Buletin Teman Surga 125. Secercah Asa dari Hagia Sophia

0
45
buletin teman surga 125. secercah asa dari hagia sophia

buletin teman surga 125. secercah asa dari hagia sophia“Hari ini adalah hari ketika Muslim berdiri melaksanakan salat dengan air mata sukacita, sujud dengan penuh rasa tunduk dan syukur. Hari ini juga adalah hari kehormatan dan kerendahan hati,” 

Petikan khotbah Jum’at (24 Juli 2020) yang disampaikan oleh Ali Erbas (Kepala Direktorat Keagamaan Turki) sambil memegang sebilah pedang di atas mengingatkan ribuan jamaah yang memadati Mesjid Hagia Sophia dan sekitarnya pada peristiwa penaklukan Konstantinopel. Karena tradisi khatib membawa sebilah pedang adalah sebagai simbol penaklukan. Dan pengubahan Hagia Sophia (Aya Sofia) dari gereja menjadi mesjid oleh Muhammad al-Fatih adalah bagian dari simbol penaklukan itu.

Adalah Recep Tayyip Erdogan, Presiden Turki yang memutuskan peninggalan arsitek Bizantium itu menjadi mesjid kembali setelah 86 tahun. Hal ini menindaklanjuti keputusan Pengadilan Administratif Tertinggi Turki pada tanggal 10 Juli lalu yang menganulir keputusan presiden Turki pertama, Mustafa Kemal Ataturk, pada tahun 1934, yang mengalihfungsikan Hagia Sophia menjadi sebuah museum.

iklan buletin teman surga

Sejarah Hagia Sophia

Dalam bahasa Turki, Hagia Sophia disebut Ayasofya, dan di bahasa Latin: Sancta Sophia. Hagia Sophia juga pernah dikenal sebagai Gereja Kebijaksanaan Suci (Church of the Holy Wisdom) dan Gereja Kebijaksanaan Ilahi (Church of the Divine Wisdom).

Menurut ensiklopedia Britannica, bangunan Hagia Sophia pertama kali didirikan di atas pondasi atau tempat kuil pagan pada 325 Masehi, atas perintah Kaisar Konstantinus I. Putranya, Konstantius II, lalu menjadikan bangunan ini sebagai gereja Ortodoks pada 360 masehi. Hagia Sophia kemudian menjadi gereja tempat para penguasa dimahkotai dan menjadi katedral paling besar yang beroperasi sepanjang periode Kekaisaran Bizantium.

Dari masa pembangunannya pada tahun 537 M sampai 1453 M, bangunan ini merupakan katedral Ortodoks dan tempat kedudukan Patriark Ekumenis Konstantinopel, kecuali pada tahun 1204 sampai 1261, ketika tempat ini diubah oleh Pasukan Salib Keempat menjadi Katedral Katolik Roma di bawah kekuasaan Kekaisaran Latin Konstantinopel.

Hagia Sophia pada Era Kekhilafahan Utsmaniyah Pada 1453, era Kekaisaran Bizantium berakhir karena ditaklukkan oleh Sultan Mehmet/Mehmed II. Setelah Sultan Mehmed II menaklukkan Konstantinopel, status Hagia Sophia dikonversi menjadi masjid. Nama Hagia Sophia masih dipertahankan oleh Sultan Mehmed II. Sebagaimana arti kata sophia dalam bahasa Yunani adalah kebijaksanaan, maka arti lengkap dari Hagia Sophia adalah tempat suci bagi Tuhan.

Saat berubah menjadi masjid di era Mehmed II, banyak mosaik dan lukisan bercorak Kristen, yang menghiasai bangunan Hagia Sophia, ditutupi dan diplester. Seniman kaligrafi terkenal pada masa itu, Kazasker Mustafa İzzet, kemudian mengguratkan tulisan Allah SWT, Nabi Muhammad SAW, empat khalifah pertama, dan dua cucu Rasulullah SAW, di beberapa bagian interior Hagia Sophia.

Pada masa Kesultanan Ottoman, struktur bangunan Hagia Sophia memperoleh sentuhan arsitektur Islam. Misalnya, mihrab yang kemudian dibangun, hingga pendirian empat menara yang digunakan untuk melantunkan Adzan. Bangunan seperti madrasah, perpustakaan hingga dapur umum juga melengkapi Hagia Sophia pada masa Ottoman. Pada era Kekaisaran Ottoman, bangunan Hagia Sophia sempat difungsikan menjadi masjid selama 482 tahun.

Hagia Sophia pada Era Pemerintahan Kemal Ataturk Selepas Kekaisaran Ottoman bubar dan Turki menjadi negara republik, Hagia Sophia pun kembali beralih fungsi. Pendiri dan presiden pertama Republik Turki, Mustafa Kemal Ataturk mengubah status Hagia Sophia menjadi museum.

iklan buletin teman surga

Tuduhan Islam Intoleran

Banyak yang gerah setelah pemerintah Tukri mengembalikan fungsi Hagia Sophia menjadi masjid.  Terutama mereka yang nggak senang Islam bangkit. Dari Amerika hingga Uni Eropa mengutarakan kekecewaannya. Nggak ketinggalan juga Paus Francis dan Gereja Ortodoks Rusia. Bahkan lembaga internasional UNESCO juga ikut-ikutan menekan Turki atas keputusannya.

Biar tambah garang, stempel negatif ditujukan pada Turki dan Islam. Tuduhan intoleran dan mengabaikan suara jutaan orang Kristen jadi senjata andalan mereka. Seolah ajaran Islam tak menghargai penganut agama lain yang juga berhak untuk mengakses Hagia Sophia.

Nah, biar kita selaku remaja muslim gak keliru mensikapi kontroversi Hagia Sophia ini, beberapa hal perlu kita luruskan.

Pertama, yang terjadi saat ini di Turki adalah pengembalian fungsi Hagia Sophia dari museum menjadi mesjid kembali. Bukan merubah gereja jadi mesjid. Sesuai runutan sejarah. Tahun 537 M sampai 1453 M, bangunan ini merupakan katedral Ortodoks dan tempat kedudukan Patriark Ekumenis Konstantinopel. Pada tahun 1204 sampai 1261 diubah oleh Pasukan Salib Keempat menjadi Katedral Katolik Roma di bawah kekuasaan Kekaisaran Latin Konstantinopel.

Aya Sofia diubah menjadi masjid mulai 29 Mei 1453 sampai 1931 pada masa kekuasaan Kesultanan Utsmani. Kemudian bangunan ini disekulerkan dan dibuka sebagai museum pada 1 Februari 1935 oleh Republik Turki.

Dan kini, Aya Sofia menjadi masjid kembali pada Jumat, 10 Juli 2020 setelah pengadilan Turki memutuskan bahwa konversi Hagia Sophia pada tahun 1934 menjadi museum adalah ilegal. Keputusan ini membuka jalan untuk kembali mengubah monumen tersebut menjadi masjid. Gitu ceritanya.

Kedua, sikap intoleransi yang dilontarkan musuh-musuh Islam seringkali pakai standar ganda. Hanya berlaku kalo umat Islam yang berbuat, meski faktanya tak sesuai dengan yang mereka tuduhkan. Namun jika pihak non Islam yang berbuat, mereka diam seribu basa.

Lihat saja, tahun 2019 mereka seolah diam ketika ketika Israel mengubah Masjid bersejarah umat Islam menjadi Bar dan aula pernikahan. Masjid itu adalah Masjid Al-Ahmar (Merah). Masjid ini adalah bangunan bersejarah milik warga Palestina sejak abad ke-13 yang berada di kota Safed.

Al-Ahmar adalah salah satu masjid paling bersejarah di kota Arab, yang diduduki oleh geng-geng Yahudi pada tahun 1948, bangunan itu pertama-tama berubah menjadi sekolah Yahudi, kemudian menjadi pusat kampanye pemilihan Likud, kemudian menjadi gudang pakaian sebelum akhirnya diubah menjadi klub malam.

Sekretaris Safed and Tiberias Islamic, Khair Tabari mengatakan ia telah menunggu pengadilan Nazareth untuk mengambil keputusan terkait pengaduan yang ia ajukan meminta Al-Ahmar dikembalikan menjadi Masjid.

Dia mengatakan dia Juga melampirkan dokumen untuk membuktikan kepemilikan Islam atas masjid. Dia menyerukan berbagai badan politik untuk meningkatkan kerja sama mereka dengannya untuk menyelamatkan masjid dari pelanggaran. Tabari mengatakan bahwa masjid sekarang terbuka untuk digunakan untuk semua hal kecuali doa oleh umat Islam.

Tak hanya mesjid al-Ahmar, sebuah studi juga menunjukkan bahwa 40 masjid Palestina telah dihancurkan, ditutup, atau ditinggalkan, sementara 17 lainnya diubah menjadi bar, restoran, atau museum. Menurut penelitian itu, Israel mengubah Masjid Al-Ahmar di kota utara Safed menjadi gedung konser, sementara Masjid Al-Jadid di Kota Kaisarea diubah menjadi sebuah bar. (News.okezone.com, 29/07/2020)

iklan buletin teman surga

Merindukan Kebangkitan Islam Hakiki

Hagia Sophia, sebuah bangunan megah yang sangat mencolok di kota Istambul, Turki. Menjadi landmark yang ikonik. Kemegahan dan keindahannya menjadi magnet bagi siapa saja yang melihatnya.

Setelah penantian yang amat panjang. Setelah 86 tahun lamanya, Hagia Sophia berfungsi sebagai museum, kini angin segar itu kembali berhembus. Angin segar yang memberikan kesejukan dan semangat baru bagi kebangkitan dunia Islam, karena disadari ataupun tidak, kembalinya Hagia Sophia memberikan suntikan semangat bagi kaum muslimin untuk kembali menengok bagaimana cara memperolehnya, memakmurkannya, menjaganya, dan mempertahankannya.

Semangat merajut kembali persatuan kaum muslimin bukan hanya untuk muslim Turki namun juga untuk kaum muslim di seluruh dunia. Itulah yang sepertinya ditakutkan oleh dunia internasional.

Aya Sofia adalah saksi sejarah tentang sebuah kejayaan Islam, jejak puncak mercusuar Islam di Eropa Timur, bahkan cahayanya menembus ke seluruh penjuru dunia kala itu, sebagaimana Masjid Cordova yang berada di Andalusia, atau Spanyol yang juga puncak mercusuar Islam di barat.

Aya Sofia begitu terkenal dengan kubahnya yang besar dan tinggi. Ukuran diameter 32 meter, dengan ketinggian 55,2 meter dari dasar. Interiornya dihiasi mosaik dan fresko, tiang-tiangnya terbuat dari pualam warna-warni dan dindingnya dihiasi ukiran.

Kebahagiaan kita sebagai seorang muslim akan kembali berfungsinya Aya Sofia sebagai mesjid jangan sampai bikin kita lupa diri akan arti kebangkitan Islam yang hakiki. Yaitu kebangkitan berfikir umat Islam sehingga menjadikan syariah sebagai satu-satunya rujukan dalam menyelesaikan setiap permasalahan yang dihadapi.

Tak cukup hanya simbol-simbol kejayaan Islam yang kita perjuangkan. Tapi juga mimpi besar lain yang mesti kita wujudkan. Yaitu kembalinya kejayaan Islam sebagaimana ditegaskan oleh Allah swt dalam firman-Nya:

“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan mengerjakan amal saleh, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai (Islam). Dan Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun. Tetapi barang siapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nur; 24:55)

Agar tak hanya Aya Sofia yang kembali pada pangkuan umat Islam. Tapi juga wilayah Palestina yang dijajah zionis Israel, terbebasnya saudara-saudara kita yang terintimidasi di Rohingya Myanmar, di Uighurs China, dan negeri lainnya.

Dan pastinya, bukan hanya kewajiban warga muslim di Myanmar, Palestina, China atau wilayah lain yang tertindas untuk bangkit melawan tindakan diskriminasi dari musuh-musuh Islam. Tapi juga kita sebagai saudara seakidah wajib ikut ambil bagian dalam dakwah agar umat sadar pentingnya keberadaan pemimpin Islam sedunia yang akan menjaga dan melindungi umat Islam dimanapun mereka berada. Tunggu apalagi, kuy merapat dalam barisan dakwah. Tanpa tapi tanpa nanti.[]

iklan buletin teman surga

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here