? Kalo belum pernah nonton berarti kamu emang bukan golongan Sufi alias suka film, hehe. Tapi bagi golongan sufi, film-film itu atau mungkin yang terbaru udah pada lahap ditonton abis.

iklan buletin teman surga

Selera Masyarakat atau Nilai Islam?

Film-film islami kayaknya emang gencar diproduksi akhir-akhir ini. Nggak tahu apa ini sebuah fenomena atau emang menangkap peluang pasar di saat ghirah keislaman masyarakat mulai naik. Sebagai sebuah contoh aja, saat di negeri ini lagi rame-ramenya aksi massa 212, lalu muncul inisiatif bikin film The Power of Love (212). Meski sempat mengalami kontroversi untuk ditayangkan di bioskop, tapi karena hanya menangkap fenomena aja, akhirnya film tersebut bisa dibilang nggak begitu booming, ketka semangat 212 mulai meredup, eh tapi lebih tepatnya diredupkan, hehehe…..

Sekedar contoh lagi, ada film yang tergolong film islami, diangkat dari buku yang ditulis oleh seorang Ustadz yang populer di kalangan Milenial “Udah Putusin Aja” lalu diangkat di layar lebar tahun 2018, tapi ternyata nongkrongnya di bioskop cuman seumur jagung. Pasti man-teman generasi Z, pada nggak tahu film itu, kecuali beberapa generasi milienial aja yang kebetulan fanatik film. Karena memang film itu dibuat setelah mengalami proses yang panjang. Penulisnya sendiri ngejelasin bahwa di film tersebut adegan-adegannya sudah disesuaikan. Tapi malah justru ketika disesuaikan dengan nilai-nilai Islam, malah filmnya kurang laku di pasaran.

Kalo bisa dibilang dua conto film di atas mewakili film yang kurang sesuai selera masyarakat. Tapi ada lagi satu film layar lebar juga yang man-teman ada yang belum pernah nonton film Alif Lam Mim. Film yang digawangi oleh Arie K Untung ini, konon emang dinilai ekstrim, karena ada penggambaran perang antar kebatilan dan kebenaran (Islam), apalagi dibumbui nilai-nilai jihad di dalamnya. Maka pantas aja, bukan nggak sesuai selera masyarakat tapi juga dinilai berbahaya bagi masyarakat yang jamaknya mengadopsi prinsip sekularisme.

Ya, di tengah masyarakat sekular kayak gini, emang si pembuat film dihadapkan antara idealisme ataukah selera masyarakat. Kalo pengin laku ya ngikutin selera pasar, dan menyedikitkan nilai-nilai Islam dalam filmnya, apalagi nilai-nilai yang dianggap masih ekstrim kayak nilai jihad. Sementara penonton yang mayoritas masih masyarakat sekuler, juga nggak begitu peduli dengan nilai-nilai Islam alias masa bodo, yang penting mah menghibur, itu kayaknya prinsip penonton.

Jadi, klop deh akhirnya film yang cukup laku, yang ada kurasan air matanya, ada melo bin bapernya, mirip film-film islami yang ditonton kakak atau mamak-mamak kita, kayak Surga yang Tak Dirindukan 1 dan 2, Ketika Cinta Bertasbih 1 dan 2, dan sejenisnya.

iklan buletin teman surga

Mereduksi Nilai Islam

Dulu di jamannya kakak-kakak kita, pernah ada film Ayat-Ayat Cinta. Bisa dibilang film Ayat-Ayat Cinta merupakan film islami pertama yang diangkat dari novel best seller karya Kang Abik. Sebagai film islami pertama, film tersebut bisa dibilang cukup berhasil menyita perhatian masyarakat kala itu, khususnya di bioskop. Waktu itu juga, masih jayanya jaman CD/VCD, sehingga di lapak-lapak mamang VCD di emperan, banyak juga dijual versi bajakannya.

Tapi sayang sejuta sayang, kalo film tersebut nggak sesuai karya aslinya di novel. Kang Abik, sebagai penulisnya waktu itu juga ngakuin, kalo di versi filmnya, ada beberapa part yang direduksi, dikompromi “sesuai selera” producer film. Ya, wajar sih kalo emang standarnya kapitalistik rupiah, buat nyari untung, maka pikirannya si producer film kudu ngelakuin hal kayak gitu. Dan sepertinya itu yang bakal berlaku di setiap film-film apapun, termasuk film yang kontennya islami.

Di film Sultan Agung misalnya, juga berlaku hal kayak gitu. Ustadz Salim A Fillah sebagai pemerhati sejarah Islam, pernah mengkritik keras sutradara film tersebut, karena menghilangkan bagian-bagian penting dari cerita asli tentang Sultan Agung. Tapi emang sih khusus sutradara satu ini mengantongi rapor merah kalo bikin film yang bernuansa Islam. Kayak udah jamak, hampir semua orang tahu kalo film-filmnya “agak miring” memposisikan Islam.

So, nggak abis pikir, kalo yang direduksi alias dihilangkan atau disesuaikan itu justru nilai-nilai Islam. Misalnya, dari si penulis buku atau penulis skenario maunya idealis banget ingin menampilkan nilai-nilai Islam, misal aja hijab syar’i, nggak pacaran dan sejenisnya. Tapi kalo si producer dan sutradara nggak menghendaki, ya bisa hilang nilai-nilai itu. Atau kalo pun ditampilkan aslinya, kayaknya bakal kurang laku di masyarakat, seperti film ‘Udah Putusin Aja’ yang kita ceritakan di atas tadi.

Itu artinya gini gaes, bahwa telah terjadi kapitalisasi agama. Maksudnya, para producer dan perangkatnya dengan sengaja ngangkat tema-tema Islami, karena mumpung lagi diminati masyarakat, tapi dengan tujuan tetap nyari sebongkah berlian dari situ. Sebenarnya sih sah-sah aja dari sisi nyari duitnya, tapi kalo sampe mereduksi atau sampe mau ganti nilai-nilai Islam dengan nilai-nilai selain Islam, liberalis misalnya, maka itu bukan lagi wajar, tapi kurang ajar. Berarti memang si pembuat film, ada misi di situ. Nah itu yang gaswat, kalewat-lewat!

iklan buletin teman surga

Bukan Islam Sesungguhnya

Satu sisi wajib kita syukuri, kalo sekarang film-film islami menghiasi layar lebar. Tapi di sisi yang lain, sepertinya kita masih harus bersabar kalo mau jadiin film, khususnya layar lebar sebagai tuntunan bagi masyarakat, belum seratus persen bisa. Karena dari sekian banyak film islami yang sudah ada, mungkin bisa dihitung dengan jari yang bisa benar-benar dibilang murni menyampaikan pesan Islam. Selalu ada bumbu-bumbu yang ingin ditambahkan, biar laku, biar meriah, biar menarik untuk ditonton masyarakat (yang sekular).

Contohny di film Sultan Agung, Ust Salim A Fillah menyampaikan  tulisanya di fanspage resmi beliau “di banyak bagian film harus menundukkan pandangan karena kostum para tokoh putri terlebih santriwati Padepokan Jejeran belum sesuai harapan, haha. Juga adegan-adegan masa remaja Raden Mas Rangsang dan gadis bernama Lembayung dari jalan mesra di pematang sawah hingga mandi di air terjun yang dijadikan sub alur utama cerita kan sesungguhnya tidak berdasar sejarah” Tuh kan ?!

Itu baru satu contoh film aja lho ya. Gimana kalo setiap film dibegituin? Bakal ambyar nilai-nilai Islam. Maka, sepertinya kita masih harus berpikir cukup panjang bin rumit kalo menjadikan film sebagai sebuah tuntunan. Karena selalu bakal berperang kepentingan antara hiburan atau nilai-nilai Islam yang sesungguhnya. Sehingga, dulu pernah ada seloroh bilang gini Tuh Rhoma Irama aja pacaran, di filmnya”. Meski nggak semua film Bang Haji isinya begitu, tapi itulah kesan dan pesan yang ditangkap masyarakat, sehingga akhirnya dijadikan prinsip sebagian dari mereka.

Maka bagi siapa aja yang ke depannya bikin film yang di dalamnya ada konten Islam, kudu memperhatikan hal kayak gitu. Trus, bagi penontonnya sendiri, nggak usah menjadikan film itu sebagai tuntunan hidup kita. Justru kalo ada dari konten film yang nggak sesuai dengan Islam, bertentangan dengan nilai Islam, maka kita kudu berani mengkritik dan menyampaikannya kepada masyarakat. Kalo pun ditonton, hanya sekedar hiburan, tapi kalo hiburan ternyata bertentangan dengan nilai-nilai Islam, ya nggak usah ditonton, Abaikan aja!

iklan buletin teman surga

Menggagas Film Dakwah?

Gimana kalo jadiin film layer lebar, sebagai wasilah atau sarana dakwah? Ya tentu saja boleh, tapi tentu aja dengan banyak catatan. Sekali lagi, karena mengingat mayoritas masyarakat kita masih sekuler. Memandang Islam hanya sebelah mata, Islam hanya dicukupkan pada ibadah ritual. Nah, kalo masyarakatnya masih begitu, trus filmnya kudu sesuai dengan selera masyarakat, maka bisa gaswat, nilai-nilai Islam yang mau kita dakwahkan jadi ikut tereduksi.

Urgent bin penting banget, yang utama Islam ini nggak bisa ditawar-tawar. Biar dikata, kita orang yang fundamentalis, atau orang yang kolot sekalipun, kalo itu Islam ya tetap harus kita pegang. Sebagaimana Rasulullah SAW sampaikan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi)

Seseorang nggak mungkin menggenggam bara api yang panas. Rasulullah ingin mengajarkan melalui hadits ini, mereka yang memiliki kesabaran yang ekstra di tengah kesulitan yang luar biasa itulah gambaran orang yang konsekuen dengan ajaran Islam saat ini. Tapi nantikan balasannya di sisi Allah yang luar biasa andai mau bersabar. Ingatlah janji Allah:

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az Zumar: 10).

Itulah hal prinsipil kalo mau menggagas film dakwah. Selanjutnya penting juga bagi para penggagasnya kudu paham Islam yang sesungguhnya, maksudnya harus memahami Islam yang kaffah. Kalo nggak paham-paham amat, maka yang terjadi, misalnya suatu adegan sudah dianggap Islami, tapi malah ternyata belum. Nah yang kayak gitu itu blunder. Ya blunder, bukan blender, hehee…

Blunder kalo film itu udah tayang di masyarakat, trus menganggapnya itu ajaran Islam yang sesungguhnya. Contoh aja misalnya, tentang ajaran jilbab dan kerudung, atau bahasa trendnya sekarang hijab. Nah, kalo para pemain, pemeran, apalagi kru sutradaranya memahami kalo celana panjang (legging) itu sebagai hijab, kerudung nggak menutup dada sebagai hijab, atau baju ketat (kaos) sebagai hijab. Maka film kayak gini kalo diproduksi dan abis itu tayang, apalagi sampe trending, waduh bisa gaswat blundernya bagi ajaran Islam tentang hijab. Padahal yang diajarkan oleh Islam, bukan begitu yang namanya jilbab dan kerudung (hijab).

Nah, itu contoh satu ajaran aja, gimana kalo semua nilai Islam yang dibawa oleh film, hampir selalu begitu ditampilkannya. Sehingga para pembuat film memang harus mau ngaji dulu Islam yang kaffah, baru bikin filmnya. Ngaji selain dapat ilmunya, juga bisa dapat pahalanya, kalo ikhlas. InsyaAllah kalo ngajinya ikhlas, memburu ridha Allah, itu yang bikin hati tenang, sehingga kalo ingin mengemas film jadi film dakwah, insyaAllah itu lebih berkah. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.[]

iklan buletin teman surga

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *