Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted on Aug 24, 2020 in Buletin Teman Surga, Headline | 5 comments

Buletin Teman Surga 127. Stop Halu Upgrade Dirimu

Buletin Teman Surga 127. Stop Halu Upgrade Dirimu

buletin teman surga 127. stop halu upgrade dirimuHalu? Nggak asing dong dengan kata Halu? Bukan halu-halu Bandung lho ya ?! hehehe.. Kebangeten deh kalo nggak tahu arti dari halu. Bukan generasi jaman now-lah kalo nggak tahu arti halu. Udahlah, sengaja nggak kita kasih tahu artinya di sini, lama-kelamaan kamu juga bakal tahu artinya. Eh, enggak ding, kita kasih deh bocorannya arti halu. Isitilah kata halu sendiri tak lain ialah singkatan kata dari halusinasi. Jadi mungkin idiom ini muncul pertama kali dari chating WA, dari pada nulis halusinasi, kepanjangan, terus disingkat jadi halu.

iklan buletin teman surga

Halu, Gabut dan Boring

Nah, ngomongin halu nih, kira-kira di kondisi pendemi kayak gini, rasa halu itu kian menjadi-jadi nggak sih? Karena aktvitas kita kan banyakan di rumah. Ya, walapun sudah banyak juga yang sudah keluar rumah. Tapi kayaknya kalo dipersentase banyak di rumahnya ya kan? Biasanya di saat waktu normal sebelum pendemi, bisa nongki-nongki, bisa mabar, bisa jelong-jelong, tapi pas kena pendemi, semua aktivitas kayak gitu, seakan musnah.

Akhirnya, siklus atau traffic di rumah udah bisa ketebak, antara dapur, sumur dan kasur. Kalo penghuni rumahnya banyakan dengan traffic yang padat, bisa kena traffic jam atau setidaknya boring ketemuanya 2L Loe Lagi-loe lagi, hehe. Kebayangkan, aktivitas di rumah jadi kayak terbatas gitu. Saking terbatasnya sampe mentok kepentok, trus gabut deh.

Tahu kan gabut? Duh, masak harus diterjemahin juga sih, apa itu gabut. Tapi yang jelas, gabut itu bukan temannya rumput ya. Intinya mah gabut, itu bingung dan nggak tahu mau ngapain atau mau ngelakuin apa lagi. Ya, gimana nggak gabut, lha wong selama ini aktivitasnya banyak di luar, tetiba aja kudu di rumah berjam-jam, bahkan berbulan-bulan.

Sampe akhirnya pada suatu titik, kamu pun terpaksa halu. Halu pun menjadi-jadi ketika teman setia di kala pendemi adalah gadget. Karena memang kayaknya nggak ada “pelampiasan” termudah kalo pas gabut dan boring, kecuali cuman handphone. Mulai dari main game, stalking, sampe update status nggak jelas. Trus, pertanyaannya, kalo udah pegang gadget, abis itu ngelakuin aktivitas yang itu-itu aja, diulang-ulang, apa dijamin nggak bakal boring dan sampe pada titik gabut?

Iya bisa jadi boring dan gabut, karena memang pada dasarnya, orang kalo udah ngelakuin sesuatu diulang-ulang dalam waktu yang cukup lama, akan jatuh pada kebosanan. Kecuali, nah ada pengecualliannya. Apa aitu? Kecuali mindset atau niat kita ngelakuin sesuatu yang berulang-ulang tadi dalam rangka ibadah kepada Allah.

Contoh gampangnya kenapa kita nggak bosen ngelakuin sholat, ya udah jelas karena secara mindset kita sadar bahwa sholat itu ibadah kepada Allah. Sebuah perintah yang memang ada dalil atau landasannya. Kalo ada seorang muslim, sampe dia bosen sholat (naudzubillah min dzalik), gegara dia sholat tapi “nasib”nya nggak berubah, doa-doanya nggak terjawab, lalu dia berhenti sholat. Nah, pada kasus kayak gitu yang nggak beres adalah masalah keimanan alias tauhidnya.

iklan buletin teman surga

Halu, Bahaya Nggak Sih?

Halusinasi adalah membayangkan sesuatu yang seolah-olah sesuatu itu nanti akan begini dan begitu. Tentu kalo maknanya lebih kepada memprediksi atau memperkirakan dan mengasumsikan yang ke arah kebaikan, tentu hal kayak gitu positif-positif aja. Misal aja, kita mau bikin sebuah rencana event, taruh aja kajian online di era pendemi. Trus, kita berpikir tentang kemungkinan atau potensial problem yang bakal muncul, maka itu wajar, bahkan harus. Misalnya berpikir, gimana kalo jumlah pesertanya nggak sesuai target, atau gimana kalo ada gangguan sinyal, dst-nya.

Lalu, pertanyaan berikutnya, gimana ya caranya memenej halu? Apakah halu bisa dimenej? Sebagai sebuah perasaan, ataupun reaksi dari naluri yang merupakan bagian dari kendala kita sebagai manusia, maka halu akan bisa dimanej. Gimana caranya biar nggak gampang halu?

Pertama, harus lebih percaya realita daripada prasangka. Di tengah masa pendemi kayak gini, orang akan mudah terbawa emosi, apalagi angka kematian akibat virus covid-19 tak kunjung menurun, bikin orang gampang parno dan jatuhnya halu tadi. Tapi hal kayak gitu akan terdistrak kalo lebih percaya kepada realita daripada prasangka. Maksudnya apa?

Ya maksudnya realistis aja ngadepin pendemi, bukan bermaksud ngegampangin, tapi kalo emang kita udah prepare dan save dengan tidak melanggar protokal, ya udah nggak usah halu berlebihan bakal terpapar virus. Pun dengan selama kita di rumah aja, kalo kita realitasnya nggak ngapa-ngapain, atau ngapai-ngapain tapi aktivitasnya banyak ke arah yang kurang manfaat, udah pasti jatuhnya pada bosen dan halu.

Kalo Bahasa Al-Qur’an, kebanyakan mengikuti prasangka disebut sebaagi zhann. Sebagaimana Allah sampaikan

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan ZHANN/prasangka, karena SEBAGIAN dari prasangka itu dosa.” (QS. al Hujuraat: 12)

“Mereka tidak lain hanyalah mengikuti PERSANGKAAN belaka, dan mereka tidak lain hanyalah BERDUSTA.” (QS. Al-An’aam: 116)

Kedua, halu akan mudah datang ketika kita beri ruang kosong. Jadi selama pendemi di rumah aja, pastikan kita benar-benar sibuk, sehingga tidak ada ruang bagi naluri atau perasaan kita untuk berhalusinasi. Berbeda dengan berimajinasi lho ya, karena imajinasi kadangkala kita perlukan untuk mengembangkan atau membuat kita menjadi lebih kreatif. Tapi imajinasi juga ada batasan-batasannya. Selama tidak berimajinasi ke arah negatif alias mikir yang bukan-bukan, maka itu masih fine-fine aja.

Aktivitas selama di rumah aja, bukan sekedar sibuk tapi sibuk yang bermanfaat dan bernilai ibadah. Kalo perintahnya dari Allah mah udah ada, dimana Allah SWT menyampaikan:

“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain” (QS. Al Insyirah 7).

Itu artinya, aktivitas kita harus susul menyusul, hari-hari kita dibuat sibuk, hingga tak ada ruang untuk galau, boring atapun halu.

Loh kalo padet aktivitasnya, bukannya malah cepet boring? Ya, enggaklah. Seperti udah disinggung di atas tadi, asalkan ada mindset atau niat ibadah. Coba perhatikan ketika Allah SWT berfirman

“maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan sholat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah “ (QS. Al-Jumu’ah: 9-10)

Jadi, balance banget gitu perintah aktivitasnya dari Allah. Diperintahkan untuk bergegas mengingat Allah (salah satunya sholat jumat) dengan nggak pake berat ninggalin urusan dunia (saah satunya jual beli). Tapi kalo udah kelar ngelakuin ibadah, boleh deh kamu ngelakuin aktivitas dunia lagi. Di situlah, kalo kita sibuk kayak gitu, kita tidak akan rentan terpapar halu.

Ketiga, pastikan kita mempergunakan otak kita untuk berpikir kreatif dan inovatif saat pendemi. Kalo tidak, akan terdominasi oleh perasaan. Bukan berarti nggak boleh menggunakan naluri/perasaan, cuman memang kita harus menggunakannya pada posisi, waktu dan porsi yang tepat. Bukan pula mempertentangkan antara logika vs rasa, tapi Allah menciptakan masing-masing tentu ada manfaatnya dan ada porsinya. Perasaan misalnya, kita sangat perlukan saat kita sedang menolong tetangga yang menjerit kelaparan, pada saat seperti itu, logika nggak boleh mendominasi. Kita bantu tetangga kita yang kelaparan itu semampu kita, bukan semau kita, perlu dilandasi ibadah.

“(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imron 134)

iklan buletin teman surga

Upgrade Dirimu, Gaes!

Sampe saat sekarang kita segede ini, sudahkah kita berpikir “kita menjadi apa/siapa” kelak di masa depan”? Ini penting lho gaes. Kalo di kondisi saat ini, kalo kamu belum mikiran apa-apa, sebenarnya udah dibilang terlambat. Sebagai contoh aja ya, Muhammad Al Fatih sang penakluk Konstantinopel, di umur dia yang belasan udah hafal 7 bahasa, hafal Qur’an, mampu menguasai ilmu strategi perang, ilmu geopolitik, maka pantaslah di saat usia beliau matang, mampu menaklukkan Kota Konstantinopel. Lah kita?

Kalo Kota Konstantinopel bisa takluk di tangan pemuda sekualitas Muhammad Al Fatih, maka Kota Roma pun akan takluk di tangan pemuda yang kualitasnya di atas rata-ratanya Muhammad Al-Fatih. Jadi, sebenarnya bagi orang yang beriman, Kota Konstantinopel sudah takluk di saat Rasulullah menyampaikan hadits tersebut, cuman perealisasi janii Rasulullah itu tinggal siapa yang ngambil dan siapa yang berhasil. Pun dengan Kota Roma dalam sebuah riwayat, salah seorang sahabat Nabi, Abu Qubail bercerita:

“Ketika kita sedang bersama Abdullah bin Amr bin al-Ash, dia ditanya, ‘Kota manakah yang akan dibuka terlebih dahulu; Konstantinopel atau Roma?’ Abdullah meminta kotak dengan lingkaran-lingkaran miliknya. Kemudian dia mengeluarkan kitab. Lalu ia berkata, ‘Ketika kita sedang menulis di sekitar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau ditanya: ‘Dua kota ini manakah yang dibuka lebih dulu: Konstantinopel atau Roma?’ Rasul menjawab, ‘Kota Heraklius dibuka lebih dahulu.’ Yaitu: Konstantinopel’.” (HR Ahmad, ad-Darimi dan al-Hakim)

Nah, siapkan diri kita untuk menjadi perealisasi bisyaroh (berita gembira) sebagai penakluk Roma. Takluknya Kota Roma itu sebuah kepastian, cuman kita menjadi apa/siapa pada saat Kota Roma itu takluk? Nggak level donk, kalo cuman jadi penonton, kita harus mau dan memampukan diri berada di barisan pejuang dan pasukan penakluk Roma. Sekali lagi, itu butuh kita siapkan dari sekarang, makanya upgrade dong diri kita. Apa yang perlu diupgrade?

Upgrade Iman. Upgrade iman di sini maksudnya adalah memperkokohnya. Nggak mungkin untuk bisa menaklukan digdaya Romawi Timur saat itu, bila Muhammad Al Fatih nggak memiliki iman yang kokoh. Itu tercermin dari sisi nafsiyahnya beliau bahwa menurut Riwayat, beliau tidak pernah meninggalkan sholat sunnah rawatib. Hal itu terungkap pada saat menjelang pagi subuh sebelum penaklukan, beliau mencari amalan-amalan terbaik yang dilakukan oleh para pasukannya, dan ternyata setelah diseleksi, dirinyalah yang memenuhi kriteria menjadi imam sholat subuh saat itu.

Sikap taqarub (dekat) kepada Allah, hanya bisa dibangun ketika memiliki iman yang kokoh. Iman yang kokoh yang didapat dengan jalan keimanan yang shahih, akan menghantarkan seorang hamba untuk takut bermaksiat. Maka pada saat penaklukan Konstantinopel juga memerintahkan kepada pasukannya untuk tidak bermaksiat, bahkan berpuasa pada saat penaklukan. Karena dia sadar, bukan karena kuatnya pasukan, benteng Konstantinopel runtuh, tapi semata-mata pertolongan Allah. Nah, kalo kita mau jadi golongan yang ditolong oleh Allah, upgrade iman kita.

Upgrade Tsaqofah. Tsaqofah di sini lebih kepada ilmu tentang agama, istilahnya mungkin bisa disebut “ilmu alat”, seperti bahasa Arab, ilmu siroh atau tarikh, dan sebagainya. Bukan sekedar untuk dihafal, tapi kita harus bisa ngambil ibroh atau hikmah dari ilmu-ilmu tersebut. Kalo tujuan kita penaklukan Roma, maka manfaatkan masa pendemi yang lebih banyak di rumah ini, untuk nambah tsaqofah kita tentang gimana sejarah bangsa Roma, memahami gimana hadits tentang menyiapkan diri sebagai penakluk Roma, dan sebagainya.

Intinya, jangan diam gabut aja di rumah. Kalo selama ini kamu merasa lemah di bahasa Arab, ayo dong, pendemi ini gunakan untuk belajar atau kursus online bahasa Arab. Kalo selama ini kamu lemah di hafalan hadist, ya udah ambil itu buku-buku hadits, lalu hafalin sebanyak-banyaknya hadits. Kalo kamu merasa tertarik belajar sejarah Islam, tapi selalu tertunda-tunda, nah mumpung pendemi, gunakan sebaik-baiknya untuk belajar Siroh Nabawiyah, lalu Tarikh Khulafa dan buku-buku sejenisnya.

Upgrade Skill. Kalo iman udah diasah lalu tsaqodah udah diperdalam, maka tak ketinggalan ilmu skill juga kudu diupgrade. Kalo terkait ilmu skill ini sangat tergantung selama ini kamu suka, hobi, atau passion di bidang apa. Nah, skill di bidang itu diperdalam. Kalo di masa penaklukan Kota Konstantinopel, sejarah mencatat pernah diciptakan Meriam dengan ukuran super duper guede yang bisa menghantam tembok Konstantinopel. Kira-kira nih, skill apa yang kita harus miliki untuk menciptakan sejarah penakluk Roma.

Skill menciptakan senjata? Bisa jadi. Skill menciptakan strategi perang? Bisa juga. Atau bisa jadi Kota Roma tidak takluk dengan perang, tapi dengan diplomasi? Sangat boleh jadi, maka skill public speaking, skill diplomasi, skill negoisasi dan sejenisnya sangat diperlukan. Atau bisa jadi skill menulis diperlukan, bisa aja karena tulisan buku-buku kita membuat orang-orang Roma sadar bahkan hingga sampe ke Paus, yang akhirnya secara damai kota Roma bisa kita taklukan.

Gaes, jangan sepeleken skill apapun asalkan itu diarahkan untuk dakwah dan kemenangan Islam, maka upgrade lah skill itu mulai sekarang. Hingga pada saatnya tiba, kita benar-benar menjadi kontributor utama dari penyambut kemenangan Islam di masa depan. So, bakar semangatmu untuk mengupgrade diri, agar tidak mudah halu. Takbir! Allahu Akbar. []

iklan buletin teman surga

5 Comments

  1. sangat bermanfaat

  2. Bagus mantap berguna sekali

  3. Sangat bermanfaat. Bisa minta link wa/tg buletin teman syurga yg update? Krn saya ada masuk grup tg tp update terakhir tanggal 24 kemarin. Syukran.

  4. Sukaaa,,, pengingat diri untuk diri yg kadang suka lupa

  5. Perfect

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *