Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted on Jun 11, 2020 in Buletin Teman Surga, Headline | 0 comments

Buletin Teman Surga 117. Kun Anta Ciptakan Sejarahmu!

Buletin Teman Surga 117. Kun Anta Ciptakan Sejarahmu!

buletin teman surga 116. kun anta ciptakan sejarahmuGeregetan. Kalo ngeliat remaja muslim malu-malu nunjukin identitasnya. Gak pede tampil sebagai seorang muslim apa adanya. Sibuk bikin pencitraan biar dianggap gaul tapi perilaku amburadul. Tebar pesona di sosial media sampai lupa jaga harga dirinya. Ngenes!

Ketika lingkungan jauh dari nilai-nilai Islam, remaja muslim dengan mudah terjerumus ke dalam gaya hidup hedonis.  Gaya hidup mewah dikemas begitu indah sampai bikin lupa diri. Seolah tak ada kebahagian hidup selain berlimpah materi. Remaja yang masih dalam proses pencarian jati diri, ngeliat idola mereka doyan pamer harta jadi mupeng tingkat dewa. Akibatnya, hidup mereka banyak dipake untuk mengejar kesenangan dunia. Ambyar!

iklan buletin teman surga

Hidup Bukan Trial and Error Gaes!

Menginjak usia remaja, rasa penasaran terhadap segala sesuatu yang unik dan menarik emang kuat banget tertanam di benak kita. Apalagi yang roman-romannya nawarin kesenangan. Biasanya kita sumringah banget untuk segera cari tahu. Dan kalo cocok, tergerak deh untuk nyicipin. Mereka bilang, belon afdhol jadi remaja kalo nggak nongkrong sambil cekakak-cekikik-cekukuk di restoran fast food, atau jingkrak-jingkrak nggak karuan saat nikmatin konser musik idola. Pokoknya, seru-seruan gitu deh.

Tak jarang, rasa penasaran remaja juga memancing mereka untuk ikut nimbrungin gaya hidup yang nyerempet bahaya. Ekspresi cinta nggak sebatas jalan bareng atau ngasih kado. Tapi makin mengarah ke gaya hidup seks bebas. Demi ngilangin suntuk, tawaran dari teman untuk ngemil narkoba atau nenggak miras diterima dengan tangan terbuka. Giliran ada masalah, duel fisik sering jadi pilihan untuk ngatasinnya. Padahal, kita nyadar kalo gaya hidup di atas bisa mengancam masa depan. Tapi saking penasarannya, suka lupa daratan. Berabe tuh!

Hari gini, nggak gampang bagi remaja untuk menghindar dari jeratan budaya hedonis yang memuja kesenangan dunia. Karena perangkapnya tersebar dimana-mana. Dari godaan temen sebaya sampe bombardir opini menyesatkan di media massa. Budaya hedonis dianggap gaul, trendy, dan pas untuk mengisi masa muda. Ini yang sering jadi dilema. Kalo musuhan dengan budaya hedonis, alamat ketinggalan jaman atau dijauhi teman. Walhasil, banyak remaja yang prinsip hidup trial and error untuk nyari jalan aman. Coba-coba ngikutin arus tren remaja biar tetep bisa ngumpul bareng sohib. Entar kalo ternyata kebablasan, tinggal insyaf terus kembali ke jalan yang benar. Gampang kan?

Hihihi…. Emang asyik banget kalo kita tahu pasti sampai usia berapa kontrak kita di dunia habis. Kita bisa menghabiskan masa muda dengan bersenang-senang terus ngumpulin pahala masa tua menjelang ajal datang. Sayangnya, itu semua cuman mimpi. Kita nyadar kan kalo malaikat Izrail bisa datang kapan aja ngecengin kita. Tentunya bukan ngajak kenalan, tapi untuk menceraikan nyawa dari badan kita. Nggak ngeliat usia, popularitas atau status sosial, kalo udah waktunya mati, ya inna lillahi. Jadi beresiko banget kalo hidup kita dipake untuk bereksperimen dengan gaya hidup hedonis yang jelas-jelas sekuler dan menyesatkan.

Kalo mau aman, justru jauhi gaya hidup trial and error yang bisa mengorbankan banyak waktu, tenaga, pikiran, dan masa depan kita. Phew! Dijamin capek tujuh turunan tuh. Bayangin aja, ketika kita berjalan menuju suatu tempat tapi selalu tergoda untuk menelusuri setiap tikungan yang ditemui. Berharap bisa nemu jalan pintas atau ngeliat pemandangan yang menarik. Emang seru sih. Penuh petualangan kaya maen game online. Namun hidup kita kan bukan permainan. Masa jatah usia kita dihabiskan sia-sia? No way!

iklan buletin teman surga

Pentingnya Punya Tujuan Hidup Hakiki

Teman surga, kalo kita hidup tapi gak punya tujuan persis kaya orang tersesat di hutan belantara. Dia tahu kalo jalan keluar yang diimpikannya ada di depan sana di balik pepohonan. Cuman masalahnya, dia nggak tahu pepohonan mana yang harus dia terobos. Karena yang keliatan di sekelilingnya hanya semak belukar dan pohon rimbun. Udah gitu, dia nggak pegang kompas atau peta buat nunjukkin arah yang benar. Kalo dia nekat nerobos sana-sini dengan prinsip trial and error, belum tentu bisa keluar dari hutan. Malah bisa jadi tambah nyasar dan bekalnya keburu abis. Berabe kan?

Makanya, penting banget bagi kita untuk punya tujuan hidup. Temukan jawaban benar, Untuk apa kita hidup? Karena selama kamu nggak punya tujuan, selama itu pula hidup kamu bakal terombang-ambing gak karuan. Sana ngikut sini ngikut. Gak punya pendirian. Jangan sampe deh.

Karena biasanya tujuan hidup itu jadi pegangan orang untuk jalanin kesehariannya. Yang tujuan hidupnya untuk bersenang-senang, maka hari-harinya bakal dihabiskan untuk mengejar kesenangan. Di mana saja, kapan saja, dengan siapa saja, dan mungkin sampe pake cara apa aja asalkan tujuan hidupnya terpenuhi. Nah lho, ini yang berbahaya. Bisa-bisa kita jadi budak nafsu. Makanya kita mesti pastikan kalo tujuan hidup kita jelas, tegas, dan benar.

Jangan sampe tujuan hidup cuman jadi pelampiasan nafsu syahwat kita untuk menikmati dunia. Itung-itungan kita sebagai muslim, hidup bukan cuman di dunia tapi juga di akhirat. Jadi, tujuan hidup juga nggak seharusnya mentok di dunia aja. Kemewahan, popularitas, atau materi berlimpah yang sering dianggap tujuan hidup ideal nyatanya bisa melenakan kita akan kehidupan di akherat nanti.

Makanya tujuan hidup yang hakiki itu udah seharusnya ngasih kebaikan kita di dunia juga di akhirat. Tujuan hidup hakiki nggak cuman ngeliat hasilnya aja, tapi juga memperhatikan pake cara apa kita menggapainya. Kalo menghalalkan segala cara, nasib kita di akhirat bakal suram mesti kebaikan dunia berhasil diraih. Sebaliknya, kalo pake cara yang bener, kita lebih pede jalanin hidup. Karena Allah swt akan selalu mendampingi kita. Baik di dunia mupun di akhirat. Mantab!

iklan buletin teman surga

Tinggalkan Jejak Hidupmu

Kalo kita udah nyadar pentingnya punya tujuan hidup, jangan lupakan juga kalo akhir dari kehidupan kita bisa datang kapan aja. Di mana saja. Dalam kondisi apa aja. Makanya kita mesti siap setiap saat. Biar saatnya tiba, kita sedang dalam ketaatan. Minimal nggak lagi bermaksiat.

Biar hidup kita terarah maka penting bagi kita untuk memastikan akhir hidup kita mau seperti apa. Ya. sederhanya,  setelah wafat kita mau dikenal sebagai siapa? Jejak hidup seperti apa yang mau kita tinggalkan. Sebagai aktivis kebaikan atau pelaku kemaksiatan. Mau dikenal sebagai remaja mesjid atau remaja dugem? Anak sholeh atau anak durhaka? Aktivis dakwah atau biang masalah?

Islam ngajarin kita untuk menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain sebagai modal kita meninggalkan jejak hidup yang positif.  Rasul ngingetin kita dalam sabdanya,

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia”. (HR. Ahmad dan Thabrani)

Apa yang bisa kita lakukan untuk meninggalkan jejak hidup positif?

Pertama, ukir prestasi akademis. Bermanfaat secara keilmuan bagi kebangkitan umat dan kaum muslimin. Selagi masih masa menuntut ilmu baik di lembaga formal atau non formal, perdalam bidang keilmuan yang digeluti. Gak sekedar ngejar ijazah, tapi berazzam untuk menghasilkan karya nyata.

Kita bisa bercermin pada kegigihan para ilmuwan dan ulama yang hidupnya dihabiskan untuk meninggalkan jejak hidup positif. Sebut saja Abbas Ibn Firnas, ilmuwan polymatic dari Andalusia yang berhasil menemukan konsep pesawat terbang jauh sebelum Wright Bersaudara yang dikenal dunia. Atau imam Syafi’i yang selagi muda gemar belajar ilmu fiqih. Beliau rela melanglang buana ke berbagai kota pusat ilmu untuk belajar mendatangi para ulama.

Kedua, jadi anak sholeh. Tak ada ruginya kita menjadi anak sholeh. Gak muluk-muluk, hanya berbakti maksimal pada orang tua. Jika ada perlakuan ortu yang menurut kita nggak menyenangkan, jangan diumbar di sosial media. Simpan dalam hati dan doakan yang terbaik untuk keduanya. Jika ada perbedaan pendapat, nggak usah ngegas yang bisa bikin sakit hatinya. Tetap santun saat menjelaskan duduk pekaranya. Tetap tersenyum saat dapat giliran beres-beres #DiRumahAja.

Rasul ngingetin kita, “Apabila seorang telah meninggal dunia, maka seluruh amalnya terputus kecuali tiga, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang mendo’akannya.” (HR Muslim). Mana yang mau kita pilih, dikenang seperti Malin Kundang atau Uwais al Qarni?

Ketiga, pengemban dakwah. Kewajiban berdakwah bagi seorang muslim itu everlasting alias gak ada batas waktunya. Sampai nanti sampai mati. Kewajiban berdakwah juga lintas generasi tanpa mengenal status pendidikan atau status sosial. Dari orang tua hingga remaja, dari para ulama sampai kita-kita, aktifitas dakwah sama wajibnya.

Setelah kita wafat, dikenang sebagai remaja pengemban dakwah tentu jauh lebih mulia dibanding remaja biang masalah. Selain berbuah keberkahan pada kita dan keluarga, aktifitas dakwah juga menjadi ladang pahala dengan mengajak teman kita pada kebaikan dan mengingatkan sohib untuk menjauhi kemaksiatan.

iklan buletin teman surga

Pantaskan Diri, Terus Ngaji

Kun Anta, jadilah dirimu sendiri sebagai remaja muslim. Gak usah latah ngikutin tren kekinian yang jauh dari nlai-nilai Islam. Jangan mupeng juga dengan gaya hidup hedonis yang menjerumuskan. Bagi kita, cukup ridho Allah saja yang jadi tujuan dari segala tujuan perbuatan kita.

Begitu banyaknya godaan yang bisa memalingkan kita dari Islam, harus kita hadapi dengan iman. Mesti kuat akidahnya. Biar nggak baperan saat dijauhi kawan. Untuk itu, jadikan aktifitas pengajian sebagai bagian dari keseharian.

Tak sekedar belajar baca qur’an yang benar dan tartil, tapi juga mengenal Islam lebih dalam. Ngaji setiap minggu untuk memahami bagaimana Islam mengatur setiap aktifitas kita seperti cara bergaul dengan lawan jenis, mengelola rasa cinta tanpa maksiat, keutamaan menuntut ilmu, berbakti pada orang tua, mendongkrak semangat beribadah setiap saat, hingga bagaimana konsep negara  menyelesaikan masalah umatnya. Lengkap.

Aktifitas pengajian ini yang akan menjaga remaja muslim terikat dengan syariat, selamat dunia akhirat, dan selalu dalam ketaatan serta dijauhkan dari kemaksiatan. Imbasnya, akan berbuah kebaikan di lingkungan sekolah, lingkungan rumah, dan pastinya bikin bangga orang tua. Anak yang sholeh/sholihah jadi investasi akhirat bagi ayah dan ibu kita.

So, mari pantaskan diri untuk menjadi remaja muslim yang original. Bukan kawe kawe. Biar Allah ridho kita dapat tiket surga-Nya. Terus ngaji mesti hidup di masa pandemi. Manfaatkan teknologi untuk menimba wawasan Islam lebih dalam. Seperti event nasional Sail to Jannah yang akan kita gelar untuk kedua kalinya bulan ini. Kajian online dengan ratusan peserta dari seluruh Indonesia yang super inspiratif mengajak remaja muslim ikhwan pelajar sekolah menengah untuk berani berhijrah dan bangga menjadi seorang muslim. KUN ANTA, CIPTAKAN SEJARAHMU![]

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *