Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted on May 29, 2020 in Buletin Teman Surga, Headline | 0 comments

Buletin Teman Surga 115. Everyday is Ramadhan

Buletin Teman Surga 115. Everyday is Ramadhan

buletin teman surga 115. everyday is ramadhanDi sini ada yang sedih ditinggalin sama Ramadhan? Atau jangan-jangan malah ada yang sumringah begitu Ramadhan kelar? Tapi apapun itu ekspresimu paska Ramadhan, yang jelas Ramadhan udah kelar, dan apakah kita bener-bener dapat buah dari puasa Ramadhan? Tahu kan buah puasa Ramadhan adalah ketakwaan? Nah, indikasi kita emang dapat buah tersebut, justru bisa diliat hasilnya pas selesai Ramadhan. Jadi tanda takwa itu bukan baju baru melainkan iman dan takwa yang makin kuat, sebagaimana bunyi pepatah Arab, “Laisal ied liman labisal jadid, Innamal ied liman tha’atuhu yazid” . Idul fitri bukan untuk orang yang berpakaian baru, sesungguhnya idul fitri adalah untuk orang yang ketaatannya (kepada Allah dan Rasul) bertambah.

iklan buletin teman surga

Ketakwaan Itu Everytime

Rasulullah saw bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Mas’ud Al-Ghifari:

“Kalau hamba-hamba Allah SWT mengetahui balasan dan keutamaan Ramadhan, maka umatku pasti akan berharap agar sepanjang tahun menjadi Ramdahan”. (HR. Tabrani, Ibnu Khuzaimah dan Baihaqi).

Hadits di atas ngasih pemahaman kepada kita bahwa Ramadhan memang bulan yang istimewa, saking istimewanya kalo bisa di setiap bulan dijadikan Ramadhan. Karena hanya di bulan Ramadhan pahala bisa berkali-kali lipat digandakan, pun dengan puasa wajib hanya ada di bulan Ramadhan. Nah, semuanya itu lalu di-closing dengan predikat takwa. Sebagaimana Allah SWT sampaikan “La‘allakum tattaqūn”, (QS. 2:183)

Predikat “taqwa” paska Ramadhan bukan sekedar gelar, melainkan predikat itu selevel dengan “prestasi”. Namanya aja prestasi, persis kayak kita sekolah, bahwa untuk bisa dapat prestasi, kita butuh belajar yang cerdas dan keras, sehingga prestasi cuman bisa didapatkan kalo kita benar-benar fighting, serius selama Ramadhan. Kalo selama Ramadhan kemarin kita leloyoan, malas-malasan kayaknya nggak bisa bawa prestasi taqwa. Nah, tanda ataupun ujian taqwa itu hadir di bulan setelah Ramadhan, seperti saat ini.

Walaupun pesan taqwa hampir tiap hari kita dengar, utamanya buat cowok kalo sholat jumat, khatib selalu mengingatkan pesan taqwa. Artinya, taqwa itu ada dan kita butuhkan setiap hari, setiap waktu, sebab dengan taqwa itulah, aktivitas kita terkontrol. Arti taqwa secara gampangnya diartikan, melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Maka label taqwa itu bukan cuman milik Ramadhan, tapi harus jadi milik kita sehari-hari. Cuman memang di saat Ramadhan, pesan taqwa itu menguat.

Sehingga wajar dong, kalo kita mau ngeliat hasil tempaan Ramadhan dengan sikap taqwa kita setiap hari paska Ramadhan. Kalo setelah Ramadhan, kita malah loyo ibadah wajibnya, nggak semangat ibadah sunnahnya, itu bisa jadi indikasi bahwa selama Ramadhan kemarin kita ngejalanin Ramadhan hanya sekedar rutinitas. Trus, apa yang bisa kita nilai kalo Ramadhan kita kemarin berhasil?

Pertama, meninggalkan bekas. Silahkan diperhatikan aja, kalo selesai Ramadhan, tapi ritme ibadah kita itu bisa kita jaga, tidak kembali ke habits semula, bisa jadi salah satu tanda kita membawa bekas Ramadhan. Jangan saat Ramadhan aja sholehnya, atau yang sebelumnya tobat, jangan hanya tobat tomat, tobat untuk kumat. Sebagai bekas Ramadhan, maka ketakwaan itu kita harus bawa setiap hari, setiap waktu, dan di setiap tempat.

Kedua, puasa tidak dianggap sebagai belenggu. Di dalam puasa kita memang berkutat dengan rasa lapar, haus, lemas, ngantuk, pusing, dan seabreg hal-hal remeh lainnya. Seakan-akan itu jadi belenggu yang bikin kita tidak produktif. Tanda yang lebh kentara banget kita menganggap puasa lebih mirip belenggu adalah saat Idul Fitri tiba, kita pun bersorak seolah terbebas dari masa penderitaan. Nah, yang kayak gitu, kayaknya kalo disuruh nambah puasa lagi 6 hari bulan Syawal, bakalan berat. Maka, jangan pernah mendudukkan kewajiban sebagai sebuah belenggu atau beban, tapi sebuah kewajiban yang kita harus menyambutnya dengan gembira, karena kalo kita berhasil, pahalanya Jannah.

iklan buletin teman surga

Habits Paska Ramadhan

Gaes, sekali lagi ya jangan sampe kita memposisikan hal yang wajib, kayak puasa Ramadhan, sebagai sebuah beban. Lalu, pertanyaanya “Kenapa sih koq bisa ya kita bersikap begitu?” Alasannya: (1) Kita sudah terbiasa menganggap bahwa pelajaran, pekerjaan, puasa dan semacamnya sebagai sebuah ‘ancaman’ yang mengintimidasi hari-hari kita; (2) Kita terbiasa hidup dengan santai, jadi seakan-akan pelajaran, pekerjaan itu adalah momok yang mencekam waktu-waktu kita selama ini; (3) Kita lebih terbiasa suka memikirkan senangnya dulu, daripada susahnya; (4) Kita terbiasa memikirkan hasilnya daripada prosesnya.

Begitulah, kalo sesuatu itu sudah sering kita lakukan akan menjadi habits (kebiasaan). Tapi man-teman harus sadar bahwa kebiasaan (habits)  itu dibentuk atau ada yang lebih mendasar yang mengontrol habits kita. Apa itu? Dialah mindset, yups pola pikir. Persis seperti yang diuraikan oleh Syekh Taqiyudin An-Nabhani dalam kitab Nidzamul Islam (Peraturan Hidup Dalam Islam) di bab Thariqul Iman, bahwa manusia itu berubah karena pemikirannya (mindset). Berikutnya, pemikiran itulah yang mengendalikan perbuatan seseorang. Pakem ini berlaku pada semua aktivitas, termasuk dalam hal ini habits kita tentang puasa Ramadhan.

Nah, pertanyaan buat kita semua, apakah Ramadhan kemarin membekas, sehingga mengubah mindset dan habits kita hari-hari paska Ramadhan? Jika belum, maka ada yang tidak beres dengan puasa yang kita lakukan kemarin. Tentu saja harapannya, bulan syawal ini, yang kebetulan masih dalam suasana pendemi corona, tentunya nggak boleh kita sia-siakan. Artinya, meskipun syawal ini kita masih harus bertemu dengan pendemi bukan malah menjadi aktivitas wasting time.

Cuman sekali lagi, ini soal mindset kita dalam memandang hidup. Kalo kita menganggap hidup di dunia ini seperti penjara, sementara pelajaran, pekerjaan, tugas, puasa adalah momok yang menghantui hari-hari kita, itu artinya telah terjadi kesalahan dalam kita memandang hidup. Jika dalam benak kita masih bersarang pemikiran seperti itu, maka harus digeser, diganti, harus ada view of life yang benar, tuntas dan mencerahkan. Pertanyaan tentang “dari mana diri kita, untuk apa kita diciptakan, dan ke mana setelah mati”, adalah sederet pertanyaan yang harus dijawab dengan benar, tuntas dan mencerahkan, agar kita bisa menemukan view of life yang benar.

Sehingga, jika kita masih menganggap puasa, qiyamul lail, baca Qur’an sebagai belenggu, maka itu akan jadi mindset kita, yang akan menjadi momok di setiap hari-hari kita. Selanjutnya, jika terjadi pembiaran maka pemikiran semacam itu, akan menjadi habits kita yang membuat aktivitas kita menjadi tidak produktif, sehingga tidak akan membekas, dan tentu aja jauh dari pahala.

iklan buletin teman surga

How Next?

Good, kalo akhirnya setelah ini, kita sadari bahwa mindset dan habits kita selama ini salah, maka selanjutnya adalah mengganti dengan mindset dan habits yang benar. Caranya?

Pertama: Sadarilah bahwa amalan seperti puasa atau sejenisnya, sebagai sebuah ibadah, dimana ibadah adalah salah satu ‘jembatan’ seorang hamba untuk bisa bersyukur kepada al-Khaliq (Sang Pencipta). Artinya, mulai detik ini kita harus memposisikan diri dengan benar bahwa kita ini hamba yang punya kewajiban untuk beribadah (QS. Ad-Dzariyat 56), sehingga ada idrak sillah billah (kesadaran hubungan diri kita dengan Allah).

Kedua: Puasa Ramadhan telah berlalu, cukup sudah rasa menyesalnya jika kemarin kita tidak optimal memanfaatkan Ramadhan. Sebagai gantinya, bulan-bulan setelah Ramadhan, ibadahnya harus makin ditingkatkan. Puasa syawalnya harus dikerjakan, jangan sampe ada yang kelewat selama 6 hari. Lalu kebiasaan qiyamul lail, seperti Tahajud tidak boleh ditinggalkan begitu saja, lakukan dan jadikan habits di setiap hari sebelum sholat subuh. Kemudian baca Qur’an setelah Ramadhan masih harus terus dikerjakan. Kalo ibadah-ibadah itu kita tetap kerjakan, suasana Ramadhan masih tetap akan kita dapatkan, meski Ramadhan telah usai.

Ketiga: Tanamkan dalam benak kita di setiap ibadah yang kita kerjakan bahwa ibadah ini adalah ibadah terakhir buat kita, sehingga kita bisa khusu’, tawadhu’, tu’maminah menjalaninya. Kalo kita pengin ibadah kita khusuk dan dicatat oleh Allah sebagai amal shalih, maka sekaligus akan mendorong kita untuk mencari tahu ilmu seputar ibadah kita agar lebih bermakna. Sehingga kalo pun toh, akhirnya Allah masih memperpanjang usia kita setelah Ramadhan kali ini, paling nggak kita sudah mendapat ilmunya untuk memperbaiki kualitas ibadah kita.

iklan buletin teman surga

Jangan Kasih Kendor

Gaes, hari-hari ini sepertinya kita masih bertemu dengan liburan di rumah. Berlibur itu memang kadang kita perlukan. Nggak mungkin juga, seminggu 7 hari, sebulan 30 hari, setahun 365 hari full belajar dan bekerja terus. Memang nanti akan ada waktu istirahatnya. Kapan? Kalo pertanyaan “kapan” itu dibandingkan dengan akhirat, maka dunia adalah tempat bercocok tanam, dan akhirat tempat menuai.

Kalo pertanyaan “kapan istirahatnya” itu dikaitkan dengan jam sehari kita di dunia, maka Allah sudah memberi kita waktu istirahat di malam hari. Kalo pertanyaan “kapan istirahatnya” itu dikaitkan dengan prestasi dan produktifitas, maka sebagai seorang muslim sejatinya nggak kenal liburan, coz produktifitas tak kenal hari, terus update. Bahkan seorang Imam Nawawi salah seorang ulama pengarang kitab Riyadus Shalihin, karena saking konsennya para produktifitas ilmu, sampe belum sempat menikah hingga meninggalnya.

Libur di rumah bukan jadwal untuk nambah jam tidur kita, meskipun tidur itu kadang kita perlukan, tapi tidak tidurnya kita karena melakukan amal shalih tentu akan berpahala. Maka biar nggak kendor semangat Ramadhan kita, yuk ikuti kajian Islam. Kalo kita nggak bisa ngadain kajian Islam, nggak ada salahnya kita ikuti kajian Islam yang sudah ada. Sekali lagi bukan hanya sekedar membunuh waktu, tapi demi memperdalam tsaqofah kita.

Kemudian, dijadikan libur di rumah paska Ramadhan, sebagai momentum untuk menumbuhkan habits baru, misalnya membaca. Tentu nggak sekedar membaca, tapi membaca yang tertarget, misalnya target tiap hari membaca 3 halaman setiap habis subuh. Lalu, kita bisa manfaatkan liburan di rumah untuk melatih atau memperdalam skill kita, misalnya skill menulis, skill retorika, dan sebagainya.

So, justru mumpung ketemu liburan, jangan kasih kendor aktivitas ibadahmu. Harusnya abis Ramadhan dan di saat liburan gini, dipake buat nambah tsaqofah, upgrade syakhsiyah, nabung amalan sunnah.  Jangan malah loyo, membunuh kreatifitas dan produktifitas kita. Catet itu ![]

iklan buletin teman surga

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *