Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted on Jun 17, 2020 in Buletin Teman Surga, Headline | 1 comment

Buletin Teman Surga 118. Menyulam Cinta Hakiki

Buletin Teman Surga 118. Menyulam Cinta Hakiki

buletin teman surga 118. menyulam cinta hakikiHallo bucin mania, apa kabarnya? Tema kali ini uwow banget! Bakalan membuat hati semakin bertabur bunga. Berlimpah benderang bintang. Bercahaya terang. Berdesir-desir tak karuan. Seru lah pokoknya!

Apa lagi temanya yang seheboh ini kalau bukan soal cinta? Nah kan, coba pegang deh hidung masing-masing. Udah ngembang aja tuh pas denger kata cinta. Hihihi, dasar bucin!

iklan buletin teman surga

Salahkah Jika Mencinta?

Eh, beneran loh. Suatu hari, ada seorang remaja muslimah yang menangis tersedu-sedu. Dalam isaknya dia bertanya, ”Salahkah jika kita memiliki rasa cinta dan suka pada si dia?” *Melow Mode: ON!

Ada pula yang hanya diam memendam rasa. Segala rupa gelombangnya, tersimpan rapi dalam jiwa. Kadang senyum-senyum sendiri. Tak jarang pula  menitikkan air mata dalam kesendirian itu. Oh cinta, serumit ini kah kamu?

Ada yang bertanya, ada yang diam, ada juga yang masa bodoh. Gas pol tanpa rem. Menghambur-hamburkan cinta tanpa bandrol sedikitpun. Obral besar-besaranlah pokoknya. Asal happy, keren, dapat gandengan, hayuk aja. Heh! Apakah memang demikian harusnya remaja mengekspresikan cinta?

Bagaimana pendapatmu #TemanSurga? Dari pada cakar-cakaran karena beda pendapat, sini yuk kita nongkrong dan ngobrol bareng dulu. Seruput teh, kopi, atau susu juga boleh. Di rumahnya masing-masing loh, ya. hehehe!

Baiklah, jadi gini ya #TemanSurga, rasa cinta itu pasti ada. Bohong kalau ada yang bilang tidak pernah merasakan si-cinta menyambanginya. Meski tipis, desiran rasa itu pasti teraba. Hanya saja kembali ke empunya yang punya hati. Mau melayani atau cukup disenyumin aja. Itu pilihan ya, Dear!

Bahasa lainnya nih ya, perasaan cinta adalah fitrah. Alami gitu, Guys. Dia merupakan salah satu potensi yang telah Allah Swt. berikan demi kelangsungan hidup manusia. Catat, ya! ”Demi kelangsungan hidup manusia!”

”Yesss! Kalau gitu enggak salah dong mengekspresikan cinta? Secara kan demi kelangsungan hidup. Aku mah enggak bisa hidup tanpa dia. So, kudu banget deh kami bareng-bareng merawat dan menjaga cinta ini.”

”Uhuk! Hallo, mbak? Maksudnya menikah, gitu?”

”Etdah! Anak sekolah masak iya nikah? Ya, kami jalani dulu lah apa adanya. Relationship, pacaran gitu loh!”

Tepok jidat! Maksud dari menjaga kelangsungan hidup itu bukan begitu Sis & Bro! Hadeh! Kalau hubungan yang kamu jalani itu namanya bukan menjaga kehidupan keles, tapi membinasakan kehidupan. Noh, baca berita! Berapa banyak para aktivis pacaran yang hilang nyawa gara-gara kekasihnya sendiri. Serem tau!

Lah, jadi bagemana sih maksudnya? Nih, dengerin! Sebagai remaja muslim, kita kudu kembali ke Islam. Yuk mulai bolak-balik deh buka tutorial yang sudah Allah Swt.berikan untuk menjalani kehidupan ini. Semua persoalan yang kita hadapi ada solusinya dalam tutorial yang ada. Yapz, tutorial tersebut adalah Al Qur’an dan As Sunnah. Remaja keren enggak perlu alergi ya dengan dua tutorial ini. Agar hidup kita tidak dipenuhi dengan kehaluan akut.

Tujuan Allah Swt. dalam menciptakan cinta adalah agar  manusia itu tetap eksis di muka bumi hingga waktu yang ditentukan. Eksis di sini maksudnya adalah adanya kelahiran manusia baru di muka bumi. Nah, karena itu Allah Swt. menghadirkan rasa cinta sekaligus tata cara pemenuhannya. Agar tujuan adanya cinta itu tercapai.

Iya, betul sekali. Cinta dalam pandangan islam itu hanya boleh diekspresiakan dalam ikatan pernikahan. Sehingga kesucian manusia terjaga dan lahirlah manusia baru yang bertakwa masyaallah.

So, tidak salah kok jika kita punya rasa cinta. Pertanda kita adalah manusia normal. Masalahnya bukan terletak pada ada atau tidak adanya rasa, melainkan bagaimana cara kita mensikapinya. Mau memuliakannya atau menghinakannya. Inilah amalan yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

iklan buletin teman surga

Ketika Cinta Menyapa

Tidak perlu panik. Ingat, bahwa rasa ini adalah bagian dari fitrah dari-Nya. Hal yang harus kita lakukan adalah bertanya pada diri sendiri. Siapkah melabuhkan cinta ini? Siap itu berarti menikah loh ya, bukan pacaran. Hihihi!

Nah, kalau ternyata belum siap ke pelaminan dengan berbagai alasan, maka sebaiknya ambil keputusan. Hilangkan rasa itu dan jangan biarkan tumbuh liar tak beraturan. Emangnya bisa? Bisa!

Pertama, rasa itu muncul karena adanya interaksi yang intens. Baik itu secara langsung atau tidak langsung. Online maupun offline. Coba deh ingat-ingat, interaksi apa aja yang pernah terjadi. Fix, sudahi! Meskipun sekadar saling tanya kabar setiap pagi ataupun sekadar mengingatkan makan tiga kali dalam sehari. Apapun bentuknya, tutup rapat semua celah sekcil apapun itu.

Kedua, harus tega menghapus semua akun-akun si dia dari jangkauan rumah maya kita. berhenti deh kepoin segala aktivitasnya. Baik dia atau kamu enggak akan mati hanya karena enggak saling follow, like, dan komen. Percayalah!

Ketiga, hempaskan semua kenangan bersamanya. Segala rupa pemberiannya, buang aja. pensil atau penghapus sekalipun, jika itu mengusik ingatan dan membangkitkan kenangan, jangan ragu untuk membinasakannya. Kejam banget, sih?! Ini bukan kejam, tapi belajar berprinsip demi saling menjaga kesucian dan kehormatan. Jalani aja, ujungnya kamu akan merasakan bahagia yang tak terkira. Enggak percaya? Buktikan aja, jangan banyak bengong!

Keempat, sibukkan diri dengan berbagai aktifitas yang bermanfaat. Daripada halu dari hari ke hari, mending kamu datang ke majelis ilmu. Manfaat banget deh ini. Bisa nambah boster kamu dalam menggenggam cita menjadi singgel lillah hingga sah. Terhormat, mulia, bahagia dunia sampai surga. Yakin enggak mau? Nah, kalau mau kudu nurut dah tu dengan S&K yang udah Allah Swt. berikan untuk kita. siap? Aaaasiappp!

iklan buletin teman surga

Miliki Cinta Hakiki

Benar adanya bahwa cinta menjadikan hidup lebih berwarna. Debaran demi debarannya mampu memberikan efek bahagia. Hari-hari mejadi sangat indah bagai taman yang bertaburan bunga dan semerbak wanginya yang mengudara. Ah, indah lah pokoknya.

Tapi, Dear. Jangan lupa, hidup kita sejatinya bukan sekadar di dunia. Justru, dunia ini hanyalah persinggahan saja. Hanya sementara. Sebab itu, merugi rasanya jika hanya mengejar bahagia di dunia yang fana.

Sebagai seorang muslim, kita patut bersyukur. Sebab Allah Swt. memberikan peluang kepada kita untuk mereguk bahagia hakiki. Yakni bahagia dunia hingga ke surga. Ya, kita punya kesempatan untuk itu. Bagaimana caranya? Jadikan semua amalan kita di dunia memiliki nilai untuk bekal kita mengarungi kehidupan yang kekal abadi.

Dalam hal ini termasuk persoalan cinta. Dear, cinta adalah rasa. Rasa ini akan mendorong kita untuk melakukan sesuatu, kan? Memilih melakukan pacaran, menikah, atau mengalihkan perasaan hingga sampai waktunya telah siap, semua ini adalah amal. Amal inilah yang akan menentukan posisi kita kelak di akhirat, bahagia atau sengsara.

Karenanya, jangan salah dalam mencinta. Ukirlah cinta hakiki agar kita peroleh ridha Illahi. Apakah yang paling membahagiakan bagi seorang hamba kecuali ridha dari Rabbnya? Sungguh, inilah puncak kebahagiaan yang tertinggi untuk kita.

So, senikmat apapun cinta yang kita rasa. Sebahagia apapun kita menjalin asmara dengan si dia. Sekompak apapun kita dengannya. Sejujur dan sesetia apa kita dengan dirinya. Semuanya itu nol jika Allah Swt. tidak ridha. Ngerasa rugi enggak, sih? Rugi banget, Guys! Capek-capek jaim, ngeluarin modal, ngabisin kuota internet, eh dapatnya dosa. Yakin masih mau ngelanjutin?

Dear, cinta itu melindungi. Menjaga dari marabahaya. Jika betul cinta, harusnya menjaga. Bukan justru merusaknya. Cinta hakiki, selayaknya membentengi dari panasnya siksa neraka dan menghantarkan pada nikmatnya surga.

Bukan cinta namanya jika justru menjerumuskan dalam perbuatan dosa. Mendekatkan pada pedihnya siksa neraka. Bangun, jangan kebanyakan halu. Nyata berbuat maksiat itu namanya nafsu. Lebih baik sudahi demi mengejar cinta hakiki. Yakni cinta kepada Illahi Rabbi, juga cinta kepada Baginda Nabi. Yapz, sudahi atau nikahi. Dua itu saja yang menjadi bukti cinta hakiki. Menyulamnya memang butuh kesabaran tingkat tinggi. Tetapi akan sangat indah pada kemudian hari. Kuy, buktikan![]

1 Comment

  1. kereen kak..kata2nya membuatku semakin percaya bahwa cinta hakiki itu akan datang kepadaku. Jika aku bisa menyulamnya dari sekarang dan bersabar menempuh jalan di masa depanku nanti..

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *