Buletin Teman Surga 142. Menjadi Pribadi yang Optimis

0
59
buletin teman surga 142 menjadi pribadi yang optimis

buletin teman surga 142 menjadi pribadi yang optimisRendah diri. Merasa sendiri. Seolah tidak berguna. Akhirnya berujung putus asa. Ada yang pernah merasakannya juga?

Hem, tidak bisa dipungkiri sih, ya. Bahwa meskipun muda, remaja juga memiliki problematika. Aneka masalah yang mendera remaja juga tidak bisa dianggap biasa. Tetap butuh perhatian dan juga solusi penyelesaian. Agar tidak ada lagi kata putus asa, apalagi sampai menghantarkan pada kebinasaan.

Namun, terkadang rasa itu tidak melulu dipengaruhi oleh faktor eksternal. Seringkali, suasana hati itu tergantung dari pemaknaan diri terhadap situasi dan kondisi yang terjadi. Banyak kita jumpai, kan?  Teman-teman yang tetap saja gagal move on padahal seabreg motivasi sudah diberikan. Eh, atau jangan-jangan kita juga termasuk salah satunya? Auto tutup muka! Wkwkwk!

Yapz, sesungguhnya pribadi kita yang harus dibenahi. Agar tidak tergantung pada situasi dan kondisi. Sehingga rasa optimis muncul dari dalam diri dan keberadaan kitapun menjadi begitu berarti. Siap untuk menjadi pribadi baru yang penuh optimisme? Kuy!

iklan buletin teman surga

Kita Terlalu Berharga untuk Putus Asa

Dear #TemanSurga, sadarkah bahwa sesungguhnya kita ini begitu istimewa? Yapz, seorang muslim itu dilahirkan bukan dalam kondisi biasa-biasa saja. bukan pula hanya sebagai penyemarak panggung kehidupan. Apalagi hanya sekadar pelengkap. No! Big no!

Sebagai muslim, kita telah diistimewakan oleh Allah Swt. Label apa yang telah Allah berikan? Ya, ”Khairu Ummah”, umat yang terbaik! Inilah kita. Sejak orok kita sudah dinobatkan oleh Penguasa Alam Semesta menjadi manusia pilihan. Manusia yang tidak biasa, tetapi manusia yang istimewa. Masyaallah!

Lantas, atas dasar apa kita merutuki diri sendiri? Menganggapnya hina dan tidak bernilai apa-apa. Menghujatnya sebagai pesakitan yang berujung pada keputusasaan. Hallo, siapa sih yang dipanuti? Dalil mana yang dikaji? Atau jangan-jangan kebanyakan nge-drakor sampai nge-halu tiada menentu. Bener begitu? Istigfar, gengs! Terlalu jauh nih salah arahnya. Balik, gih!

Emang bener sih, ya. Bahwa bacaan dan tontonan itu besar banget pengaruhnya ke diri kita. Seriusan deh. Segala yang kita baca dan tonton bakalan jadi file informasi yang terkumpul di otak. Kemudian file tersebutlah yang akan menjadi tolak ukur dalam berpikir dan bersikap. Bahasa kerennya itu maklumat tsabiqoh. Apaan tuh? Ya itu dia, informasi yang terkumpul dan tersimpan dalam benak. Dia berperan penting atas terbentuknya pemikiran yang akan tereksplorasi dalam perbuatan. Begitu!

Nah, maka coba deh mulai pilah-pilah bacaan dan tontonan. Jangan sekadar cari hiburan semata. Pastikan juga memiliki makna. Standarnya jelas banget, segala sesuatunya harus menghantarkan kita kepada ketakwaan. Sehingga hidup kita ceria, bahagia, penuh tawa, serta menggelora semangat dalam jiwa. Produktif, kreatif, dan inovatif. Jauh-jauh deh itu yang namanya nge-halu gaje. Keren, kan? Yapz, harus begitu. Karena dirimu dear generasi islam, terlalu berharga untuk berputus asa.

”Kamu (umat islam) adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. …” (qs. Ali-Imran:110)

 

iklan buletin teman surga

Jangan Mau Berteman dengan Setan

Hati-hati ya Dear, ternyata putus asa itu terlarang dalam agama kita. Enggak main-main, putus asa ini termasuk ke dalam dosa besar, loh. Siapa aja pasti udah tahu, bahwa setan sangat seneng sama manusia yang berendam dalam lumpur dosa. Alamat deh itu, bakalan dikipasin sama setan biar makin adem dan nyaman dalam dekapan kemaksiatan. Horor kan, ya?

Yapz, putus asa merupakan salah satu bentuk kemaksiatan. Kok bisa? Ya, karena berputus asa itu sama artinya hilang harapan kepada Allah Swt. menganggap diri paling menderita. Kemudian lupa bahwa ada Allah Swt. sebagai tempat meminta. Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang seolah lenyap dalam ingatan. Nah, apa coba namanya kalau enggak maksiat? Ganjaran apa yang pantas kecuali dosa? Enggak ada!

Hal ini juga tegas disabdakan oleh Baginda Nabi Muhammad Saw. yang diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas ra. Bahwa ada salah seorang laki yang berkata, ”Wahai Rasulullah, apa itu dosa besar?” Rasulullah Saw. menjawab, ”Syirik kepada Allah, pesimis terhadap karunia Allah dan berputus asa dari rahmat Allah.”

Nah, loh! Enggak main-main kan, zeyeng? Dosa besar loh ini! Bbbeeh, sanggup nanggung dosa besar gara-gara nge-halu? Idiiih, gue mah ogah, guys! Amit-amit, deh! Dosa-dosa yang lain aja belum kelar, bisa-bisanya mau nambah dosa besar dengan cara berputus asa. Jauh-jauh, deh!

Emang enggak gampang sih untuk menghalau bisikan setan. Tapi bukan berarti enggak bisa. Coba deh dipikir-pikir, setan itu sebenarnya cuma mampu membisiki manusia. Enggak ada ceritanya setan itu meneriaki manusia, kan? Artinya setan itu lemah, Dear. Manusia jauh lebih hebat dan kuat dibanding si setan. Begitu ketetapan yang Allah Swt. berikan.

Jika demikian, maka sesungguhnya kita sangat bisa melawan bisikan setan. Kita pasti mampu membangun benteng permusuhan dengan para dedemit itu. Putus semua jalur komunikasi dengan mereka. Posisikan mereka sebagai musuh. Jangan sedikitpun ada ruang persahabatan untuk mereka. Stop, jangan pernah mau berteman dengan si durhaka penghuni neraka. Cukuplah mereka saja sebagai penghuni abadi jahanam. Jangan kita. Sip, ya?!

iklan buletin teman surga

Agar Putus Asa Tak Mendera

Nah, pasti pada penasaran kan bagaimana caranya agar jiwa bisa sekuat baja sehingga mampu menghalau rasa yang bernama putus asa? Mesti pada pengen tahu juga nih bagaimana supaya setan kabur jauh dan ogah kembali lagi, ya kan?  Ku tahu yang kau mau! Kuy, mari kumpul di sini! Cekidot!

Pertama, Bulatkan keyakinan kita kepada Allah Swt. Bahasa gaulnya mah ”Perkuat Aqidah”. Konsepnya harus kaffah (menyeluruh) loh, ya. enggak main kalau hanya setengah-setengah. Oleh sebab itu, penting banget nih bagi kita untuk menyatu dengan komunitas yang siap membersamai dalam berislam kaffah. Kalau kamu sudah ada di dalamnya, bertahanlah di sana. Jangan ke mana-mana. Insyaallah iman kita akan aman terjaga. Ok, ya?!

Kedua, cek dan ricek niat kita dalam setiap aktivitas. Pastikan semuanya mukhlis, ikhlas semata karena Allah Swt. Kenapa harus ikhlas? Sebab ini adalah salah satu mantra untuk menghalau setan durjana. Allah Swt. berfirman:

Iblis berkata: ”Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis (ikhlas) di antara mereka”. (QS. Al-Hijr: 39-40)

Ketiga, pastikan berbagai informasi yang masuk ke benak adalah informasi yang bergizi. Pilih bacaan dan tontonan yang semakin menambah ilmu dan iman. Jangan kasih ruang sedikitpun untuk informasi unfaedah yang menjerumuskan kita pada kesia-siaan. Yes, meskipun hanya di pojokan. Jangan! Istikomahlah katakan tidak!

Keempat, cek lagi lingkar pertemanan. Sudahkah aman semua? Aman di sini maksudnya tidak hanya sekadar di dunia loh, ya. lebih dari itu, keamanannya kudu tembus sampai kita masuk ke dalam Surga. Begitu!

Artinya, lingkar pertemanan ini tidak boleh asal berteman. Kita kudu selektif. Bukan karena sombong atau sok suci. Tetapi lebih kepada hati-hati. Menapaki apa yang diajarkan Baginda Nabi Saw. bahwa memilih teman haruslah bijak. Sebab teman adalah cerminan diri kita sendiri. Jika baik teman kita, maka insyaallah kitapun akan baik. Begitu juga sebaliknya. So, coba putarkan bola matamu! Sudahkah lingkar pertemanan yang ada memiliki visi bersama sampai surga? Note!

Kelima, belajarlah meluaskan pandangan. Lihatlah betapa kompleks dan banyak persoalan yang melanda umat saat ini. Tidakkah tersentil diri kita untuk menjadi penggerak perubahan? Semestinya, semakin luas jangkauan pandangan, maka akan semakin mengecil persoalan pada diri sendiri. Akhirnya, tidak ada lagi waktu untuk nge-halu. Sebaliknya, diri akan terpacu untuk terus menyempurnakan amal dan memberikan solusi atas berbagai problema yang terjadi. Cakep, kan ya?!

Semoga kita semua bisa move on dari sikap putus asa. Bangkit menjadi pribadi yang penuh optimis. Mengukir asa hingga menggapai cita mulia di dunia sampai ke Surga. Siap, ya? Go![]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here