Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted on Oct 19, 2020 in Buletin Teman Surga, Headline | 0 comments

Buletin Teman Surga 134. Anak Sultan, Berani Miskin Demi Iman

Buletin Teman Surga 134. Anak Sultan, Berani Miskin Demi Iman

buletin teman surga 134. anak sultan berani miskin demi imanHallo #TemanSurga, kalian pasti sering mendengar istilah ”Anak Sultan”, kan? Nah, kalau dengar istilah ”Anak Sultan”, apa yang terlintas di benakmu? Yapz, ”Anak Sultan” itu berlimpah harta, mewah, bebas mau apa aja, manja, dan menjelma jadi idola. Betul begitu? Yes!

Kebayang enggak sih kalau ada anak sultan yang rela meninggalkan kemewahan? Secara logika, sepertinya mustahil, deh. Tapi nyatanya ada loh anak sultan yang memilih kesusahan dalam hidupnya. Dia tinggalkan semua kemewahan yang ada. Kemudian dia menapaki terjalnya jalan kehidupan, jauh dari fasilitas yang memanjakan. Seriusan ada yang begitu? Serius, ada!

iklan buletin teman surga

Sang Idola Bervisi Surga

Dear #TemanSurga, berabad-abad yang lalu pernah ada seorang pemuda yang menjadi idola. Dia berasal dari keluarga yang kaya raya di negeri Arab. Pakaiannya selalu yang terbaik. Aromanya senantiasa semerbak penuh keharuman. Seluruh fasilitas kemewahan ia dapatkan. Bukan hanya itu, si pemuda pun memiliki paras yang tampan mempesona. Kecerdasannya juga tak dapat dipandang sebelah mata. Pokoknya sempurna! Maka wajar saja jika banyak di antara wanita yang tergila-gila pada sang pemuda.

Siapakah dia? Kalian pasti sudah sangat familiar dengannya. Yapz, dia adalah Mush’ab bin Umair. Seorang pemuda arab yang selalu viral pada masanya. Setiap geraknya pasti menjadi sorotan dan perhatian. Kehadirannya menjadi hal yang selalu dirindukan. Namun siapa menduga jika gemerlap dunia yang melekat padanya seketika lenyap tak tersisa? Lebih tidak percaya lagi, Mush’ab bin Umair sendiri yang memilih pergi meninggalkan semuanya. Kok bisa?

Begitulah kehidupan dunia ini. Semuanya fana, tidak ada yang harga mati. Termasuk jalan hidup manusia. Roda berputar dan segalanya bisa berubah. Mush’ab bin Umair menemukan arus baru dalam kehidupannya. Memang tidak bergelimang harta, tetapi ketenangan dan kebahagiaan yang ia rasakan sungguh tidak ada bandingan. Sang anak sultan telah mengecap manisnya iman.

Sebagaimana penduduk arab lainnya, Mush’ab bin Umair juga mendengar viralnya kabar kenabian Muhammad Saw. Sebagai pemuda yang cakap dan cerdas, Mush’ab bin Umair segera stalking semua hal tentang berita tersebut. Tidak tanggung-tanggung, Mush’ab bin Umair juga mendatangi forum yang diisi oleh Baginda Nabi Saw. Ia duduk di dalam forum tersebut. Menyimak dengan seksama. Memahami setiap untaian ayat yang dibaca oleh lisan Rasulullah Saw. Dan, hidayah itupun semakin bercahaya memenuhi relung jiwanya.

Mush’ab bin Umair jatuh cinta pada pesan yang disampaikan oleh Rasulullah Saw. Jiwanya terpanggil untuk melebur di dalam iman. Hatinya bertekad bulat untuk bergabung menjadi bagian dari penyebar risalah islam. Jiwa raganya telah siap berkorban apa saja demi perjuangan menegakkan kalimat Allah Swt.

Maka sejak keputusan inilah hidup Mush’ab bin Umair berubah drastis. Kasih sayang orang tua tidak lagi ia dapatkan. Bahkan dirinya dicoret dari garis keturunan. Semua ini diterima oleh Mush’ab bin Umair dengan besar hati. Sebagai anak, sikapnyapun tidak berubah kepada orang tua. meski tidak lagi diakui sebagai anak,  Mush’ab bin Umair tetap mencintai dan menyayangi orang tuanya. Ia tetap bersikap santun dan tidak bertindak semena-mena. Luar biasa!

Tidak hanya sampai di situ, fasilitas yang tadinya serba mewah pun kini lenyap tidak berbekas. Hingga pernah suatu ketika, para sahabat menundukkan wajah dan memejamkan mata mereka karena haru melihat kondisi terbaru Mush’ab bin Umair. Sungguh sangat jauh dari kondisi semula.

Pemuda tampan ini hanya mengenakan jubah usang. Bukan hanya usang, tetapi juga penuh dengan tambalan. Padahal sebelumnya, anak sultan ini berbusana sangat elegan. Aroma harumnya pun semerbak di mana-mana. Maka tidak berlebihan jika beberapa sahabat meneteskan air mata haru menyaksikan pemandangan ini.

Namun berbeda dengan Rasulullah Saw. Beliau justru menatap Mush’ab bin Umair dengan pandangan penuh cinta dan rasa syukur dalam hati. Rasulullah Saw. kemudian menyunggingkan senyum kemudian bersabda, ”Dahulu saya melihat Mush’ab ini tak ada yang mengimbangi dalam memperolah kesenangan dari orang tuanya, kemudian ditinggalkannya semua itu demi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya”. Masyaallah!

Demikianlah Mush’ab bin Umair menempuh jalan hidup dengan penuh kesukaran demi mempertahankan keimanan. Ia tinggalkan gemerlap dunia demi mengejar kenikmatan surga. Keren banget lah pokoknya!

iklan buletin teman surgaApa Kabar Iman Kita?

Asli speechless banget dengan kisahnya Mush’ab bin Umair. Memang terbukti ya, cinta mampu menjadikan yang tidak mungkin menjadi mungkin.  Nyata adanya, cintanya Mush’ab bin Umair kepada Allah Swt. dan Rasulullah Saw. mampu memalingkan dirinya dari ke-uwuw-an dunia. Ya, memang seperti inilah harusnya ekspresi cinta. Semakin mendekatkan jiwa kepada Sang Pencipta. Kian menguatkan diri untuk patuh dan taat hanya kepada-Nya. Hallo, terus bagaimana kabar iman kita yang bukan anak sultan?

Yapz, meski kita bukan anak sultan. Kita pun hidup di akhir zaman. Jauh dari masanya Mush’ab bin Umair. Bukan berarti kita enggak layak mengambil pelajaran. Selama nyawa masih di kandung badan, maka selama itu pula banyak kebaikan yang harus kita perjuangkan. Termasuk menginstal keimanan agar menjadi kokoh tak tergoyahkan. Harus diperjuangkan! Apa lagi kita bukanlah anak sultan, jangan sampai derita nestapa kita rasakan di dunia plus di akhirat. Ngeri banget itu, mah!

Kita bisa mencontoh amal orang-orang saleh terdahulu. Termasuk juga kisah Mush’ab bin Umair, sangat mungkin untuk kita teladani. Bagaimana dia mengoptimalkan segala potensinya untuk mencari kebenaran? Bagaimana kerasnya dia dalam berupaya peroleh pemahaman? Kenapa dia meninggalkan kemewahan dan memilih bertahan dalam kesusahan? Semua ini bisa kita bedah dan kemudian menjadi rujukan dalam menjalani kehidupan dengan suasana iman.

Kepo alias serba ingin tahu, inilah sifat dari Mush’ab bin Umair yang bisa kita tiru. Perhatikan baik-baik, keponya bukan untuk hal-hal unfaedah loh ya. Rasa ingin tahu yang tumbuh dalam jiwa Mush’ab adalah untuk mencari kebenaran. Istilahnya open minded  dalam mengkaji berbagai isu. Mencari kebenaran dengan penuh semangat dan sungguh-sungguh. Duduk dalam majelis ilmu dengan penuh kesabaran serta keseriusan. Sehingga pemahaman itu ia dapatkan dan keimanan menancap kuat tidak tergoyahkan.

Cara ini tentu sangat mungkin untuk kita tiru. Apalagi saat ini begitu mudah mendapati majelis-majelis ilmu. Kita hanya tinggal mengasah kesungguhan dan keseriusan untuk jor-joran mengejar iman. Kuncinya satu, yakni kemauan. Kalau sudah mau, yakinlah akan ada ribuan jalan untuk mendapatkan. Coba aja!

Selalu membersamai orang-orang yang beriman. Ini adalah amal Mush’ab yang juga kudu dijiplak. Ya, karena memang lingkungan itu sangat besar pengaruhnya. Lingkaran pertemanan akan sangat menentukan bagaimana kualitas kita. Sebagaimana hadist Rasulullah Saw,

”Seseorang itu dikenali berdasarkan sahabatnya, maka bersikap bijaksanalah dalam memilih sahabat.” (HR. Ahmad)

Ini serius, hati-hati dalam memilih sahabat. Pastikan bahwa diri kita selalu nempel pada sahabat-sahabat yang bertakwa. Sebab merekalah yang akan memboyong kita masuk ke dalam surga. Jangan sampai merapat pada karakter sahabat yang sebaliknya, yes! Waspadalah!

Pokoknya, kita-kita yang bukan anak sultan ini, kudu bin harus serius mengejar kesenangan di surga. Mush’ab bin Umair yang berlimpah kemewahan dunia aja rela memilih menderita di dunia demi surga. Masak iya kita yang dasarnya sudah menderita di dunia tetap mau menderita di akhirat? Duh, jangan deh! Kita mesti berjuang lebih keras agar mendapatkan kebahagiaan di dunia sampai ke surga. Memang sulit, tapi kita pasti bisa. Semangat![]

iklan buletin teman surga

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *