Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted on Jun 23, 2020 in Buletin Teman Surga, Headline | 1 comment

Buletin Teman Surga 119. Remaja New Moral

Buletin Teman Surga 119. Remaja New Moral

buletin teman surga 119. remaja new moralSetelah lebih dari 3 bulan kita diminta #dirumahaja, akhirnya muncullah keputusan untuk #newnormal. Kira-kira gimana reaksimu man-teman dengan “new normal”? Seneng atau takut? Ya, mungkin banyak yang seneng dengan new normal, karena berbulan-bulan di rumah aja lalu lintas penduduk rumah cuman dari kasur – dapur – sumur.  Di kasur kalo nggak tidur mendengkur, ya paling main game tak terukur, abis gitu kalo lapar ya ke dapur, eh begitu kekenyangan ya perginya pasti ke sumur (wc).

iklan buletin teman surga

Jangan Terjebak Euforia, Gaes!

Tahu kan euforia? Euforia itu semacam rasa gembira berlebihan setelah sebelumnya merasa terkekang. Jadi, #dirumahaja bagi sebagian man-teman kayak burung yang disangkarin, trus pas tahu ada new normal alias boleh berinteraksi dan beraktivitas sebagaimana sedia kala, maka kayak burung lepas dari sangkarnya. Pluonnggg… gitu lah rasanya!

Padahal kalo kita sedikit flashback di masa-masa pendemi kemarin, kita rada sedikit parno kalo harus keluar rumah. Kita halu, kalo musti harus ke sekolah atau sekedar pergi ke masjid, jangan-jangan tertular dengan carier alias orang yang kelihatan sehat tapi membawa benih virus. Duhh, pokoknya ngeri-ngeri sedap gitu deh. Karena memang virus covid-19 ini nggak kelihatan penampakannya kena pada seseorang, tapi faktanya bisa menyebabkan ratusan orang meninggal karena virus tersebut.

Sampe-sampe kita aja dihimbau untuk sholat di rumah. Selama Ramadhan kemarin, kita nggak seperti biasanya bisa tarawih rame-rame, bisa makan takjil buka puasa, tadarus, jalan-jalan subuh, de el el. Karena memang kita harus sosial distancing, sekali bersentuhan dengan orang yang terkena atau membawa virus kita akan tertular. Sementara kadang-kadang orang ODP nya juga suka masih bebas berkeliaran di masyarakat. Itu yang bikin suasana kian mencekam.

Nah, pas suasana masih serem kayak gitu, trus juga jumlah yang meninggal belum turun, kemudian berlakulah new normal. Dari sini, kita kudunya sih paham, nggak perlu euforia menyikapi new normal, karena kita tetap harus waspada, tetap kudu sosial distancing, kurang lebih seperti suasana bulan-bulan sebelumnya. Kalo kita euforia alias menyikapi new normal ini kayak burung lepas dari sangkarnya tadi, maka bukan tidak mungkin jumlah carier pembawa virus itu akan semakin tinggi angkanya.

Bukan doain lho, tapi sebagai bentuk kehati-hatian aja. Lebih baik, kita tetap stay at home dulu aja, sampe kondisi benar-benar mendekati normal. Alhamdulillah sih kita patut bersyukur, kalo akhirnya sekolah belum juga dimasukkan. Karena bisa kebayang, kalo kondisi pendemi belum pulih, tetiba man-teman di sekolah udah pada bebas bersentuhan, bergaul, ngobrol, jajan sebagaimana biasa, maka bisa jadi bakalan ada masa pendemi jilid 2. Duh, sayang banget kan?!

Makanya, sekali lagi jangan terlalu gembira atau bebas berlebihan, karena kondisinya memang belum terlalu normal sebagaimana sebelum ada virus. Aktivitas masih perlu cukup di rumah, atau kalau pun harus keluar rumah memang ada perlu yang urgent, dan kalo bisa terapkan protokal covid-19, pake masker, cuci tangan pake sabun, jaga jarak, de es be. Sebab kalo kita maksain diri beraktivitas layaknya aktivitas normal, maka aktivitas jaga diri selama #dirumahaja kemarin jadi percuma, karena kita malah kena virusnya justru di masa new normal. Ngeri euy!

iklan buletin teman surga

New Normal atau New Moral?

Selama masa pendemi #dirumahaja aktivitas kita banyak daring, termasuk urusan belajar dan sekolah. Dampaknya kita emang jadi banyak interaksi dengan gadget, durasi menggunakan handphone jadi lebih sering. Nah, karena sering banget itulah, jadi semacam ketergantungan. Bahasa ekstrimnya addict bangets. Karena sudah addict kebutuhan akan kuota dan sinyal menjadi prioritas. Sampe-sampe kita denger ada berita, Mahasiswa Unhas meninggal gegara nyari sinyal buat ngerjain tugas kuliahnya. Miris!

Tapi ada yang lebih miris, gegara deketan terus sama gadget, maka demi kebutuhan hiburan, nggak sedikit yang install aplikasi Tiktok. Di aplikasi itulah, remaja yang kurang moral, dan kurang ilmu agama menjadi euforia kebablasan. Terbaru, rame challenge ekspresi #LathiChallenge yang berisikan video transformasi seseorang yang rupawan menjadi sosok devil menyeramkan. Lagu “Lathi” sendiri dipopulerkan oleh Reza Oktovian, Eka Gustiwana, dan Gerald Liu dalam grup Weird Genius yang berkolaborasi dengan Sara Fajira.

Sayangnya, video chalenge tiktok yang udah viral ini dinobatkan sebagai karya seni penuh makna. Kalo kita sebagai muslim tentu punya pandangan yang khas tentang persoalan ini. Nggak asal menilai sesuatu itu bagus, bermakna, dan perlu ditiru, jika kita tidak nilai dulu dengan aqidah dan syariat Islam.  Meski sesuatu itu sudah viral, banyak yang ikutan challenge tersebut, kemudian kita sebagai remaja muslim latah ngikutin aja trend. Nggak kayak gitu!

Coba kita telaah deh dari sisi lirik dari lagu tersebut, dari bait pertamanya aja udah masalah. “I was born a fool // Broken all the rules // Seeing all null  // Denying all of the truth …..” Ini kalo diartikan dalam bahasa kita “Aku dilahirkan sebagai orang bodoh // Merusak semua aturan // Karena semuanya nol // Menyangkal semua kebenaran”. Jadi, lagu ini ekspresi kebebasan, untuk bebas dari semua aturan.

Meskipun, judul atau liriknya berjudul “lathi” yang dalam bahasa Jawa arti lathi adalah lidah (ucapan). “Kowe ra iso mlayu saka kesalahan // Ajining diri ana ing lathi…”  artinya dalam bahasa Indonesia, “Kamu tidak bisa lari dari kesalahan. Harga diri seseorang terlihat dari ucapannya”. Kalo dari sisi lirik itu, mungkin semua orang setuju bahwa “sebuah ucapan” itu penting dan ada maknanya. Tapi menurut Weird Genius dalam akun YouTubenya, “Lathi” adalah lagu yang berbicara tentang hubungan toxic relationship penuh kebohongan, nggak ada kasih sayang, namun justru merusak.

Mungkin maksudnya lagu ini mau ngasih pesan moral bagi mereka yang menjalin hubungan yang tidak halal (dibaca: pacaran), agar jangan menjalin relationship banyak bohongnya, bahkan cenderung menyiksa. Tapi pesan begitu nggak gitu ngaruh buat yang diseru oleh lagu tersebut. Kenapa koq nggak ngaruh? Pertama, karena orang akan fokus pada sisi hiburan dari video challenge itu sendiri, bukan pada isi pesannya. “Emang gue pikirin”, kira-kira begitulah yang ada dalam benak para pelaku toxic relationship. Viralnya video tersebut nggak ngejamin pelaku toxic relationship bakal berkurang. Itu artinya, sisi entertainingnya yang dicari orang, bukan pesan lagunya.

Kedua, alasan kenapa pesan moral dari lagu atau video lathi itu nggak bakal nyampe karena cuman dihimbau, sementara sisi kesadarannya paling dalam nggak disentuh. Pelaku relationship yang nggak halal kayak pacaran itu meski sudah berkali-kali dengerin nasehat suruh ninggalin pacaran, tetap aja kekeuh pacaran. Kenapa? Karena sisi terdalam yakni keimanan, aqidah atau tauhidnya tidak disentuh. Rasa takutnya sama Allah, rasa pertanggung jawabannya kepada Allah, keyakinan akan Allah sebagai sang Khaliq sekaligus al-mudabir (Maha mengatur) itulah kunci untuk mengubah perilaku.

Apalagi yang di seru di lagu ini para pelaku toxic relationship, ini lebih tinggi level bandelnya dibanding yang pacaran. Jadi nggak bakal mempan kalo yang dimaksud lagu ini sasarannya mereka, dan label lagu ini “penuh makna”, kayaknya hanya mengada-ada biar makin viral aja. Heumm… ya udah deh, cukup segitu koreksi #lathichallenge, karena kalo semakin panjang diuraikan, dianya malah makin terkenal nantinya. Intinya, kita sebagai remaja muslim jangan keburu ikutan challenge apapun sebelum bertanya apa hukum dan makna dari challenge tersebut menurut Islam. Nggak papa disebut remaja kaku kalo demi masa depan akhirat, di jaman kayak gini kita sepertinya memang harus jadi remaja “kaku” (dalam tanda kutip).

“Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntungnlah orang yang asing” (HR. Muslim no. 145).

iklan buletin teman surga

Remaja New Normal Itu…

Kita nggak bisa bilang gampang untuk bisa jadi remaja muslim yang normal apalagi yang new normal. Untuk jadi normalnya remaja muslim padai kondisi sekarang, berhadapan antara keinginan, godaan dan ujian. Kalo bicara keinginan misalnya, siapa sih sebagai remaja yang normal nggak pengin main gadget, game dan sejenisnya. Kayaknya hampir semua remaja suka hal tersebut. Tapi yang kayak gitu, bagi seorang remaja muslim antara godaan dan ujian. Godaan untuk main terus, sampe akhirnya addict atau maniak game. Di sisi lain hal tersebut bisa jadi ujian, tatkala harus dipertemukan dengan sebuah kewajiban, misalnya kalo pas wakutnya sholat, waktu ngaji, waktu disuruh orang tua. Maka itu ujian untuk memilih antara tetap main game atau segera ngerjakan kewajiban.

And then, baiknya seperti apa, supaya bisa tetap jadi remaja muslim yang baik, meskipun kondisinya berubah-ubah, seperti era new normal kayak gini? Begini caranya:

Pertama, remaja muslim new normal itu tahu apa yang harus dipikirkan dan dikerjakan. Seperti sudah disinggung di atas, bahwa remaja pun punya pilihan dalam hidupnya. Hanya saja ketika mau milih sesuatu itu sangat tergantung dari tauhid atau aqidahnya. Kalo aqidah Islamnya kokoh dan benar maka seorang remaja muslim akan tahu apa yang harus dipikirkan dan dikerjakan ketika berhadapan dengan sesuatu yang sulit untuk dipilih. Jadi, remaja muslim punya prinsip alias pegangan, yang bikin dia nggak gampang galau, karena dia yakin dengan ketahuidannya bahwa Allah menjamin surga bagi yang istiqomah.

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqomah), maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan bergembiralah dengan jannah (surga) yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (QS Fushilat 30)

Kedua, remaja muslim new normal itu bukan cuman berpikir tentang ‘about me”. Maksudnya, remaja muslim yang ada dalam pikirannya bukan hanya mengejar kesenangan dirinya semata, tapi remaja muslim dimensi berpikirnya lebih growth. Sebab fakta emang sudah membuktikan ketika seseorang cuman mikir kesenangan, maka apapun bakal dilabrak untuk mendapatkan kesenangan itu. Sehingga remaja muslim not just thinking about me, but thinking about us.  Remaja muslim sadar dengan sesadarnya bahwa dirinya baru dikatakan baik jika menebar kebaikan bagi yang lain. Disinilah remaja muslim merasa butuh yang namanya amar makruf nahyi mungkar, karena disitulah dirinya baru merasa bermanfaat bagi orang lain.

“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” (HR. Muslim).

Ketiga, remaja muslim new normal itu nggak butuh new moral, karena semua sudah disediakan oleh Islam. Kalo di atas tadi disinggung tentang pesan moral dari sebuah #lathichallenge maka Islam jauh-jauh hari merupakan ajaran yang nggak sekedar menyingung sekedar moral atau akhlak saja. Tapi Islam mengajari kita tentang aqidah, syariah, muamalah, uqubah dan sebagainya. Intinya, Islam ini sempurna maka kita nggak butuh aturan yang lain, kecuali hanya Islam. Dan seorang muslim harus berani punya prinsip kayak gitu.

“Maka mengapa mereka mencari agama yang lain selain agama Allah, padahal apa yang ada di langit dan di bumi berserah diri kepada-Nya, (baik) dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada-Nya-lah mereka dikembalikan ?” (QS.Ali ‘Imran: 83)

“Dan barangsiapa mencari agama selain agama Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali ‘Imran: 85)

Gimana, siap jadi remaja muslim di era new normal? Siap gak siap, Kudu Siap! []

iklan buletin teman surga

1 Comment

  1. baguss. Apikk.. Detail sekali penjelasan dakwah ilmunya.. Jazakallahukhoron ustadz ats semua ilmunya ..
    Semoga Barokah ..Aamiin

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *