Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted on Oct 25, 2020 in Buletin Teman Surga, Headline | 0 comments

Buletin Teman Surga 135. Siap Jadi Pemimpin?

Buletin Teman Surga 135. Siap Jadi Pemimpin?

buletin teman surga 135. siap jadi pemimpinJadi pemimpin? Hem, sepertinya bakal banyak dari man-teman yang mengernyitkan dahi kalo ditanya siap jadi pemimpin. Untuk jadi ketua kelas aja, kadang rebutan. Iya rebutan untuk nolak dan malah nunjuk temannya yang lain, hihihi…

Kenapa ya banyak dari kita koq pada nggak pede gitu kalo ditunjuk jadi pemimpin? Kenapa banyak yang ngeles, kalo diminta jadi pemimpin? Entah itu pemimpin kelas, pemimpin kelompok atau pemimpin apapun? Bukannya kita memang harus siap jadi pemimpin? Trus, gimana sebenarnya Islam ngasih guidance supaya kita bisa jadi pemimpin? Nah, pertanyaan seputar bakal dikuliti abis di edisi BTS kali ini. Jadi, jangan di-skip ya ngebacanya?!

iklan buletin teman surga

Pede Jadi Pemimpin? Kenapa Nggak?!

Ada kadang yang ditunjuk jadi pemimpin, bilangnya “saya belum pernah”, atau “saya nggak ada pengalaman jadi ketua”, dan sebagainya. Kalo persoalannya belum pernah jadi pemimpin, ya tentu aja di usia kita yang masih remaja, belum ada yang punya banyak pengalaman jadi pemimpin. Justru kalo memang kita mau punya pengalaman, ya berarti ambil aja kesempatan atau tawaran jadi pemimpin. Saat itulah, kita bisa learning by doing untuk jadi seorang pemimpin.

Ada yang kadang juga ngeles kalo disuruh jadi pemimpin, alasannya “aku nggak bakat jadi pemimpin”, atau “aku nggak punya keahlian jadi pemimpin”. Tapi apa bener jadi pemimpin itu sebuah bakat atau keahlian? Hem, mungkin bagi sebagian orang berlaku begitu, tapi kalo digebyah uyah alias digeneralisir kayaknya nggak bener juga.

Tapi ada juga yang ogah jadi pemimpin dengan mengatakan “aku nggak bisa”, atau yang mungkin lebih ekstrimnya “aku nggak mau”. Wah kalo ini sih terlalu dini, dan sebuah jumping konklusi. Iya, belum pernah dicoba, belum ada pengalaman, tapi sudah mengklaim diri nggak bisa atau nggak mau jadi pemimpin.

Padahal, kadang menjadi pemimpin itu tanpa diminta atau disuruh sudah auto jadi pemimpin. Misalnya, kalo kamu di keluarga jadi anak pertama atau tertua tentu akan secara otomatis jadi pemimpin bagi adik-adikmu. Misal lagi, kalo kamu yang paling awal membuat sebuah kelompok atau komunitas misalnya, maka teman-teman kamu akan secara aklamasi menunjuk kamu jadi pemimpin. Sehingga menjadi pemimpin itu kadang sebuah kelumrahan di kehidupan kita sehari-hari. Oleh karena sudah jadi kelumrahan, mau nggak mau kita harus siap atau pede untuk jadi pemimpin.

Nah, tinggal kita sendiri membiasakan diri untuk mau dan bisa jadi pemimpin. Ini emang nggak mudah, tapi juga nggak boleh kita gampangin. Karena soal jadi pemimpin itu tergantung personal dan juga soal memimpin kan tergantung levelling juga. Kalo cuman jadi pemimpin adik-adik kita mungkin nggak sekomplek atau seribet memimpin teman-teman satu kelas atau bahkan satu sekolahan. Belum lagi nanti kalo udah lulus, atau main di luar sekolah, bakal ada juga amanah untuk jadi pemimpin.

iklan buletin teman surga

Hari Ini Mimpin Kelas! Besok?!

Oke klir ya. Siap atau nggak siap, mau nggak mau kita harus jadi pemimpin. Apalagi memang kita ini semua pemimpin, sebagaimana Rasulullah SAW sampaikan sabdanya yang disampaikan oleh Imam Bukhari dan Muslim

“Masing-masing kalian adalah pemimpin, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban tentang orang yang dipimpinnya.” Dan dalam hadits tersebut sampe dirinci, seperti “Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya..”. Trus, “Wanita adalah pemimpin bagi rumah suaminya dan anaknya..”, bahkan “Seorang budak adalah pemimpin terhadap harta tuannya..” Lalu ditutup dengan kalimat yang sekaligus penekanan bahwa “Ingatlah, masing-masing kalian adalah pemimpin dan masing-masing kalian akan diminta pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Umar)

Jadi, sadar nggak sadar kita semua ini memang pemimpin, bahkan di hadits tersebut seorang budak pun bisa atau harus jadi pemimpin. Nah, maka di sini kosakata “menjadi pemimpin” itu mengandung makna seenggaknya ada dua. Pertama, yakni pemimpin dalam artian umum, bahwa semua orang bisa disebut pemimpin. Kedua, pemimpin dalam arti khusus yang maksudnya adalah sebuah jabatan atau amanah. Untuk makna yang pertama kita udah bahas tadi di atas, bahwa menjadi pemimpin itu sebuah kelumrahan alias kewajaran.

Tinggal pembahasan yang kedua, dari sisi pemimpin sebagai sebuah jabatan dan atau amanah. Sebelum ngebahas itu, kita coba pahami lagi teks hadis di atas, bahwa untuk menjadi pemimpin dalam arti khusus maupun umum, haruslah siap dengan tanggungjawab. Apalagi kalo kepemimpinan kita dalam arti khusus, memegang jabatan atau amanah, kayak ketua kelas, ketua OSIS, ketua Rohis, ketua PMR, dan sebagainya. Maka jabatan kayak gitu bukan cuman butuh pertanggungjawaban terhadap yang dipimpin.

Kalo kita sebagai ketua kelas misalnya, yang kita atur ya hanya seisi kelas, cuman baik buruknya seisi kelas itu jadi tanggungjawab kita. Meskipun kita punya anak buah yang kita pimpin, tapi tetap aja, kalo kenapa-kenapa dengan kelas, bakal kita juga yang kena dampaknya. Itulah namanya konsekuensi jadi pemimpin, apalagi kalo level pemimpin atau yang kita pimpin bukan cuman teman sekelas. Ya bukan menakut-nakutin tapi sebaliknya, kalo pas kita jadi pemimpin, ternyata hasilnya bagus, ya kita dapat ganjaran dari Allah.

Iya dong, yang kita kejar harus pahala levelnya, bukan tepukan tangan. Karena kalo cuman tepukan tangan, iya kalo dapat? Kalo kagak dapat, kan kita bisa sakit hati?! Itu artinya, kita menjadi pemimpin sekecil apapun levelnya saat ini, misal jadi ketua kelas, niatnya harus lurus dan tulus karena Allah. Kalo sedari sekarang kita bisa ngelatih diri kita kayak gitu, maka kelak suatu saat kalo kita benar-benar jadi pemimpin besar, kita sudah terlatih untuk ikhlas karena Allah.

iklan buletin teman surga

Skill Memimpin Itu Dilatih, Bukan Dilahirkan

Nah, bicara pemimpin sebagai sebuah jabatan, tentu aja di sini bukan asal berkata “mau” aja untuk jadi pemimpin, tapi levelnya udah harus “bisa”, bahkan kalo bisa levelnya “expert” alias ahli. Tapi untuk sampe ke situ harus dilatih, butuh ilmu dan juga harus siap dengan asam garamnya pengalaman jadi pemimpin. Karena untuk menjadi pemimpin itu bukan karena keturunan, bukan karena kita dilahirkan dari orang tua seorang pemimpin. Syukur-syukur kalo orang tua kita secara sadar melatih kita menjadi pemimpin.

Di sini coba kita sederhanakan kira-kira apa saja skill yang harus dimiliki seseorang untuk jadi seorang pemimpin. Setidaknya ada 3 kemampuan dasar yang kudu kita miliki untuk jadi pemimpin.

Pertama, conceptual skill. Skill ini kalo levelnya kita masih sekolah kayak sekarang berarti kemampuan untuk mengkonsep atau mengorganiz acara, from A to Z. Trus, juga skill ini kaitannya dengan kemampuan membuat mind maping atau orang yang di sini punya kemampuan sebagai master mind. Nah, sekali lagi skill ini bisa dilatih, nggak harus sekolah secara khusus, tapi kadang hanya bisa dibentuk dari kebiasaan, keseringan dan yang pasti praktik yang terus menerus.

Skill ini kita bisa lihat pada sosok Muhammad Al-Fatih sang penakluk Konstantinopel. Dimana dia, bisa mengonsep gimana tata perang supaya Konstantinopel yang telah ratusan tahun gagal ditaklukan oleh pendahulunya bisa berhasil Ia taklukan. Belajar dari pengalaman masa lalu, ditambah kemampuan dari ilmu-ilmu lain, serta nggak ketinggalan juga inspirasi dari bisyaroh alias berita gembira dari Rasulullah SAW, yang membuat Al-Fatih, mampu menjadi pemimpin fenomenal di masanya.

Kedua, communication skill. Ini juga kemampuan dasar yang harus dimiliki seorang pemimpin, yakni kemampuan komunikasi secara interpersonal maupun intrapersonal. Jadi bukan hanya mampu berbicara di dalam kepada anak buahnya, tapi juga kepada khalayak juga kudu mampu menyampaikan pesan. Pun sebaliknya, nggak cukup mampu berbicara di publik tapi ke teman-temannya sendiri malah nggak mampu.

Sosok yang bisa ditiru atau dijadikan contoh tentu saja yang paling fenomenal adalah Mushab bin Umair yang sering dapat julukan sebagai Duta Islam Madinah. Sebab melalui kemampuan reteorikanya, mampu menawan hati para pemuka suku Aus dan Khazraj untuk mengajak kaumnya membela Islam. Dua suku tersebut yang menjadi cikal bakal, lahirnya sebuah peradaban baru Islam di Madinah, sekaligus sebagai tonggak berdirinya Islam sebagai sebuah kepemimpinan.

Ketiga, technical skill. Kalo berbicara teknikal skill tentu saja banyak dan juga kadang sangat  berkembang seiring berkembangnya jaman. Tapi dengan support teknical skill maka seorang pemimpin ini tugas atau amanahnya lebih mudah. Kalo di era sosmed sekarang ini, maka seorang pemimpin kudu melek sosmed, minimal nggak buta-buta amat. Emang sih itu bisa disupport oleh tim, tapi kalo kita sebagai pemimpin mampu menguasainya itu lebih mantab.

Kita lihat saja sosok Muhammad bin Idris As-Syafi’i alias yang kita kenal Imam Syafi’i, beliau bisa dijadikan sosok yang menguasai “ilmu alat” untuk menjadi seorang ulama. Ilmu alat seperti bahasa arab, hafalan hadits, kemampuan menggali hukum dan sejenisnya adalah skill yang harus diutamakan untuk dipunyai sebagai pemimpin. Jadi kalo pemimpinnya kemampuan ilmu alatnya kayak Imam Syafi’i, maka yang dipimpin jadi termotivasi untuk memiliki kemapuan serupa.

Nah, di samping skill di atas tentu aja masih banyak dan boleh juga dipelajari untuk bekal jadi pemimpin. Tapi seenggaknya dengan menguasai 3 kemampuan dasar itu, kita sudah dapat ilmu dunianya. Hanya kemudian, tinggal ilmu-ilmu langit juga kudu kuasai. Karena kita jangan sampe terlena, punya ilmu-ilmu dunia, bikin kita sombong, angkuh atau sok kuasa, karena kita nggak pernah belajar ilmu-ilmu langit.

Salah satu ilmu langit tadi udah disebut, kayak kita harus ikhlas alias tulus mengabdi kepada Allah atas amanah kepemimpinan kita. Trus, juga ilmu langit untuk bisa terus deket, dan ngobrol dengan Allah harus kita punya dan jaga. Makanya amalan-amalan sunnah kayak sholat malam, puasa sunnah, sedekah dan sebagainya, juga kudu kita latih dan rutinkan.

iklan buletin teman surga

Punya Mimpi Jadi Pemimpin Nggak?

Gaes, mulai dari awal sampe ke bagian ini, kita udah ngomongin tentang kita harus jadi pemimpin dan apa bekal yang kita punyai untuk jadi pemimpin. Tapi ngomong-ngomong kalian ada impian untuk jadi pemimpin nggak? Jangan-jangan kita udah berbusa-busa ngomong, …eh bukan ngomong ya…., kita di sini nulis—nulis tentang kepemimpinan tapi kalian nggak sama sekali nggak ada impian jadi pemimpin.

Coba deh baca lagi pelan-pelan tulisan ini dari awal, bahwa di samping menjadi pemimpin itu sebuah kelumrahan, juga ternyata menjadi pemimpin itu bisa jadi sarana ibadah, kalo kita mampu menjalankan amanah. Artinya, sebuah keutamaan menjadi pemimpin dalam Islam sebab kalo kita bisa menjalankan tugas dengan adil maka ia dipandang Allah sebagai seseorang yang mulia.

”Ada tujuh golongan yang Allah beri naungan pada hari kiamat di bawah naungan-Nya dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: seorang pemimpin yang adil,..” (HR Bukhari)

“Tiga golongan yang tidak ditolak do’anya: orang yang berpuasa hingga dia berbuka, seorang pemimpin yang adil..” (HR Tirmidzi)

“Penduduk suurga ada tiga golongan: penguasa yang adil, bersedekah dan mendapat taufik,..” (HR Muslim)

Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash RA, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya orang-orang yang ber­buat adil kelak berada di atas mimbar-mimbar yang terbuat dari cahaya. Mereka adalah orang yang berbuat adil dalam menyampaikan hukum, adil kepada keluarganya, dan orang-orang yang mereka tanggung.” (HR Muslim).

So, pemimpin-pemimpin adil di masa depan adalah kita remaja hari ini. Yuk, memantaskan diri mulai saat ini, jangan ditunda. Semangat, Allahu Akbar![]

iklan buletin teman surga

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *