Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted on Jul 23, 2020 in Buletin Teman Surga, Headline | 0 comments

Buletin Teman Surga 123. Dari Jendela Sinetron Kita Diajari Maksiat

Buletin Teman Surga 123. Dari Jendela Sinetron Kita Diajari Maksiat

buletin teman surga 123. dari jendela sinetron kita diajari maksiatJoko dan Wulan, mereka masih duduk di bangku SMP, terlibat cinta remaja yang tolol, konyol, dan nggak layak dicontoh remaja manapun. Sampai suatu hari mereka melompat ke luar dari jendela SMP, dan melakukan perbuatan terlarang. Ya itulah, diskripsi pendek sebuah sinetron yang tayang di stasiun tv SCTV. Sinetron yang diadaptasi dari cerita novel Mira W tahun 1980-an. Kontennya nggak jauh dari kisah asmara anak ingusan, persaingan merebutkan cewek, pertentangan kaya-miskin, dan sejenisnya. Tapi yang bikin kita merasa konten sinetron itu kudu diprotes keras tentu saja konten maksiat, bahkan ngajarin untuk maksiat. Dalih sex education dan sejenisnya, but this really? Ah No! Itu hanya omong kosong!

iklan buletin teman surga

Maksiat Nggak Boleh Dibiarkan!

“Tapi,…. yang ngajarin maksiat kan banyak” Itu kali yang biasanya akan jadi tameng buat ngebelain sinetron macam ini. Ya bener, emang banyak tapi kali ini kita konsen ngulitin sinetron yang ngajarin maksiat atau bahkan film juga. Kalo pun tayangan yang lain, tentu sebagai muslim juga akan kita protes keras, kayak beberapa waktu lalu, kita juga keras memprotes salah satu film, yang akhirnya nggak jadi tayang itu. Kita pernah juga memprotes film lainnya, walaupun filmnya tetap tayang, tapi seenggaknya kita sebagai umat muslim sudah menunjukkan sikap menentang kemaksiatan.

Artinya, nggak bisa dan nggak boleh dijadikan alasan karena kemaksiatan juga diajarkan di sinetron atau film yang lain, lalu kita luput dan membenarkan pendapat para pembela maksiat itu. Yes, maksiat emang kudu ditentang. Kenapa?

Tentu saja kita sebagai muslim landasan perilaku kita, tuntunan hidup kita adalah dalil dari Al-Qur’an dan Al-Hadits, serta aturan yang ditunjuk oleh keduanya. Nah, jika kita melihat kemaksiatan, apa yang diperintahkan oleh Rasulullah SAW?

“Barang siapa yang melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka ubahlah dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka ubahlah dengan hatinya. Dan itu adalah selemah-lemahnya iman” (HR. Muslim).

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian benar-benar membaca ayat ini ‘Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk’ (Al-Maidah:105), karena sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Sungguh manusia bila mereka menyaksikan orang zhalim namun tidak menghentikannya, dikhawatirkan Allah akan menjatuhkan hukumanNya pada mereka semua’ “ (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi)

Data dan fakta yang sudah ada sebelum ini, harusnya nggak bikin kita diam, sebaliknya kudu mengambil langkah menghalangi kemaksiatan agar nggak dilakukan lagi, sesuai kemampuan kita masing-masing. Karena seperti sudah disampaikan di atas, kalo kemaksiatan kita biarkan jalan, kita yang bisa kena dampaknya, bahkan kita doa aja nggak bakal dikabulkan, kalo ternyata kita membiarkan kemaksiatan.

“Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, hendaknya kalian betul-betul melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar atau (jika kalian tidak melaksanakan hal itu) maka sungguh Allah akan mengirim kepada kalian siksa dari-Nya kemudian kalian berdoa kepada-Nya (agar supaya dihindarkan dari siksa tersebut) akan tetapi Allah Azza wa Jalla tidak mengabulkan do’a kalian.” (HR Ahmad dan at-Tirmidzi)

iklan buletin teman surgaSex Education, Cuman Kedok Maksiat

Dari tadi ngomongin maksiat, apa sih konten maksiat dari sinetron tersebut? Jelas banyak dong, sejumlah warganet aja menilai, dari cerita novelnya terlalu eksplisit dan nggak pantas diangkat ke layar kaca lantaran terdapat kisah kehamilan di luar pernikahan pada seorang gadis belia. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) pun menggelar pertemuan dengan perwakilan dari stasiun TV yang menayangkan sinetron tersebut guna mendengarkan keterangan. Walaupun, Deputi Direktur Program-nya memastikan alur cerita sinetron tersebut telah disesuai sedemikian rupa dari cerita asli versi novel. Tapi yakin aja itu hanya ngeles, biar sinetronnya tetap tayang.

KPI memberi peringatan tertulis karena sinetron tersebut mengandung muatan cerita hubungan asmara dua pelajar SMP Joko dan Wulan, digambarkan adegan dan dialog tentang kehamilan di luar nikah, rencana pernikahan dini, serta keinginan keduanya untuk merawat bayi tersebut setelah melahirkan. Oleh karenanya, berdasarkan Peraturan KPI Nomor 02/P/KPI/03/2012 Pasal 37 aya (4) huruf a, program siaran klasifikasi “R” dilarang menampilkan muatan yang mendorong remaja belajar tentang perilaku yang tidak pantas dan/atau membenarkan perilaku yang tidak pantas tersebut sebagai hal yang lumrah dalam kehidupan sehari-hari.

Itu “kemaksiatan” yang bisa dilihat dari versi hukum negeri ini, melalui kacamata KPI. Kalo Islam sendiri menamai sesuatu disebut “maksiat” tentu adalah semua hal berdosa yang melanggar perintah dan larangan dari Allah. Nah, di sinetron tersebut, selain yang kentara terang-terangan kampanye edukasi seks bebas, ada banyak kemaksiatan lain dalam muatan sinetron tersebut dan sinetron serupa.

Mulai dari kemaksiatan ngajarin remaja untuk pacaran, padahal Islam sudah jelas ada larangan mendekati zina, yang salah satunya perilaku pacaran itu sendiri.  Rasulullah SAW bersabda

“Janganlah sekali-kali salah seorang di antara kamu berduaan dengan seorang wanita, karena setan yang ketiganya.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Hakim)

Dan masih berderet kemaksiatan ditontonkan di layar kaca kita. Highlight-nya yang jadi kudu garis tebal, bahwa kalo kemaksiatan level SMP mendapat tempat di negeri ini, bukan nggak mungkin akan ada kemaksiatan SD, bahkan Play Group sekalian. Ah, mana mungkin itu? Siapa bilang nggak mungkin, orang sekarang mudah mengekspresikan kebebasannya, media dari Youtube, Instagram sampe Tiktok. Nggak sedikit orang tua yang menjadikan anak-anaknya sebagai subyek dan obyek di media sosial, mulai dari yang biasa-biasa aja, sampe yang vulgar maksiatnya. Dengan dalih ataupun nggak pake dalih.

Sementara sex education, masih akan selalu jadi peluru ampuh untuk menampilkan perilaku kebebasan itu. Apa iya, demi anak-anak kita tahu apa dan bagaimana menstruasi, kehamilan, dan sejenisnya, kudu ditayangkan dalam film atau sinetron? Itu langkah yang bodoh dan nggak menuntaskan masalah, malahan menimbulkan masalah-masalah baru. Apa dipikir, selama ini kemaksiatan seks bebas merajalela karena nggak ada sex education? NO! Kemaksiatan itu langgeng dan cenderung beranak-pinak, karena kemaksiatan itu dibiarkan, bahkan dicarikan dalihnya, lalu difasilitasi dengan adanya hiburan kayak sinetron dan film.

Alih-alih sinetron atau film kayak gitu bisa ngasih pelajaran, malah yang ada ngasih tutorial pacaran, ngasih motivasi remaja untuk tetap semangat berperilaku seks bebas asal aman-aman aja, asalkan bertanggung jawab. Hello, tanggung jawab macam apa? Keamanan macam apa yang ditawarkan? Itu semua bullshit, karena sejatinya itu hanya melegalkan kemaksiatan, dan hanya mengharapkan si cebol meraih bintang. Sebab, nggak bakal ada yang mampu menolong kemaksiatan dengan kemaksiatan baru. Nggak ada data dan riset yang relevan menunjukkan angka kehamilan di luar nikah menurun di negeri setelah tayang sinetron macam gitu.

iklan buletin teman surga

Negerimu Butuh Solusi, Gaes!

Ini beneran lho gaes, negeri ini kalo kita sadar butuh way out. Kita sebagai bagian dari generasi, bukannya menambah runyam masalah negeri di saat pendemi, new normal gini dimana angka kematian bukannya makin turun, eh malah makin naik angkanya. Ayo dong, kalo kita memang bukan pelaku kemaksiatan, langkah berikutnya jangan nambah kemaksiatan baru, justru kita harus kurangi dan hilangkan angka kemaksiatan di negeri ini. Salah satunya tidak meniru perilaku rusak dalam pergaulan seperti salah satunya ditontonkan di sinetron-sinetron.

Sebaliknya, sebagai generasi muslim kita harus menjadi bagian dari yang menyelesaikan masalah, bukan malah pembuat masalah. So, apa langkah yang kita bisa eksekusi untuk saat ini, biar kemaksiatan nggak makin merajalela? Yuk simak sampe tuntas uraian di bawah ini ya.

Pertama, anak seusia SMP harusnya sudah mulai baligh, artinya sudah bertanggungjawab atas perbuatannya sendiri. Kita harus mulai mencari tahu segala sesuatu tentang Islam yang terkait dengan perbuatan-perbuatan kita. Nggak boleh serampangan aja, ngelakuin aktivitas yang kita sangka nggak dosa, nggak maksiat eh ternyata mengandung dosa bin maksiat. Maka langkah pertama, untuk menjadi bagian dari pemberi solusi, kita harus menjadi penuntut ilmu yang tangguh.

Kita harus berusaha sekuat tenaga untuk bisa jadi sekaliber Imam Syafi’i, yang di usia belianya giat mencari ilmu dari satu guru ke guru yang lain. Kuat hafalannya, cerdas otaknya, hingga di usia 9 tahun, beliau sudah hafal kitab al-muwatta, karangan Imam Maliki, yang tak lain salah satu gurunya. Karena kegigihannya, Imam Syafi’i, di usianya 11 tahun, beliau sudah menjadi mufti alias penceramah di hadapan khalayak. Usia segitu kalo di negeri kita masih belum atau baru  lulus SD, tapi Imam Syafi’i, sudah membuktikan dirinya jadi bagian dari pemberi solusi, bukan remaja pembikin masalah.

Kedua, selain penjadi penuntut ilmu yang tangguh, kita juga harus menjadi hamba yang istiqomah di jalan Allah. Layaknya kita harus belajar dari sejarah perikehidupan para sahabat nabiyullah Muhammad SAW, di masa-masa awal Islam di Mekah. Ada sahabat Bilal bin Rabbah, yang walaupun hanya dengan posisinya sebagai seorang budak tapi karena yang dia pegang dan yakini adalah ketauhidan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, maka dia pertahankan aqidah itu dengan istiqomah. Nah, kita di hari-hari setelah ini butuh remaja-remaja yang bermental layaknya Bilal, siapapun kita, apapun posisi kita, bagaimanapun keadaan kita, nggak boleh nyerah, nggak boleh minder, kita harus tetap jadi pejuang yang istiqomah, hingga kemuliaan itu datang, atau kematian yang menjemput kita duluan.

Ketiga, ketika menentang kemaksiatan dan membela kebenaran di negeri ini malah mendapat label buruk, apapun itu yakinlah itu ada pada setiap masa. Ada pembela ada penentang, ada pejuang ada pecundang. Kita harus tetap di posisi pembela dan pejuang Islam, walaupun orang-orang kafir itu membenci dan melabeli kita dengan sebutan terburuk sekalipun. Artinya, jangan pernah tergoda untuk berpindah posisi menjadi pecundang, penghancur Islam, karena namanya perjuangan akan selalu ada resikonya. Maka, langkah ketiga untuk jadi pemberi solusi kita harus tetap berdakwah tanpa lelah dan menyerah.

Biarpun orang berkata, “anak baru kemarin sore” udah beraninya dakwahi orang. Karena syaratnya berdakwah nggak nuggu kita gede, nggak nungu punya banyak dalil. Ada seorang anak kecil di masa kekhilafahan Umar bin Khatab yang bersiap menghunus pedangnya, ketika didapati Khalifah Umar bin Khatab melanggar dari Kitabullah dan Sunnah. Nah, sesuai dengan pesan yang disampaikan oleh Rasulullah SAW,  

“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari).

Maka berdakwalah, sambil terus memantaskan diri menjadi teladan bagi generasi seusia kita, dengan menjadi penuntut ilmu yang tangguh dan hamba yang istiqomah. Sekali lagi, jangan jadi pembuat masalah, tapi jadilah penyelesai masalah. Are u ready, gaes?! Allahu Akbar! []

iklan buletin teman surga

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *