Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted on May 20, 2020 in Buletin Teman Surga, Headline | 0 comments

Buletin Teman Surga 114. Siap-siap ’Mudik’ Gaes

Buletin Teman Surga 114. Siap-siap ’Mudik’ Gaes

buletin teman surga 114. siap-siap mudik gaesCung, siapa yang udah nunggu-nunggu lebaran? Gimana perasaannya?  Hem, dilema sih ya kalau udah masuk sepuluh terakhir Ramadhan gini. Ada bahagia, sebab sesaat lagi berjumpa dengan hari yang fitri. Bersua dengan sanak saudara. Merajut dan merekatkan silahturahmi. Indah dan sangat dirindukan momen begini.

Namun, di sudut hati yang lain juga teronggok kesedihan. Sedih, karena bulan yang mulia akan segera pergi. Butuh waktu sebelas bulan lagi untuk berjumpa dengannya. Itupun jika masih ada usia. Jika tidak lagi bernyawa? Ya, fix Ramadhan ini adalah Ramadhan terakhir bagi kita. nyesek enggak, sih? Auto mewek deh kalau udah ngomongin perpisahan kayak gini. Hiks!

Enggak cukup mewek sih sebenarnya, Gaes! Kita juga kudu berjuang lebih untuk istikomah berada di jalan ketaatan, yes! Jadi, meski nantinya Ramadhan telah berlalu, iman kita tetap full seratus persen hingga kembali berjumpa Ramadhan berikutnya. Bahkan jikapun harus menyambut kematian yang lebih dulu menyapa, Insyaallah kita siap, ya! Semoga,  kapanpun kita dipinang ajal, kondisinya dalam kebaikan. Amin!

iklan buletin teman surga

Mudik, Tradisi Asyik!

Udahan dulu deh melow-melownya. Kita ganti topik yang bikin happy dulu, ya. coba tebak, kalau ingat lebaran biasanya auto ingat apa? Yapz, selain aneka kue, sirup, dan baju baru, momentum lebaran juga identik dengan mudik. Istilahnya, lebaran tanpa mudik itu bagaikan makan sate tapi gak ada daging tusuknya. Coba, gimana tuh? Ambyar, Gaes! Hehehe!

Seberapa greget sih momen mudik? Coba deh cari berita di sosial media yang meliput pergerakan sosial setiap menjelang lebaran dari tahun ke tahun. Akan kita dapati antusias yang luar biasa dari banyak orang untuk menempuh jalan panjang demi mudik. Bahkan saat masa-masa pandemi sekarang inipun, ribuan orang tetap berbondong-bondong  untuk merealisasikan prosesi tahunan bernama mudik. Warbiasa ya, Gaes!

Kalau sudah bicara soal mudik, ada enggak ada bekal, bakal diupayakan. Jauh-jauh hari sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Kesehatan fisik, harta, oleh-oleh, baju yang dipakai dan dibawa, sendal, sepatu, semuanya sudah rapi di daftar persiapan untuk mudik. Tidak boleh ada yang tertinggal. Pokoknya mateng semateng-matengnya deh persiapannya. Sehingga saat waktunya tiba, tinggal cuss, berangkat!

Begitulah aktivitas mudik di momen lebaran. Unik memang, dan juga asyik tentunya. Raga yang terpisah jarak, rindu yang menunggu hingga menggebu, terbayar tunai saat pulang dari perantaun menuju kampung halaman. Berjumpa orang tua, sanak saudara, keluarga, juga sahaba-sahabat lama. Bercengkrama, mengulang-ulang cerita masa lampau hingga berbual soal masa depan yang tengah diperjuangkan. Semuanya terluah di momen ini. Ada cinta, asa, harapan, dan kerinduan dalam setiap langkah menuju pulang. Sesukses apapun kita di perantauan, tetap ada alasan untuk merindukan mudik, pulang ke kampung halaman.

iklan buletin teman surga

Apa Kabar Bekal Mudik ke Kampung Akhirat?

Gaes, udah nyadar belum kalau ternyata setiap kita adalah perantau di muka bumi ini? pada masanya kita akan kembali ke “kampung halaman”. Ya, kita bakalan mudik hakiki. Mudik, kembali ke sisi Allah Swt.

Pernah dengar hadist Rasulullah Saw. tentang posisi manusia di dunia, kan? Ya, manusia itu asing di dunia ini. sebab dunia bukanlah kampung halaman baginya. Dalam hadist yang lain, Rasulullah Saw juga menggambarkan, bahwa perumpaan antara kita dan dunia itu adalah ibarat kita sedang berjalan dan kemudian berteduh di sebuah pohon. Berteduh itu tentu tidak akan selamanya, bahkan hanya sebentar saja. Kemudian kita akan kembali bangkit, meninggalkan pohon, dan melanjutkan perjalanan menuju pulang.

Memang hanya sesingkat itu hidup kita di dunia ini, Gaes. Jadi sebenarnya, waktu kita sangat berharga jika hanya dihabiskan untuk bersenda gurau dan main-main belaka. Waktu terus berjalan, senja segera datang, gelappun akan menjelang, namun perbekalan belum juga dipersiapkan. Yakin siap menempuh jalan pulang?

Dear, jika untuk mudik yang masih di sekitaran bumi saja banyak bekal yang sudah kita siapkan, lantas apa kabar bekal untuk menuju pada mudik yang sesungguhnya? Jangan-jagan belum kepikiran sama sekali? Hemm, atau sudah kemakan sama jargon-jargon liberal yang mendewakan kebebasan sehingga merasa kehidupan akhirat hanya dongeng semata?

”Yaelah, dalem banget mikirnya. Gue masih muda, keles! Plus, sehat bugar, no meriang-meriang! Santuy, lah!”

Nah, ini nih salah satu indikator seseorang itu jadi korban keganasan liberalisme. Santuy tanpa pernah merenung bahwa mati itu enggak harus tua dulu. Bahwa sakit itu bukan syarat ajal datang menjemput. Bangun, Gaes! Jangan kebanyakan halu!

Kita mesti tahu diri bahwa kehidupan dunia ini tidak untuk kita miliki. Semua yang ada di dunia itu fana. Apapun yang ada di dalamnya akan hancur, meninggalkan atau ditinggalkan. Tidak ada yang abadi.

Jadi, kuy kita pikir! Jika dunia sementara, akhirat selamanya, lantas apa yang harus kita lakukan agar peroleh bekal yang cukup? Sehingga kita selamat di perjalanan (dunia) hingga sampai ke tujuan (akhirat).

iklan buletin teman surga

Bekal Mudik Ke Kampung Akhirat

Jika sudah jelas bagi kita bahwa mudik ke akhirat adalah sebuah keniscayaan, maka selanjutnya kita harus menentukan pilihan. Bener! Karena di akhirat kelak akan ada dua tempat kembali, maka kita wajib bin kudu memilih salah satunya sedari sekarang. Surga atau neraka, kamu pilih yang mana?

”Surga!”

Yes, kita samaan. Alhamdulilla! Fix ya, kita sama-sama milih surga sebagai tempat pulang. Berikutnya, kita tidak boleh pura-pura lugu. Tahu kan, keinginan tanpa usaha itu adalah halu? So, jika memang memilih surga maka harus ada upaya yang layak untuk menggapainya. Bener kan, ya? Betul!

Lalu gimana sih upaya yang benar untuk dapat bekal ke Surga? Caranya mudah, kok. Siapa saja pasti bisa ngejalaninnya. Cuma butuh kemauan aja. Kamu, punya kemauan ke surga kan? Pastikan kamu juga punya kemauan untuk mengupayakannya. Semangat!

Beramal saleh, inilah cara bagi kita memunguti pahala yang akan menjadi bekal kita menuju surga. Ingat, amal saleh! Bukan amal salah, yes! Amal saleh ini bisa terwujud ketika syarat dan ketentuannya kita penuhi. Apa sajakah itu?

Pertama adalah niat. Pasang baik-baik niat kita dalam setiap beramal. Salat, puasa, makan, minum, jalan-jalan, menutup aurat, berbakti pada orang tua, sedekah, belajar sungguh-sungguh, dan seabrek amal lainnya harus diawali dengan niat. Pastikan bahwa niat kita dalam melakukan amal itu, apapun amalnya, semata-mata ikhlas hanya karena Allah Swt. Tandai nih, Gaes!

So, memasang niat ini berlaku bukan hanya untuk ibadah yang sifatnya ritual saja ya, Gaes. Melainkan untuk seluruh amalan kita, sekecil apapun itu. Dari mulai soal bangun tidur hingga bangun negara.  Soal masuk WC sampai masuk Surga. Semuanya harus berdasarkan niat yang benar. Yapz, niatkan hanya karena Allah Swt. bukan yang lainnya.

Kedua, selain niat, kita juga harus perhatikan tata cara dalam beramal. Tidak boleh asal-asalan, setiap amal yang kita lakukan kudu sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw., ya Gaes! Cara yang pasti benar, cara yang sesuai syariat Islam, berlandas Al Qur’an dan As Sunnah. Cakep!

Dua S&K inilah yang harus kita perhatikan dalam setiap melakukan berbagai amalan. Yapz, niat dan cara dalam beramal. Jika setiap amal disandarkan pada S&K yang semestinya, maka amal-amal kita akan bernilai saleh. Amal saleh pasti berbuah pahala. Pahala akan menjadi bekal kita menuju ke Surga. Begitu alurnya, Gaes! Gampang, kan? Pasti bisa!

”Gila aja! Secara syariat Islam itu kan luas banget, Ndro! Bagaimana bisa setiap jengkal amal Gue kudu sesuai sama syariat? Halu banget ini mah!”

Hey, mental pejuang mah optimis yang dikedepankan. Lagian ya, ketika Allah Swt. sudah mewajibkan sesuatu kepada hamba-Nya, itu tu udah pasti dijamin lulus sensor, loh! Alias, Allah Swt. sudah ngukur-ngukur kapasitas kemampuan kita  (sebagai manusia) sehingga klop dengan syariat yang diperintahkan-Nya. Dear, Allah itu enggak pernah dzalim, kok. Allah dekat dan selalu ada untuk hamba-hamba yang menuju kepada-Nya. So sweet, kan?!

Perkara kita belum cukup ilmu, ini lain soal. Bukan untuk jadi alasan buat mundur dan nyerah. Sebaliknya, ketidaktahuan inilah yang semestinya menjadi cambuk bagi kita untuk terus haus ilmu. Belajar lagi! Belajar terus! Belajar tanpa henti! Ngaji, ngaji, ngaji! Ngaji Islam kaffah, begini solusi benarnya, Gaes!

Itulah mengapa, menuntut ilmu agama menjadi kewajiban bagi setiap individu muslim. Ya, karena tanpa ilmu, kita akan hidup dalam kegelapan. Terus maju tanpa tahu arah jalan. Inilah sesungguhnya yang pantas disebut halu.

Gimana, sudah ada bayangan untung ngumpulin bekal mudik ke akhirat? Mumpung masih ada waktu, kesehatan, usia muda, dan kesempatan, manfaatkan! Gas pol dalam ketaatan. Karena kita tidak pernah tahu, di detik kapan kita akan kembali pulang. Karenanya, persiapan bekal harus sudah mulai dari sekarang. Tidak nanti ataupun besok, harus sekarang! Percayalah, waktu berteduh kita tidak akan lama. Hanya sebentar saja. Jangan terlena, ya! Kuy, bersegera ambil peran dalam ketaatan![]

iklan buletin teman surga

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *