Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted on Dec 23, 2020 in Buletin Teman Surga, Headline | 0 comments

Buletin Teman Surga 144. Ibu Para Syuhada

Buletin Teman Surga 144. Ibu Para Syuhada

buletin teman surga 144 ibu para syuhadaAda sebuah kisah harum yang semerbak di lembar sejarah. Seorang wanita mulia dengan empat orang anak laki-lakinya. Bermacam kitab, berjuta lisan, sahut-menyahut bergantian menyanjung nama dan kisahnya. Ya, dialah Al-Khansa binti Amru yang mahsyur dikenal sebagai ibu para Syuhada.

Hai Guys, apa kabar literasi sejarahmu? Sudahkah kalian mendengar atau membaca kisah ciamik dari Ibunda Al-Khansa? Atau jangan-jangan, baru kali ini kamu ketahui? Baiklah, tidak apa-apa. Setidaknya masih ada kesempatan untuk memburu kisah serunya. Semoga menjadi inspirasi dan motivasi untuk menapaki jejak-jejak mulia yang ia tinggalkan untuk kita. Sip, ya!

Penyair Hebat, Tak Terkalahkan

Mari sejenak kita duduk dan menyibak lembar-lembar indah jalan hidup Ibunda Al-Khansa ra. Bukan apa-apa, semata agar kita menjadi kenal lantas tumbuh rasa sayang dan cinta. Jika sudah demikian, insyaallah hati akan lebih mudah menerima. Diripun jadi bersemangat untuk mereguk inspirasi dan motivasi darinya. Bissmillah!

Guys, dunia syair-menyair nyatanya bukan hanya ada pada masa kini. Jauh pada masa dulupun telah berkembang sebuah karya sastra berjenis syair. Yapz, kata-kata indah yang sarat dengan makna. Menyenangkan ketika didengar. Sekaligus menajamkan jiwa dalam memahami makna kehidupan.

Adalah Al-Khansa ra., wanita cerdas nan mulia yang jago bersyair pada masanya. Bahkan banyak riwayat menyebutkan, tidak ada yang mampu menandingi kehebatan Al-Khansa dalam bersyair hingga saat ini. Beliau adalah satu-satunya wanita yang memiliki kemampuan mengolah bahasa menjadi bait-bait indah tanpa cela. Masyaallah!

Sebelumnya, Al-Khansa bukanlah wanita beriman. Ia juga pernah berada pada masa kejahiliyahan. Mulanya, ia hanya mampu melantunkan satu atau dua bait syair saja. Kemampuannya melesat dalam bersyair ketika saudara yang sangat dikasihi mati di medan perang. Dukanya teramat dalam. Sejak saat itulah, bait-bait syair Al-khansa semakin panjang dan indah tak terkalahkan. Utamanya syair-syair yang berisi soal kedukaan.

Berikut penggalan bait syair beliau saat saudaranya yang bernama Shakhar meninggal dunia. Mari kita nikmati!

Wahai mata, bantulah aku jangan cepat mengering

            Bukankah engkau turut menangisi kepergian Shakhar

 

            Tidakkah engkau menangisi sang pemberani dan gagah

            Tidakkah engkau menangisi pemuda yang terpandang

 

            Hidupnya penuh kedermawanan

            Menjadi panutan keluarga meskipun masih muda

 

Demikian sepenggal bait syair milik Al-Khansa. Terasa begitu indah syair-syair yang digubahnya. Bahka Nabi Saw melontarkan pujian untuknya. Dalam hal ini, para ahli sejarah menceritakan bahwa pernah suatu ketika Rasulullah Saw. menyuruh Al-Khansa ra. melantunkan syair. Kemudian karena kagum dengan keindahan syairnya, Beliau Saw. mengatakan, ”Ayo teruskan. Tambah lagi syairnya hai Khansa.”

Masyaallah! Maka tidak aneh jika kemudian banyak kalangan yang menyebutkan bahwa Al-Khansa adalah penyair wanita yang tiada duanya. Buktinya, Baginda Nabi Saw. saja memberikan sanjungan untuknya. Luar biasa!

Setelah Jahiliyah, Terbitlah Hijrah

Sudah fitrahnya kehidupan, bahwa ketenangan dan ketentraman hanya didapatkan pada keimanan. Sungguh tiadalah berbobot kehidupan seorang manusia jika iman tidak bertahta di dada. Ya, keberadaan diri tanpa iman bagai bulu yang melayang dihembus angin. Sama sekali tak bernilai. Terombang-ambing tak tentu arah. Hampa, gersang, dan bimbang. Sungguh melelahkan bahkan juga membinasakan.

Demikian juga yang dirasa oleh Al-Khansa. Hingga suatu ketika, wanita cerdas ini mendengar tentang Rasulullah Saw. dan agama baru yang diemban. Takdir Allah Swt. pun berlaku indah bagi Al-Khansa. Bagai air hujan, rahmat Allah Swt. mengguyur hati Al-Khansa dengan keimanan. Terasa sejuk dan mendamaikan. Sebuah rasa yang belum pernah didapati oleh Al-Khansa selama jahiliyah. Masyaallah!

Bersama dengan kaumnya, Bani Sulaiman, Al-Khansa’ menemui Rasulullah Saw. Diiringi deraian air mata penyesalan atas kelamnya hidup tanpa iman, sang penyair hebat ini menyatakan keislamannya. Al-Khansa’ bangkit dan mengibaskan debu-debu kejahiliyahan pada dirinya. Keyakinannya begitu kokoh untuk mengusung panji tauhid. Tekadnya telah bulat untuk memberi pelajaran kepada seluruh jagat raya tentang manisnya perjuangan dalam keimanan. Kelak, tekad inilah yang terukir indah dalam lembaran sejarah dan tidak terlupakan sepanjang masa.

Al-Khansa menyesali dirinya yang telah tertinggal jauh dalam hal kebaikan islam. Ia bersungguh-sungguh akan berlari demi mengejar ketertinggalan tersebut. dirinya menginginkan peran dan persembahan terbaik unruk Allah Swt. dan Rasulullah Saw. Betul-betul istimewa, kan?!

Kisah Terindah Di Qadisiyyah

Guys, sudah kita selami bagaimana kelok dan liku kehidupan Al-Khansa’ ra. pada masa sebelum memeluk islam. Ia pernah tertimpa kesedihan dan kegetiran begitu dalam saat mendapati saudara kandungnya mati akibat peperangan. Hatinya pernah kosong. Hampa tak tahu rimbanya.

Namun, tahukah? Semua rasa berubah 180 derajat tatkala Al-Khansa’ mendapati empat anak laki-lakinya terbujur kaku di medan perang. Tidak ada lagi kesedihan yang mendalam. Tidak pula getir melanda. Hatinya ikhlas, bahkan berbunga penuh syukur.

“Alhamdulillah (segala puji hanya milik Allah) yang telah memberiku kemuliaan dengan kematian mereka. Aku berharap Allah akan mengumpulkanku dengan mereka di tempat limpahan kasih sayang-Nya.”

Demikian kalimat yang terucap dari lisan Al-Khansa ra. Sungguh telah tergurat jelas kekokohan hatinya. Kebesaran jiwanya. Semata telah ditujukan hanya kepada Allah Swt. Sang Pencipta jagad raya dan seisinya.

Ya, sejak memeluk Islam,  Al-Khansa’ telah mewakafkan dirinya untuk Allah. Ia benamkan diri dalam samudera ilmu. Sehingga pemahamannya tentang islam betul-betul mumpuni. Secara kaffah ia yakini dan amalkan setiap syariat yang dititahkan. Maka tak heran jika benteng keimannya berdiri kokoh sebab terbangun di atas pondasi aqidah yang kuat.

Tidak ada lagi bahagia di dalam hati kecuali jika Allah Swt. meridhai. Benci, cinta, bahagia, duka, air mata atau tawa, semuanya didasari oleh iman di dada. Sehingga tidak heran jika dahulu ia begitu nestapa saat menghadapi kematian saudaranya, tetapi kini justru bahagia saat buah hati tercinta meninggal dunia. Semua ini terjadi karena telah bertahtanya iman di dalam hati.

Al-Khansa’ menyadari bahwa adanya anak adalah amanah yang harus dijaga. Hadirnya anak adalah titipan dari Allah Swt. Tidak ada hak milik di sana. Sebagai ibu, Al-Khansa’ memahami tugasnya adalah menghantarkan buah hati pada derajat tertinggi yakni takwa. Al-Khansa’ juga mengetahui bahwa dirinya memiliki peran penting untuk  memastikan buah hatinya memperoleh kemuliaan di dunia hingga ke surga.

Karenanya, sebuah pesan indah, tegas nan lugas ia tuturkan kepada empat buah hatinya sesaat sebelum bertempur di  perang Qadisiyyah.

”Hai putra-putraku, kalian semua memeluk islam dengan suka rela dan berhijrah dengan senang hati. Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, sesungguhnya kalian adalah keturunan dari satu ayah dan satu ibu. Aku tidak pernah merendahkan kehormatan dan merubah garis keturunan kalian. Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan akhirat jauh lebih baik daripada kehidupan dunia yang fana.

Putra-putraku, sabarlah, tabahlah, bertahanlah, dan bertakwalah kepada Allah. Semoga kalian menjadi orang-orang beruntung. Jika kalian melihat genderang perang telah ditabuh dan apinya telah berkobar, maka terjunlah ke medan laga dan serbulah pusat kekuatan musuh, pasti kalian akan meraih kemenangan dan kemuliaan, di dalam kehidupan abadi dan kekal selama-lamanya.”

Inilah kisah terindah di perang Qadisiyyah. Di mana antara ibu dan anak telah saling mengikhlaskan diri dan mewakafkannya dalam perjuangan islam. Penuh bangga dan suka cita keempat buah hati Al-Khansa’ terjun ke medan pertempuran. Sebab ridho sang Ibu telah ada dalam genggaman. Hingga kemuliaan itu benar-benar menyapa. Keempat pemuda, anak laki-laki Al-Khansa’, gugur sebagai syuhada. Sebuah kehormatan dan kemuliaan bagi sang anak dan juga dirinya.

Begitulah peran Al-Khansa’ sebagai seorang ibu. Sungguh luar biasa. Dear #TemanSurga juga harus bersiap. Mau atau tidak, akan ada masanya kita menjadi seorang ibu. Karenanya, harus terus ngilmu untuk menjadi ibu yang menghadirkan surga. Sip, ya?![]

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *