Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted on Dec 17, 2020 in Buletin Teman Surga, Headline | 0 comments

Buletin Teman Surga 143. Mother Is Everlasting Love

Buletin Teman Surga 143. Mother Is Everlasting Love

buletin teman surga 143 Mother Is Everlasting LoveIbumu, ibumu, ibumu…

Gaes…pernah dengar penyebutan kata ibu sampai 3x kayak gitu? Di mana? Yups…ada di hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim, dengan terjemahnya kurang lebih:

‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi menjawab, ‘Ibumu!’ Dan ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi menjawab, ‘Ibumu!’, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari dan Muslim)

Nah, pertanyannya apa pantas orang yang dimuliakan dengan disebut 3x sebelum ayah, lalu kita hanya ingat jasa beliau cuman sekali dalam setahun? Tentu aja, nggak kan?!

Sehari Aja  Kamu Jadi Ibu?!

Gaes, kalo seandainya kalian “baik yang cowok or cewek” yang mungkin masih suka meremehkan atau menganggap sepele pekerjaan seorang ibu, coba aja sehari jadi ibu. Berani? Mau? Sanggup? Kayaknya sih, kagak ada yang sanggup. Apalagi yang tergolong anak mami, udah pasti nyerah deh.

Eh tapi, bukan berarti nggak sanggup jadi ibu sehari, lalu nanti kamu -khususnya yang cewek- nggak mau ngerjain pekerjaan seorang ibu, atau nggak mau jadi ibu. Nggak boleh gitu juga. Buat kamu yang anggap enteng pekerjaan seorang ibu, coba deh kamu bangun sebelum ibumu bangun, dan tidur sebelum ibumu tidur. Gimana, sanggup? Mau? Kalo sanggup dan mau, berani nggak ngelakuin hal kayak gitu, tiap hari? Wadaw, bakalan nyerah lagi deh.

Nah, makanya jangan suka bandel kalo dibilangin ibu. Jangan suka ngelawan kalo disuruh ibu. Ibumu, bangun sebelum kamu bangun, mungkin masak nasi atau ngangetin sayur, buat kamu sarapan dan berangkat sekolah. Trus, begitu kamu berangkat sekolah, ibumu yang pekerjannya IRT tulen, bakal ngelakuin kerjaan rumah, mulai dari nyapu, ngepel, nyuci dan sebagainya.  Abis gitu, menjelang malam, sebelum kalian tidur, ibumu memastikan kamu sudah makan malam, lalu baru ibumu tidur.

Begitu setiap hari, mulai dari kita bayi sampe kita gede seperti sekarang ini, dan nggak tahu mau sampe kapan, ibu kita memperlakukan kita seperti itu. Kalo kita saat ini udah ngerasa belum atau nggak sanggup jadi ibu, maka meremehkan peran beliau dalam kehidupan kita sehari-hari adalah bentuk tidak hormatnya kita kepada beliau. Itu belum sampai membantah atau bahkan membentak beliau. Meremahkan peran ibu aja, dianggap nggak menghormati beliau. Apalagi sampe sampai membantah atau bahkan membentak, berkata “ah” saja kita nggak boleh.

“Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Ya Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.’” (QS. Al-Israa’ : 23-24)

Kalo kamu sekarang nggak sanggup menggantikan peran ibu, lalu kenapa ibumu sampai detik ini sanggup ngelakuin itu semua? Bahkan bukan hanya pekerjaan rumah, tapi sebelumnya ibumu juga sanggup mengandungmu selama 9 bulan, lalu setelah lahir kamu disusui, diasuh dan dibesarkan. Kenapa seorang ibu sanggup ngelakuin itu semua? Karena ibumu harapannya di dunia bisa melihat kamu bahagia, menjadi perhiasan penyejuk mata dan di akhirat kelak kamu juga selamat dari siksa api neraka. Maka, pantaslah kalo surga itu di bawah kedua kaki ibu.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kamu mempunyai ibu?” Dia menjawab, “Ya.” Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tetaplah bersamanya! Karena sesungguhnya surga ada di bawah kedua kakinya.” (Hadits Imam al-Hakim)

iklan buletin teman surgaTeladan Ibu dan Anak yang Berbakti

Hubungan ibu dan anak kisahnya nggak hanya terjadi hari ini aja, tapi kisah cinta abadi nan indah serta penuh perjuangan ibu-anak sudah pernah terjadi ratusan tahun lalu, dan sebagiannya diabadikan dalam Al-Qur’an maupun Hadits. Coba kita kutip beberapa di antaranya, biar kita bisa ambil hikmah dan pelajaran untuk tetap menghormati ibu, dan ngasih balasan yang pantas untuk beliau.

Jadilah ibu dan anak seperti kisah ibu Hajar dan anak Ismail. Tercatat indah di tinta sejarah, bagaimana perjuangan ibu Hajar saat hendak melahirkan Ismail alaihisalam. Saat itu ibunda Hajar menggendong Ismail dalam keadaan payah tak berkesudahan, di tengah padang pasir sendirian, dalam keadaan haus mencari air. Ibunda Hajar berlari kesana kemari, dilihatnya di seberang sana ada air, yang tak lain adalah fatamorgana, kemudian beliau lihat seberang sana ada air, ternyata juga fatamorgana. Berlari-larinya ibunda Hajar antara Shofa-Marwah, yang menjadi dasar salah satu syariat haji. Lalu, tibalah Bunda Hajar di sebuah titik, karena kelelahan namun tak juga menemukan air, lalu Allah menunjukkan kekuasaanNya, keluarlah air dari tanah yang diinjak kaki Ismail kecil, yang air itu hingga sekarang nggak pernah surut, air zam-zam.

Setelah Ismail besar, dan tumbuh besar, diangkatlah beliau menjadi Nabi, sebagaimana bapaknya, Nabi Ibrahim alaihisalam. Fragmen, ketaatan Ismail sebagai seorang anak sangat fenomenal dan diabadikan sejarah, ketika ada perintah dari Allah, untuk Nabi Ibrahim agar menyembelih dirinya. Perkataan Ismail, saat itu hanya satu “Laksanakanlah apa yang telah diperintahkan oleh Allah kepadamu. Engkau akan menemuiku insya-Allah sebagai seorang yang sabar dan patuh kepada perintah”. Sikap dan perkataan seperti itu, nggak mungkin muncul kecuali dari anak yang shalih, dan lahir dari ibu dan bapak yang juga shalih.

Kita juga bisa mengambil ibrah dari ibunda Imam Syaf’i. Cerita ini juga cukup mashyur. Fathimah binti Ubaidillah Azdiyah namanya. Beliau berasal dari suku Al-Azd di Yaman. Garis keturunan beliau masih bersambung dengan Rasulullah Saw dari jalur Ubaidillah bin Hasan bin Husein bin Ali bin Abi Thalib. Sejak kecil Syafii telah didik ibunya yang single parent dengan sangat hati-hati, bahkan makanan yang masuk ke perut anaknya aja sangat diperhatikan. Pernah suatu masa, saat syafi’i masih kecil tertidur, lalu ibunya keluar rumah bermaksud untuk mencari nafkah. Namun Syafi’i kecil terbangun dan menangis sejadi-jadinya, hingga tetangganya mengetahui dan mendiamkan tangis Syafi’i. Tak berselang lama, ibunya datang dan mengetahui anaknya menangis lalu membawanya pulang. Karena khawatir Syafi’i diberi makan atau susu oleh tetangganya dari jalan yang tidak baik, maka dimasukkanlah jari tangannya, hingga syafi’i memuntahkan isi perutnya.

Setelah syafi’i sekira usia 15 tahun, sudah hafal al-qur’an bahkan sudah dibolehkan oleh gurunya Imam Maliki untuk memberi fatwa, maka Imam Syafi’i, minta ijin ke ibunya untuk keluar dari Mekah guna mencari guru di luar Mekah, karena semua guru dan ilmu di Mekah sudah pernah didatangi. Ibunya mengijinkan namun memberi syarat, bahwa Imam Syafi’i, tidak boleh pulang ke Mekah jika belum menjadi ulama besar. Hingga beberapa tahun kemudian, di sebuah majelis ilmu di Masjidil Haram, ada seorang syekh memuji-muji gurunya yang sangat ‘alim. Ibunda Syafi’i yang berada di majelis tersebut penasaran, siapa guru dari syekh tersebut. Syekh tersebut menyebut nama Muhammad Idris Asy Syafi’i yang tak lain adalam Imam Syafi’i. Seketika itu juga ibunya menangis, dan membuat syekh dari Iraq dan rombonganya bertanya-tanya, emang ibu siapanya ulama tersebut? Ketika dijawab, bahwa dirinya adalah ibunda dari Imam Syafi’i, maka seketika itu juga syekh dari Iraq dan rombongan, tunduk dan tadzim kepada ibunda Imam Syafi’i.

Hemm…., gaes itulah beberapa gambaran pengorbanan seorang ibu, bukan hanya mengandung, tapi juga mengasuh dan mendidik anaknya. So, mulai sekarang jangan entengkan dan sepelekan peran ibumu. Jangan jadi anak durhaka yang nggak tahu balas jasa dari ibumu.

iklan buletin teman surga

Membalas Jasa Ibumu

Gaes, mungkin kamu nggak bakal bisa membalas jasa ibumu dengan sepenuh-penuhnya balasan, tapi satu-satunya cara membalas kebaikan ibumu adalah menjadi anak yang shalih. Karena life is choice, hidup ini pilihan, maka kamu mau jadi apa bagi ibumu, setelah membaca tulisan ini, terserah kamu. Kalo dalam al-qur’an, anak bisa dikategorikan dalam empat klasifikasi.

Pertama, anak sebagai penenang hati, penyejuk jiwa, dan pemimpin orang-orang yang bertakwa

“Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa” (QS al-Furqan 74).

Para ulama tafsir menyebutkan, maksud qurrata a’yun dalam ayat di atas adalah anak-anak yang saleh, taat kepada Allah, berbakti kepada orang tua, bermanfaat bagi sesama.

Kedua, anak sebagai perhiasan dunia. Hal itu sebagaimana yang diungkap ayat berikut:

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan,” (QS. Al-Kahfi 46).

Layaknya perhiasan dan kekayaan, anak diperlakukan, dijaga, bahkan disayang sebaik-baiknya oleh para orang tua. Namun, kecintaan yang berlebihan membuat para orang tua terlena dan seringkali mengabaikan hal-hal yang membahayakan sang anak itu sendiri. Mereka lupa, jika perlakuan yang diberikannya justru akan merusak masa depan anak kesayangannya.

Ketiga, anak sebagai fitnah atau ujian, sebagaimana yang diungkap dalam ayat:

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. At-Taghabun 15).

Mungkin ini pula yang dimaksud anak sebagai amanah atau titipan yang diharus dijaga dengan sebaik-baiknya. Dipenuhi hak-haknya, disayang, dirawat, dididik agar memiliki masa depan yang cerah dan membahagiakan orang tuanya.

Keempat, anak menjadi musuh. Hal itu diungkap dalam ayat berikut.

“Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Taghabun 14).

Sebagian mufasir menjelaskan, maksud sebagai musuh di sini adalah menjadi pihak yang menghalang-halangi jalan Allah, merintangi jalan ketaatan kepada-Nya. Maka hati-hatilah agar tidak dijerumuskan oleh mereka.

Nah, kalo kamu mau membalas kebaikan ibumu, nggak ada cara atau jalan lain kecuali menjadi golongan yang pertama. Siap untuk jadi anak Shalih? Bismillah… Takbir []

iklan buletin teman surga

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *