Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted on Apr 30, 2020 in Buletin Teman Surga, Headline | 0 comments

Buletin Teman Surga 111.The Power of Sastra Islam

Buletin Teman Surga 111.The Power of Sastra Islam

buletin teman surga 111. the power of sastra islamGaes, gimana kabar puasamu? Ini masih babak awal lho, kudu kuat sampe babak akhir Ramadhan ya! Oiya Gaes, ngomong-ngomong Ramadhan, kita jadi inget kalo Ramadhan selain bulan disyariatkannya puasa, juga disebut sebagai syahrul Qur’an alias bulannya al-Qur’an. Nah kaitannya dengan itu, boleh donk di edisi buletin kali ini kita akan ngebahas bahasa al-Qur’an sebagai bahasa Islam, wa bil khusus sastra Islam. Jadi, yuk siapin energimu untuk menyimak tulisan ini sampe selesai, menemani ngabuburit sambil baca buletin Teman Surga, ahay asoy bener!

iklan buletin teman surga

Ngulik Dikit Uniknya Sastra Arab

Ngomongin sejarah sastra Islam berarti nggak bisa dilepaskan dari bicara tentang Sastra Arab, kalo bicara sejarah arab, maka gak lepas juga pasti bicara peradaban Islam. Jadi, Gaes jauh sebelum Islam masuk ke jazirah Arab, orang Arab sudah mengenal yang namanya sastra, disebutnya sastra jahily. Orang Arab jahily, lihai banget kalo bikin syair-syair, bahkan syair kala itu dijadikan semacam kontes alias kebanggan. Para bangsawan atau hartawan Arab, kalo pas pesta biasanya ngundang para penyair, ya mirip kayak orang sekarang kalo pesta ngundang biduwan-biduwati, cuman bedanya para penyair itu bukan bernyanyi, apalagi sambil goyang, hehee… nggak gitu. Tapi para penyair itu masing-masing pamer syair-syair mereka yang terbaik.

Budaya kayak gitu, udah berlangsung berabad-abad di Arab. Tapi sebenarnya jauh sebelum itu, bahasa Arab udah dikenal sejak zaman Nabi Ismail bin Ibrahim alaihissalam. Konon, menurut beberapa pendapat ahli bahasa, kalo bahasa Nabi Adam juga bahasa Arab. Logis sih, karena Nabi Adam kan diciptakan dan tinggal di surga, sementara bahasa penduduk surga, dalam sebuah hadits disebutkan bahwa bahasanya adalah bahasa Arab. Heum…, memang sih itu masih perlu diuji kebenarannya, tapi seenggaknya benar adanya kalo bahasa Arab adalah bahasa tertua di dunia ini. Hal itu, cucok bangets dengan teori para ahli bahasa kalo bahasa bangsa-bangsa manusia di dunia ini membentuk rumpun-rumpun yang berasal dari satu kesatuan.

Keunikan yang lain, bahasa Arab wa bil khusus bahasa Islam (Qur’an) juga menjadi bahasa yang pernah mendunia, alias bahasa yang paling banyak dipake oleh manusia. Apa argumentasinya? Jelas dong, jejaknya bisa ditelusuri dari sejarah peradaban Islam yang berlangsung berabad-abad. Mulai dari Rasulullah diutus kemudian dilanjutkan oleh kekuasaan Khulafaur Rasyidin, lalu khalifah-khalifah setelahnya di masa bani Abasiyah, Umayah hingga bani Ustmaniyah di Turki. Dan itu berlangsung selama kurang lebih 13 abad, itu artinya bahasa Arab adalah bahasa yang paling banyak digunakan manusia sepanjang sejarah. Berarti itu mengalahkan posisi bahasa-bahasa lain di dunia. Misalnya, Bahasa Inggris, ternyata bukan bahasa yang paling banyak digunakan manusia pada saat ini. Bahasa yang paling banyak dipakai manusia hari ini katanya, bahasa Cina (Mandarin). Tapi kalo kita hitung masa berlakunya, bukan atau belum berlaku selama satu kurun waktu. Artinya, tetap aja bahasa Arab, bahasa yang paling banyak dipakai oleh manusia secara total.

Nah, berdasarkan argumentasi di atas, kayaknya bukan berlebihan kalo bahasa al-Qur’an, bahasa aslinya adalah bahasa Arab, selain memang argumentasi pokoknya karena Al-Qur’an diturunkan kepada Rasulullah SAW yang orang Arab. Sehingga, kita dapati hingga hari ini otentitas alias keaslian Al-Qur’an bisa kita pertanggungjawabkan, karena bahasa asli, tempat diturunkannya Al-Qur’an, yakni Arab tetap terjaga. Bangsanya tidak punah, dan bahasanya masih kita kenali dan pake sampe sekarang. Ajib kan, bahasa Arab?! 

iklan buletin teman surga

Kejayaan Sastra Islam

Sastra arab memasuki abad baru setelah masuknya Islam, setelah dikenalkannya bahasa al-Qur’an yang dibawa oleh al-Musthofa Rasulullah Muhammad Saw. Sontak, saat itu ada sebagian besar masyarakat jahiliyah, masih menyangkal kalo al-Qur’an itu nggak ada bedanya dengan syair-syair bikinan orang Arab, cuman bedanya al-Qur’an ini bikinan Muhammad, begitu pikir orang Arab jahilyah saat itu. Tapi argumentasi itu dibantah langsung oleh Allah, melalui firmannya.

“Muhammad tidaklah berbicara berdasarkan hawa nafsunya. Semua itu adalah wahyu yang disampaikan kepadanya.” (QS. an-Najm: 3 – 4)

“Akulah yang menurunkan al-Qur’an dan Aku sendiri yang akan menjaganya.” (QS. al-Hijr: 9).

Bahkan, kalo emang al-Qur’an itu bikinan manusia, ada tantangan dari Allah untuk bikin yang semisal al-Qur’an, tapi ternyata sampe sekarang tantangan itu nggak ada yang bisa.

“Katakanlah, “(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat yang dibuat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allâh, jika kamu memang orang-orang yang benar”. Jika mereka (yang kamu seru itu) tidak menerima seruanmu (ajakanmu) itu, maka ketahuilah, sesungguhnya al-Qur’ân itu diturunkan dengan ilmu Allâh, dan bahwasanya tidak ada Tuhan yang haq selain Dia, maka maukah kamu berserah diri (kepada Allah)?” (QS Hud:13-14)

“Jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang al-Qur’ân yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal al-Qur’ân itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allâh, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya), dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, (neraka itu) telah disediakan bagi orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 23-24)

Karena kedigdayaan bahasa al-Qur’an, pantas kalo akhirnya sejarah mencatat, sastra Islam berkembang pesat selama berabad-abad. Di masa kekhilafahan Islam berjaya, sastra mendapat perhatian yang amat besar dari para penguasa Muslim. Tak heran, bila di zaman itu muncul sastrawan Islam yang terkemuka dan berpengaruh. Sastra berkilau dan tumbuh menjadi primadona di era kekuasaan Daulah Abbasiyah–yang berkuasa di Baghdad pada abad ke-8 M, wa bil khusus, pada saat Khalifah Harun Ar-Rasyid dan puteranya Al-Ma’mun berkuasa. Di era itu, prosa Arab mulai menempati tempat yang terhormat dan berdampingan dengan puisi. Para sastrawan kala itu nggak cuman menyumbangkan kontribusi penting bagi perkembangan sastra di zamannya aja, tapi juga turut mempengaruhi perkembangan sastra di Eropa era Renaisans. Salah seorang ahli sastrawan yang melahirkan prosa-prosa jenius pada masa itu bernama Abu Uthman Umar bin Bahr al- Jahiz (776 M – 869 M).

Sementara itu, sastra dan ulama  memiliki keterkaitan  yang erat. Seperti udah disebutkan di atas, bahwa inti ajaran Islam ada di bahasa Arab, maka wajar saja jika para ulama saat itu, selain ahli di bidang tertentu, juga lihai dalam bahasa Arab. Sebut saja Imam Syafi’i, yang dengan kefasihannya dalam bersastra dan penguasaan ilmu alat dan tsaqofah Islam lainnya mengantarkannya menjadi mujtahid yang dikenang sepanjang masa. Kemudian ada pula Ibnu Malik, dengan karya al-Fiyah-nya yang jadi standar santri Nusantara dalam mempelajari al-Qur’an dan sunnah. Jauh sebelum itu, khalifah Ali bin Thalib saking pedulinya bahasa Arab, dan berkat pemikiran beliau yang visioner bahwa Islam suatu saat akan sampai nuh jauh di sana, jauh dari tempat beliau berada saat itu, di Arab, maka lahirlah ilmu nahwu-sorof. Sebuah cabang ilmu dasar yang kudu dipelajari bagi yang ingin bahasa Arab.

iklan buletin teman surga

Sastra Islam Mulai Ditinggalkan?

Belajar sastra Islam sebenarnya bukan soal mau kuliah atau nyantri di jurusan sastra Arab saja, tapi belajar sastra Arab erat kaitannya dengan bahasa kitab pedoman hidup kita, al-Qur’an. Sedih bangets, kalo generasi atau bahkan orang tua kita lebih khawatir anaknya nggak bisa bahasa Inggris atau bahasa Mandarin, daripada nggak paham bahasa Arab.  Padahal dengan kita paham bahasa Arab, kita bisa memahami al-Qur’an dan juga hadits yang merupakan bekal kita menjalani hidup ini, dan juga bekal buat berdakwah menyebarkan Islam. Sehingga bisa dikatakan bahwa menjaga sastra Islam sama aja menjaga Al-Quran.

Itulah sebabnya, nggak aneh kalo para ulama terdahulu begitu sangat luas pengetahuannya, karena mereka nggak cuman menguasai ilmu agama, tapi juga landasan ilmu agama itu sendiri, yakni bahasa sastra Arab.  Sastra disebut juga sebagai adab, kalo dalam keseharian, dikaitkan dengan kesopanan, kesantunan, atau dengan istilah kelembutan kata. Adab, juga untuk menilai sikap dan tingkah laku seseorang. Itu artinya, ekspresi dan ajaran Al-Qur’an merupakan bahan materi terpenting bagi seni/ sastra Islam.

Sehingga ketika berbicara Islam memang tidak selalu kaitannya dengan budaya Arab, tapi Islam itu turun di Arab dan berbahasa Arab itu benar. Kalo ada sebagian orang yang katanya anti Arab, boleh jadi dia nggak bisa bedain antara Arab sebagai budaya dengan Islam itu sendiri, yang spiritnya berasal dari al-Qur’an dan Sunnah itulah adab, itulah aturan.

“Dan demikianlah Kami telah menurunkan (Al-Quran) sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab. Sekiranya engkau mengikuti keinginan mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka tidak ada yang melindungi dan yang menolong engkau dari siksaan Allah.” (QS. Ar-Rad: 37)

Oleh karenanya, Al-Quran berbahasa arab, hadis juga berbahasa arab, lalu khazanah islam karya para ulama juga bahasanya bahasa arab, maka mau nggak mau kalo kita pengin memahami Islam lebih dalam, ya kudu belajar bahasa arab. Nggak heran kalo para sahabat aja, menekankan pentingnya umat Islam memahami bahasa arab. Umar bin Khatab Radhiyallahu ‘anhu pernah berpesan, “Pelajarilah bahasa arab, karena bahasa ini bagian dari agama kalian.” (Idhah al-Waqf, Ibnul Anbari, 1/31). Umar juga pernah memerintahkan gubernurnya, Abu Musa al-Asy’ari untuk mengajarkan bahasa arab kepada penduduk Iraq, “Pelajarilah sunah dan pelajarilah bahasa arab. Pahami al-Quran dengan bahasa arab. Karena kitab ini berbahasa arab.” (Mushannaf Ibn Abi Syaibah, 30534).

Gaes, udah saatnya kita membuktikan cinta kepada Islam dengan mempelajari bahasanya, yakni bahasa Arab. Kalo generasi hari ini mulai enggan, nggak tertarik belajar bahasa Arab, maka bisa dipastikan generasi akan datang, kalo nggak anti dengan Arab, paling mereka akan sesat dalam memahami Islam. Naudzubillah min dzalik. Jangan biarkan itu terjadi, Gaes! Maha benar Allah dengan salah satu firman-Nya berikut:

“Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” (QS Ibrahim: 4)

Wallahu’alam bi showab []

iklan buletin teman surga

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *