Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted on May 17, 2020 in Buletin Teman Surga, Headline | 0 comments

Buletin Teman Surga 113. Al Quran Di Dadaku, Dakwah Jalan Hidupku

Buletin Teman Surga 113. Al Quran Di Dadaku, Dakwah Jalan Hidupku

buletin teman surga 113. alquran didadaku dakwah jalan hidupkuRamadhan nggak cuman dikenal sebagai bulan puasa. Salah satu nama agung lain yang menempel pada bulan mulia ini kita kenal sebagai Bulan al-Quran. Lantaran pada pada bulan berkah ini Allah SWT menurunkan permulaan al-Quran pada malam nuzulul Qur’an.

Udah gitu, Allah SWT juga menjadikan malam turunnya al-Quran sebagai malam yang penuh berkah. Allah SWT berfirman:

Sungguh Kami menurunkan al-Quran pada suatu malam yang diberkahi. Sungguh Kamilah yang memberi peringatan (TQS ad-Dukhan [44]: 3).

Makanya, di malam nuzulul Qur’an kemarin banyak di antara kamu Muslimin yang mengkhususkan baca qur’an. Ada yang sendirian. Banyak juga yang barengan meski online. Terlebih lagi, baca Al-Quran itu banyak keutamaannya.

Sungguh orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah dan mendirikan shalat serta menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itulah yang mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi (TQS Fathir [35]: 29).

Nabi saw. juga bersabda:

Bacalah al-Quran karena sungguh pada Hari Kiamat ia akan menjadi syafaat bagi para pembacanya (HR Muslim).

iklan buletin teman surga

Al-Qur’an is Amazing!

Sebagai seorang muslim, kita dianjurkan untuk sering-sering baca Quran. Apalagi di bulan Ramadhan, ketika pahala kebaikan dilipatgandakan. Meski begitu, kita juga mesti paham kalo al-Quran bukan sekadar bacaan. Al-Quran itu kitab hukum yang berisi petunjuk kehidupan dan berbagai aturan yang bisa beresin berbagai masalah hidup manusia.

Sebagaimana ditegaskan oleh Allah swt dalam firman-Nya:

Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang haq dan yang batil) (TQS al-Baqarah [2]: 185).

Selama empat belas abad, kaum Muslim menjadikan al-Quran sebagai pedoman kehidupan. Hasilnya, kaum Muslim mencapai kejayaan. Islam tersebar ke hampir dua pertiga dunia. Kaum Muslim pun memimpin dunia berkat tunduk pada al-Quran. Kok bisa?

Gimana nggak, ketika hukum-hukum dalam al-Quran diterapkan oleh negara, keadilan dijunjung tinggi tanpa diskrimasi. Seperti diungkap oleh para ilmuwan Barat yang menyaksikan langsung keagungan hukum-hukum al-Quran. Simak, misalnya, komentar W.E. Hocking,

“Saya merasa benar dalam penegasan saya, bahwa al-Quran mengandung banyak prinsip yang dibutuhkan…Sungguh dapat dikatakan, hingga pertengahan Abad 13, Islamlah pembawa segala apa yang tumbuh yang dapat dibanggakan oleh Dunia Barat.” (The Spirit of World Politics, 1932, hlm. 461).

Prof. G. Margoliouth juga menulis,

“Penyelidikan telah menunjukkan bahwa yang diketahui oleh sarjana-sarjana Eropa tentang falsafah, astronomi, ilmu pasti dan ilmu pengetahuan semacam itu, selama beberapa abad sebelum Renaissance, secara garis besar datang dari buku-buku Latin yang berasal dari bahasa Arab. Al-Quranlah yang—walaupun tidak secara langsung—memberikan dorongan pertama untuk studi-studi itu di antara orang-orang Arab dan kawan-kawan mereka.” (Prof. G. Margoliouth, dalam De Karacht van den).

Masih banyak cendekiawan Barat yang secara jujur mengakui kehebatan al-Quran. Lantaran selain membahas tema akidah, ayat-ayat al-Quran juga menjelaskan hukum-hukum Allah SWT bagi umat manusia mulai dari hukum-hukum seputar ibadah, akhlak, rumah tangga, ekonomi hingga pemerintahan dan militer. Lengkap deh pokoknya.

Udah gitu, hukum-hukum yang dikandung dalam al-Quran itu terbaik bagi manusia. Dan pastinya, nggak ada yang bisa menandinginya. Apalagi hukum buatan manusia. Lewat. Sebagaimana ditegaskan dalam Firman-Nya:

Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (TQS al-Maidah [5]: 50).

Makanya penting bagi kita untuk selalu menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Biar gak tersesat di dunia dan tersiksa di akhirat.

Tidaklah patut bagi laki-laki Mukmin maupun perempuan Mukminat, jika Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan lain dalam urusan mereka. Siapa saja yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya sungguh dia telah sesat secara nyata (TQS al-Ahzab [33]: 36).

iklan buletin teman surga

Al-Qur’an di Dadaku

Sebagai generasi cinta Qur’an, udah seharusnya kita menjiwai dan mengamalkan Al-Qur’an.  Seperti para sahabat Rasul yang kuat aqidahnya, getol ibadahnya, dan mulia akhlaknya. Terlebih lagi, Aisyah ra pernah ditanya tentang akhlak Rasulullah saw, maka beliau pun menjawab, “Akhlak beliau adalah (melaksanakan seluruh yang ada dalam) Al-Qur`an”.  Inilah rahasia kemuliaan akhlak Rasulullah yang patut kita teladani biar hidup penuh arti.

Cara jitu meneladani akhlak Rasulullah saw itu dengan berpegang teguh pada warisannya. Sebagaimana diingatkan Rasulullah saw dalam sabdanya,

“Aku telah tinggalkan pada kalian dua perkara. Kalian tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.” (H.R. Malik)

Apa yang harus kita lakukan agar bisa meneladani Rasulullah sebagai wujud generasi cinta Qur’an?

Selain membaca al-Qur’an, tentu kita mesti mejadikan Al-Quran sebagai petunjuk hidup kita. Yang namanya petunjuk, harus dipelajari biar jalanin hidup nggak nabrak sana-sini.

Dari Usman bin Affan r.a. ia berkata, Rasullah Saw. bersabda:

“orang terbaik dari kamu ialah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya”. (HR al-Bukhari)

Mempelajari al-Qur’an tak hanya yang berkaitan dengan urusan ibadah saja ya. Tapi juga mencakup semua hal yang berhubungan dengan kehidupan kita. Termasuk di dalamnya solusi masalah ekonomi, politik, budaya, pendidikan, rumah tangga, hingga pemerintahan. Semua ada aturan main yang dijelaskan dalam Al-Qur’an.

Tentu untuk mempelajari itu semua, gak bisa sekali duduk langsung paham. Tapi perlu berkelanjutan. Rutin ikut pengajian bukan hanya cukup memfasihkan bacaan Qur’an. Tapi mengkaji kandungan hukum di dalamnya.

Selanjutnya, kita juga memaksakan diri untuk menjadi bagian dari para penghapal Qur’an. Tentu bukan untuk jago-jagoan. Atau ikut serta dalam pertunjukan. Tapi sebagai penguat keimanan. Seperti ditegaskan Rasulullah saw dalam sabdanya, “Sesungguhnya orang yang di dalam dadanya tidak ada sedikitpun dari Al Qur’an maka ia bagaikan rumah yang kosong.” (HR. Tirmidzi

Asyiknya lagi, kalo kita rajin menghapal al-Quran, Allah swt akan mengangkat derajat kita nanti di akhirat. Seperti disebutkan di dalam hadits yang artinya,

“Perumpamaan orang yang membaca Al-Quran sementara dia telah menghafalkannya. Maka bersama para malaikat yang mulia. Dan perumpamaan yang membaca dalam kondisi berusaha keras (belajar membacanya) maka dia mendapatkan dua pahala.” (HR Bukhari dan Muslim).

Kalo sudah dipelajari dan paham, Al-quran akan menyelamatkan kehidupan kita ketika diamalkan. Untuk pribadi, masyarakat, dan negara. Allah swt berfirman,

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaha: 124).

Selagi masih diberi kesempatan menjalani Ramadhan, manfaatkan untuk lebih dekat dengan Al-Quran. Hingga kita bangga menjadi generasi pecinta Qur’an. Dan berani katakan, ‘Al-Quran di dadaku!’

iklan buletin teman surga

Cinta Qur’an Cinta Dakwah

Jangan egois. Mempelajari al-Quran tak hanya untuk perbaiki diri sendiri, tapi untuk kebaikan bersama.

“sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya” (HR. Al Bukhari 4639).

Dan yang nggak kalah pentingnya, generasi cinta quran itu aktif berdakwah. Al-Quran bukan sekedar bacaan yang mengisi waktu-waktu luang kita dengan tadarusan. Al-Quran juga bukan buku mata pelajaran yang mati-matian kita hafalkan biar bisa menang dalam perlombaan. Al-Quran adalah solusi bagi permasalahan umat. Dari masalah kendornya akidah, keroposnya keimanan, galau tingkat dewa, hingga urusan politik yang nggak ada habisnya.

Dengan aktif berdakwah, kita tak sekedar hafal al-Quran. Tapi juga paham maknanya serta hukum-hukum Islam yang terkandung di dalamnya. Jadi lebih lengket hafalannya. Terlebih lagi, kita nggak akan berdiam diri ketika al-Quran dilecehkan. Pantang menyerah, berjuang agar syariah Islam diterapkan dalam keseharian dan juga urusan kenegaraan.

Dakwah juga merupakan bentuk kecintaan kita pada Nabi dan Rasul saw. Karena inilah jalan kemuliaan yang mereka tempuh dalam menyebarkan agama Allah swt.

“Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS. Yusuf:108)

Tentang Nabi Nuh as, Allah mengisahkan kesibukan beliau yang tak kenal henti dalam menjalankan tugas berdakwah siang dan malam:

Nuh berkata: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah mendakwahi (menyeru) kaumku malam dan siang. (Nuh (71): 5).

Begitu juga dengan aktifitas dakwah yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim as, Musa as, atau Isa as. Semuanya Allah swt kisahkan dalam Al-Qur’an. Itu artinya, siapa saja yang mengimani Nabi dan Rasul, sudah semestinya terlibat dalam aktifitas dakwah.

Dakwah juga menjadi ladang pahala bagi kita sebagai bekal di akhirat nanti karena termasuk amal terbaik dalam menyebarkan Islam.

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang berdakwah (menyeru) kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (Fushilat (41): 33).

Sayyid Quthb rahimahullah berkata dalam Fi Zhilal Al-Quran:

“Sesungguhnya kalimat dakwah adalah kalimat terbaik yang diucapkan di bumi ini, ia naik ke langit di depan kalimat-kalimat baik lainnya. Akan tetapi ia harus disertai dengan amal shalih yang membenarkannya, dan disertai penyerahan diri kepada Allah sehingga tidak ada penonjolan diri di dalamnya. Dengan demikian jadilah dakwah ini murni untuk Allah, tidak ada kepentingan bagi seorang da’i kecuali menyampaikan.  Setelah itu tidak pantas kalimat seorang da’i kita sikapi dengan berpaling, adab yang buruk, atau pengingkaran. Karena seorang da’i datang dan maju membawa kebaikan, sehingga ia berada dalam kedudukan yang amat tinggi…” (Fi Zhilal Al-Quran 6/295).

Semoga kita termasuk orang-orang yang diteguhkan dan dimudahkan oleh Allah untuk menjadi generasi cinta quran. Sehingga menjadi bagian dari generasi yang berani menyampaikan kebenaran dan pemimpin kebangkitan Islam di masa depan. Allahu akbar![]

iklan buletin teman surga

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *