Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted on Nov 8, 2020 in Buletin Teman Surga, Headline | 0 comments

Buletin Teman Surga 137. Takut Jadi Baik?

Buletin Teman Surga 137. Takut Jadi Baik?

Buletin Teman Surga 137. Takut Jadi BaikTeman Surga, perubahan dalam hidup itu sebuah kepastian. Liat aja, secara fisik kita sendiri mengalami perubahan seiring berjalannya waktu. Dari bayi, tumbuh menjadi anak-anak, lalu remaja, beranjak dewasa, hingga tua renta. Tak ada yang bisa mencegah kulit keriput, rambut memutih, atau gigi ompong di usia senja. Meski udah pakai berbagai macam kosmetik dan terapi, tetep aja bakal tua juga.

Selain fisik, perubahan juga terjadi pada lingkungan sekitar kita. teman-teman sekolah kita terus berubah. Dari teman PAUD, TK, SD, SMP, SMA hingga Perguruan Tinggi. Suasana belajar di sekolah juga berubah sesuai dengan tempat kita mengenyam pendidikan formal. Masing-masing tempat punya suasana yang khas.

Nggak ketinggalan, perubahan juga kita alami dalam cara berpikir dan perilaku. Begitu gencarnya budaya barat yang masuk dalam pergaulan remaja, bikin kita terhanyut dalam kehidupan sekuler yang memisahkan aturan agama dalam keseharian. Budaya pacaran, gaul bebas laki perempuan, gila musik, doyan ngedugem, mabar everyday, atau cari kesenangan gak ada habisnya.

Sampai pada satu waktu Allah swt turunkan hidayah. Kita mulai mengenal Islam lebih dalam. Lambat laun keimanan kita ada perbaikan. Hingga kita memutuskan untuk jadi baik. Jadi remaja sholeh atau sholehah. Remaja anti pacaran dan gaul bebas. Remaja doyan ngaji. Remaja peduli umat. Tapi, semudah itukah kita berubah menjadi baik?

iklan buletin teman surga

Mau Jadi Baik Tapi Galau

Mudah atau susah jalani proses hijrah tiap orang beda-beda tantangannya. Bagi yang awal-awal move on, tantangan terbesarnya nggak jauh dari rasa takut akan sebuah perubahan. Pastinya akan menghadapi berbagai respon dari orang-orang terdekat yang terkadang bikin kaki kita berat untuk terus melangkah menjemput hidup berkah. Beberapa tantangan itu diantaranya,

Pertama, takut dijauhi teman.

Kawanan burung berkumpul dengan sejenisnya. Begitu pula dengan kita selaku manusia. Apalagi remaja, paling betah ngumpul bareng teman-temannya yang punya kesamaan. Entah itu karena satu sekolah, satu kelas, satu hoby, satu tempat kursus, atau kesamaan lainnya.

Kesamaan itu yang bikin mereka tetap ngumpul dan berinteraksi meski di era pandemi ini.

Apa jadinya kalo salah satu di antara mereka udah keliatan ‘gak sama’ lagi. Mungkin dari cara berpakaiannya. Yang tadinya cuek aja pakai baju seksi ngikutin tren, kini menutup aurat sempurna dalam balutan kerudung dan jilbab keren. Yang tadinya asyik pakai celana jeans robek, kaos oblong dengan aksesoris kalung atau gelang yang menghiasi penampilannya, kini lebih rapi dengan baju koko dan celana kain tanpa aksesoris.

Inilah salah satu tantangan yang dihadapi oleh teman-teman remaja yang berusaha sholeh atau sholehah. Kalo udah nggak sama, apalagi keliatan banget beda penampilannya, perlahan teman-temannya mulai menjauhi. Jaga jarak bukan karena pandemi. Tapi dianggap udah gak asyik diajakin main bareng. Walhasil, belum maksimal perbaikan dirinya, tapi ketakutan dijauhin temen bikin proses hijrahnya tersendat dan melambat. Bahkan tak sedikit yang berhenti dan putar balik. Sedih.

Kedua, Ketinggalan tren kekinian

Tren dunia remaja biasanya nggak jauh dari dunia hiburan. Mulai dari film box office, kuliner yang viral, fashion terbaru, hingga kabar album teranyar musisi idola. Nggak jauh dari itu. Dan kita tahu, semua kesenangan itu dekat sekali dengan perilaku yang melenakan. Asyik bersenang-senang sampai melupakan banyak kewajiban.

Remaja yang berproses menjadi baik biasanya bakal mulai menjaga jarak dengan informasi seputar hiburan di atas. Sebaliknya, mulai mendekat dengan majlis ilmu Islam. Mulai terjadi pergeseran alokasi waktu keseharian yang tadinya sebagian besar dipakai buat kepoin tren kekinian, kini lebih banyak dipakai untuk menimba ilmu dan mikirin kondisi umat Islam.

Perlahan tapi pasti, konsekuensi pengen jadi baik bakal banyak ketinggalan informasi tren kekinian. Kalo ngobrol dengan teman yang lain, khawatir lama nyambungnya. Inikah yang ditakutkan?

Ketiga, gak bisa istiqomah.

Pengen jadi baik tak hanya di lisan. Tapi juga ditunjukkan dalam perbuatan. Mesti selaras biar prosesnya maksimal. Kalo nggak sinkron, entar gak nyambung antara yang dipikirkan dengan yang dilakukan. Repot.

Sayangnya, bagian ini yang sering menghantui remaja saat memutuskan untuk jadi baik. Khawatir gak bisa istiqomah. Terus malah bikin runyam keadaan. Apalagi kalo penilaian teman-temannya malah nyalahin niat baiknya untuk berubah. Sampai dibilangin, kalo belon bisa istiqomah jangan coba-coba hijrah. Entar bisa merusak niat dan Islam itu sendiri. Opo iyo?

Teman Surga, beberapa ketakutan dalam proses jadi baik di atas nggak usah dibaperin. Itu hanya asumsi kita aja terhadap penilaian manusia. Padahal, bisa jadi itu adalah godaan setan yang coba menodai niat mulia kita. Allah swt mengingatkan,

 “Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman(QS. Al-Imran: 175).

iklan buletin teman surga

Rasa Takut yang Menjaga Kita

Rasa takut yang ada pada diri kita itu bawaan dari bayi. Jadi gak bisa dihilangkan. Biar kata kita punya badan besar seperti hulk, atau otot kawat tulang besi bak gatot kaca, rasa takut itu akan tetap ada. Malah harus ada. Karena bagi seorang muslim, rasa takut itu kalo ditempatkan pada posisinya sesuai aturan akan menyelamatkan kita di dunia dan akhirat lho. Seperti rasa takut berikut ini.

Pertama, Takut pada Allah.

Rasa takut pada Allah swt bagi kita, lahir dari keimanan sebagai seorang muslim. Udah seharusnya sebagai manusia yang serba lemah dan terbatas ini takut kepada Allah swt yang menciptakan kita. Meski kita gak tahu dan gak mesti tahu wujud zat Allah, kebesaranNya sudah cukup menjadi pendorong kita untuk senantiasa takut padaNya.

Allah swt mengingatkan kita, “Orang yang takut pada Allah akan mendapatkan dua surga. Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan? Kedua surga itu mempunyai pohon-pohonan dan buah-buahan” (QS. Ar-Rahman: 46-48).

Imam Ibn Taimiyah menegaskan, “Selagi seseorang melakukan sesuatu, sementara dia juga mengetahui bahwa sesuatu itu mendatangkan mudharat kepadanya, maka orang seperti ini layaknya orang yang tidak berakal. Sebab, ketakutan kepada Allah mengharuskan ilmu tentang Allah, maka ilmu tentang Allah juga mengharuskan ketakutan kepadaNya. Dan takut kepada Allah harus melahirkan ketaatan kepadaNya. Orang-orang yang takut kepada Allah adalah orang-orang yang mengerjakan perintah-perintahNya serta menghindari segala bentuk larangan-Nya.”

Kedua, Takut masuk neraka.

Sebagai seorang muslim, tempat kembali kita setelah meninggal dunia itu hanya dua. Surga atau neraka. Alhamdulillaah.. kalo Allah swt menempatkan kita di Surga. Kebahagiaan tak terhingga yang kita dapat. Sebaliknya, kalo ternyata tabungan dosa kita lebih banyak dibanding pahala, alamat neraka jadi tempat kembali. Kesengsaraan yang akan kita tuai setiap hari.

Karena itu, penting bagi kita untuk menjaga ketakutan akan siksa di neraka agar perbuatan kita di dunia jauh dari kemaksiatan. Diriwayatkan bahwa menjelang wafatnya, Ulama Tabi’in Muhammad bin Sirin menangis. Lalu, ia ditanya: “Apa yang membuatmu menangis?” Dia berkata: “Aku menangis karena banyak hari-hari di masa laluku yang aku sia-siakan, dan sedikitnya amalku untuk bisa masuk surga yang tinggi. Sehingga apa yang akan menyelamatkanku dari api neraka yang panas.

Yahya bin Mu’adz rah.a berkata, “Seandainya seseorang takut kepada neraka sebanyak ketakutannya kepada kemiskinan, maka ia akan langsung masuk surga.

Ketiga, takut berbuat dosa.

Kita nggak tahu berapa jumlah pahala dan dosa kita hingga saat ini. Yang kita tahu, keduanya bakal jadi bekal di akhirat yang sangat menentukan nasib kita nanti. Untuk itu, yang bisa kita lakukan selama hidup di duni adalah dengan memperbanyak perilaku taat yang bisa menjadi ladang pahala dan menjauhi kemaksiatan yang bisa menjerumuskan kita dalam jurang dosa.

“Dosa adalah luka bagi jiwa,” Petikan kalimat ini merupakan sebuah peringatan Ibnul Qoyim, “betapa banyak luka menjadi sebab sebuah kematian.” Tambahnya. Sesuatu yang telah terluka bisa saja terinfeksi di hari mendatang dan akan muncul luka baru yang mungkin lebih parah dan tidak ia perkirakan sebelumnya.

“Seseorang yang berakal seyogyanya tetap mengkhawatirkan dosa-dosanya meski ia telah bertobat darinya dan menangisinya. Aku melihat mayoritas manusia telah begitu yakin bahwa Allah telah menerima tobatnya, padahal sejatinya ia adalah perkara gaib. Sekalipun sudah diampuni, ia harus tetap menempatkan rasa malu dalam hatinya, karena bagaimanapun ia telah melakukan dosa dan telah melukai jiwanya.” Tutur Ibnul Jauzi

Maka sekecil apapun perbuatan dosa harus dihindari, karena ia berpotensi menumbuhkan dosa baru. Ibnu Taimiyah rhm berkata, “Balasan bagi kebaikan adalah lahirnya kebaikan setelahnya, dan balasan keburukan adalah lahirnya keburukan sesudahnya.”

Teman surga, rasa takut menghadapi berbagai tantangan saat kita mau jadi baik, seharusnya menambah semangat kita untuk tambah taat. Bukan sebaliknya malah bikin kita tarik ulur dalam keistiqomahan atau malah mundur teratur dan kembali ke alam jahiliyah. Aduh.. jangan sampai ya..

Percaya deh, rasa takut dijauhi teman, ketinggalan info, atau khawatir gak bisa istiqomah itu sementara aja. Lama kelamaan bisa kita atasi seiring dengan bertambahnya ilmu dan wawasan tentang Islam setelah rajin ngaji serta bertambah pula kawan-kawan kita dari komunitas dakwah. Sehingga mulai terbangun rasa takut kita pada Allah swt yang akan mengalahkan rasa takut kita pada penilaian manusia. Ujung-ujungnya, hidup kita akan lebih banyak dapat keberkahan dan kebaikan.

Fudhail rah.a. adalah seorang waliyyullah yang sangat terkenal. Ia berkata, “Rasa takut kepada Allah selamanya akan membawa kepada kebaikan. Dan sebaliknya, Abu Sulaiman Darani rah.a. berkata, “Kecelakaan bagi jiwa yang kosong dari rasa takut kepada Allah.”

So, mau jadi baik? Siapa takut!

iklan buletin teman surga

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *