Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted on Nov 20, 2020 in Buletin Teman Surga, Headline | 0 comments

Buletin Teman Surga 139. Pudarnya Pesona Si Kotak Ajaib?

Buletin Teman Surga 139. Pudarnya Pesona Si Kotak Ajaib?

buletin teman surga 139 Pudarnya Pesona si Kotak AjaibKetika ngebaca judul BTS kali ini, ngerasa kayaknya BTS mau bikin cerpen ya?! Hehe, nggak dong. Judulnya sengaja dibikin gitu, biar kamu penisirin. Nah lo, abis itu langsung deh yang nggak ngeh, lansung nanya “what is the meaning ‘kotak ajaib’”? Iya, kotak ajaib itu bukan kotak Pandora miliknya tukang sulap. Tapi si kotak ajaib itu sebutan untuk ngegantiin istilah televisi .

iklan buletin teman surga

Takut Jangan, Waspada Harus!

Sorry ya, kali ini kita serius ngobrol, eh maksudnya nulis ngebahas tentang  media. Eh tapi, emang bukannya di tiap edisi kita emang serius ya?! Iya juga sih, hehehe. Ya udah deh, pokoknya kamu kudu ikut mengernyitkan dahi, ikut mikirin pengaruh media bagi generasi kayak kita ini. Soalnya media ini pengaruhnya nggak kecil ke perilaku bahkan pemikiran masyarakat, wabil khusus remaja. Kalo kita lengah, kita nggak care sama pengaruh media, apalagi pengaruh yang negatif maka, rusaknya generasi muda, nggak bakal terbendung.

Kita sampein begini bukan untuk menakut-nakuti, tapi emang faktanya kita kudu waspada. Media televisi kadang masih jadi musuh dalam selimut, pesannya halus tapi menohok ke jantung pertahanan pemikiran, yang selanjutnya ke perilaku kita. Acara seperti sinetron masih menduduki peringkat kewaspadaan tinggi pengaruhnya buat remaja. Tingkah laku kayak pacaran, tawuran, bahkan budaya bully membully masih populer menjadi konten sinetron yang ditiru abis sama remaja.

Nah makanya, meskipun di stasiun teve di beberapa acara seperti sinetron sering ada keterangan di pojok atas, istilah BO (bimbingan orang tua), itu nggak lebih hanya sebuah anjuran. Nyatanya? Pada tataran fakta, ada anak yang di kamarnya sendiri ada teve, atau ada orang tua lebih asik nonton kesukannya, dan membiarkan anaknya. Sementara konten tontonannya nggak hanya bikinan lokal. Duh, yang konten sinetron lokal aja udah begitu tinggi kegaswatannya, apalagi kalo ditambah konten dari luar, seperti film, musik, dan sejenisnya, maka tingkat kewaspadaan diri kita pribadi, minimal harus sampai pada respek. Kalo care enggak, respek juga nggak, lalu apa yang kita pedulikan?

Kalo sudah nggak ada yang dipedulikan dari tayangan si kotak ajaib ini, maka nggak check and balance. Kalo check and balance sudah hilang maka si empunya teve merasa biasa-biasa aja, atau merasa sah-sah aja, selama ini menayangkan tontonan yang merusak moral, etika bahkan norma agama (Islam). Itu artinya, kita sebagai generasi muda harus mulai peduli, kalo perlu sampaikan saran, kritikan, sebagai bentuk kepedulian dan respect kita pada tayangan teve, sebagai salah satu media tontonan masyarakat. Meskipun bisa jadi, si kotak ajaib ini mulai sedikit demi sedikit mendapat saingan dari media sosial, tapi tetap aja waspada itu harus, dan kritis itu wajib.

iklan buletin teman surga

Pudarnya Teve, Mitos?

Menurut APJII alias singkatan dari Asosiasi Penyelenggara jasa Internet Indonesia menyampaikan data bahwa 48% dari 88,1 juta orang pengguna internet itu merupakan masyarakat pengonsumsi internet harian. Itu artinya, asumsi sementara masyarakat sudah sedikit bergeser mengakses internet daripada televisi. Nah, hanya tinggal persoalannya, apakah di internet masyarakat tetap juga nonton teve online atau streaming? Itu perlu dilakukan survey lebih lanjut.

Tapi yang jelas, media kayak teve dan radio untuk saat ini posisinya disebut media konvesional, karena sudah ada pesaing barunya yakni dunia internet, lebih khususnya media sosial. Program atau acara teve yang bisa digantikan oleh acara yang bisa diakses kapan saja dan dimana aja. Taruh aja sinetron yang sifatnya berupa tayangan seri, digantikan oleh tayangan video-video series di youtube. Film-film di teve juga sekarang kalah pamornya dengan layanan macam Netfilx dan sejenisnya. Acara musik juga kalah dengan video musik lirik, video klip yang lebih dulu tayang di youtube resmi label atau milik si artis daripada di teve.

Berdasarkan survei Nielsen Consumer Media View yang dilakukan di 11 kota di Indonesia, penetrasi televisi masih memimpin dengan 96% disusul dengan media luar ruang (53%), internet (44%), radio (37%), koran (7%), tabloid dan majalah(3%). Tapi berdasarkan survei Nielsen Cross-Platform juga di tahun 2017, terjadi peningkatan akses internet oleh netizen di hampir semua tempat. Beberapa tempat di antaranya adalah kendaraan umum (53%), kafe atau restoran (51%), bahkan di acara konser (24%) pun mengalami peningkatan dalam jumlah akses media digital dibandingkan 2015.

Jadi kalo menilik data di atas, bahwa peran televisi ini secara perlahan mulai tergantikan. Konon, hal itu disebabkan oleh dua faktor yaitu menurunnya kualitas acara TV dan meningkatnya akses internet di Indonesia. Menurunnya kualitas acara televisi di Indonesia terlihat dari data yang dipaparkan oleh Komisioner KPI Pusat Nuning Rodiyah yaitu bahwa kategori program siaran televisi yang dinilai berkualitas dengan indeks 3 itu hanya mencakup empat program. Yaitu wisata budaya, religi, anak-anak dan talkshow. Sedangkan program lainnya belum mencapai standar indeks yang ditetapkan KPI.

Sedangkan faktor yang kedua, UC News mencatat pemakai internet mencapai 42,5% dari total populasi di Indonesia. Waktu penggunaan rata-rata 354,2 menit per minggu. Internet membuntuti media TV yang dicatat UC News mencapai jumlah pemirsa 99,8% dari total populasi dengan durasi rata-rata 1.782,5 menit setiap minggu.

iklan buletin teman surga

Ngaruh Nggak Sih Buat Remaja?

Meskipun di atas tadi udah dibandingkan antara teve dan medsos, tapi apakah media teve masih berbahaya buat remaja atau nggak? Oke, kalo coba kita kategorisasi berdasarkan usia dan tayangan teve, maka setidaknya ada pembagian simpelnya kayak gini. Usia Anak, Usia Remaja, Usia Dewasa, dan Usia Orang Tua. Masing-masing usia punya konsumsi tayangan dan mungkin stasiuan teve yang beda-beda satu dengan yang lainnya. Kita bahas yang usia anak dan remaja aja ya.

Kalo usia anak lebih suka nonton di stasiuan macam RTV dan sejenisnya, karena di sana banyak tayangan animasi khusus untuk anak-anak. Tayangan seperti Tayo sampai Spongebob yang jam tayangnya juga khusus di pagi hari atau hari libur. Selebihnya, anak-anak jika dikasih akses oleh orang tuanya akan nonton video animasi lainnya di youtube. Kalo nggak nonton, anak-anak biasanya di gadget juga main game.

Untuk usia remaja, bisa dibilang memiliki waktu luang untuk di depan teve lebih sedikit. Karena kesehariannya Senin sampai Sabtu harus ke sekolah, kecuali masa pendemi seperti sekarang ini. Sehingga acara teve buat remaja lebih banyak di sore atau malam hari, itupun kalo dia nggak main sama temen, atau asyik dengan gadgetnya. Alhasil, kalo dari sisi waktu remaja nggak sempat nonton teve, apalagi kalo ditambah di gadget, sosial media, remaja merasa lebih asyik, maka teve menempati posisi yang tersaingi dibanding gadget. Kalo pun mereka nonton acara teve favorit mereka, biasanya nonton recording atau siaran ulangnya di kanal youtube.

Nah, kalo kembali ke kategorisasi usia tadi, pengaruh teve tidak begitu besar buat remaja, tapi itu televisi konvensional, atau yang dari awal kita sebut kotak ajaib. Kalo teve yang modern, yang disiarkan ulang melalui kanal youtube, masih tetap ada remaja yang mengakses. Sehingga kalo ditanya pengaruhnya tayangan teve buat remaja, ya tetap ada pengaruhnya, meskipun nggak besar dan nggak sebesar pengaruh dunia internet. Artinya, kalo sebelumnya yang kita harus waspadai hanya satu media, yakni teve, tapi sekarang bertambah, bahwa media internet yang diakses via gadget juga kudu bin wajib diwaspadai menyumbang, menginspirasi, mendorong remaja berperilaku buruk.

iklan buletin teman surga

Trus, Gimana Dong?!

Berdasarkan survei Imogen Communication Institute (IGI) terhadap 140 media di 10 kota besar di Indonesia. Hasilnya, 70,2 persen responden menyatakan pandemi Covid-19 ini berdampak terhadap bisnis media. Perlu TemanSurga ketahui bahwa bisnis media macam teve bisa tertopang karena duit dari iklan. Berapa duit yang harus dikeluarkan untuk iklan di teve durasi 60 detik? Sekedar bocoran aja, penelitian yang dilakukan Nielsen, uang senilai Rp145 triliun habis digunakan untuk belanja iklan televisi di Indonesia (tahun 2018).

Sedangkan menurut GetCRAFT, firma pemasaran berbasis di Asia Tenggara, dalam laporannya bertajuk “Indonesia Native Advertising and Influencer marketing Report 2018” yang menyatakan bahwa orang Indonesia mengkonsumsi media sosial lebih banyak dibandingkan TV. Angkanya mencapai 3 jam 16 menit berbanding dengan 2 jam 23 menit.

Artinya, berdasarkan data dan juga fakta yang kita sudah ungkap di atas, maka media tetap akan hidup selama masih ada yang ngiklan. Dan pemasang iklan akan tetap enjoy jika ada penontonnya, bahkan bisa terkonversi menjadi pembeli. Soal moral, etika, norma? Ah, sabodo teuing, kalo kata orang Sunda mah. Masa bodoh, urusan moral dan sejenisnya itu mah urusan pemuka agama, urusan kita mah menghibur. Begitulah kira-kira argumentasi yang tepat mewakili pemilik media.

Maka, secara pribadi kita emang harus punya filter yang kuat dan tahan banting untuk menyaring semua tayangan dari media apapun. Kalo itu terkait informasi atau berita, Islam udah ngasih rambu-rambunya, Allah SWT berfirman:

“Wahai orang- orang yang beriman, jika ada seorang faasiq datang kepada kalian dengan membawa suatu berita penting, maka tabayyunlah (telitilah dulu), agar jangan sampai kalian menimpakan suatu bahaya pada suatu kaum atas dasar kebodohan, kemudian akhirnya kalian menjadi menyesal atas perlakuan kalian.” (QS. al-Hujurât 6).

Apalagi kalo berita itu terkait dan menyudutkan umat Islam, kayak berita tentang terorisme yang dituduhkan ke kaum muslimin, maka kita bukan hanya sekedar tabayun, kita nggak sekedar harus punya filter, tapi juga punya pondasi tauhid yang kokoh. Sebab kalo tauhid kita nggak kokoh, apalagi ditambah pemahaman Islam kita kualitasnya rendah, akan mudah diombang-ambingkan oleh jaman. Padahal kalo kita paham, mau nggak mau, rela atau nggak, kita sebagai umat muslim akan selalu diposisikan musuh oleh kaum-kaum tertentu, dan musuh-musuh umat itu bisa jadi menggunakan media sebagai alatnya. Makanya waspada itu perlu, Allah sudah ngasih warning ke kita:

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 120)

Tentu kita nggak bermaksud menempatkan semua orang Yahudi dan Nasrani sebagai musuh, tapi kita harus selalu waspada dengan perilaku-perilaku mereka, apalagi di Al-Qur’an disebutkan kelicikan-kelicikan mereka. Bahkan di surat Al-Fatihah yang kita baca aja, menurut para mufasir mengandung makna agar dijauhkan dari perilaku, tipudaya kedua kaum itu. “ṣirāṭallażīna an’amta ‘alaihim gairil-magḍụbi ‘alaihim wa laḍ-ḍāllīn = Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai (yahudi) dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (nasrani)”

So, simple aja sebenarnya bahwa media kayak teve, sosmed itu hanya alat, bukan berarti kita anti sama kemajuan, anti sama alat-alat dari Barat, tapi yang kita harus waspadai adalah konten-kontennya. Kalo memang kontennya membuat kita jadi jauh dari Islam, membuat kita melanggar perintah Allah, maka udah jelas tayangan begitu bukan hanya tidak boleh kita tonton, tapi seperti kita sampaikan di awal, tayangan seperti nggak boleh tayang lagi merusak generasi muda kita.

Di sinilah peran penting pemegang kebijakan untuk membuat konten media yang layak tonton, dan sebaliknya memberangus habis tayangan yang jelas-jelas melabrak nilai-nilai Islam. Kita rindu pemimpin yang punya kebijakan seperti itu. Pemimpin layaknya Sultan Abdul Hamid yang menentang tayangan drama tentang Nabi Muhammad yang dilakukan Prancis kala itu. Di mana kah pemimpin umat seperti itu? Masih ada kah pemimpin seperti beliau? Wallahu’alam bi showab. []

iklan buletin teman surga

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *