Buletin Teman Surga 146. Menebas Waktu!

0
51
buletin teman surga 146 menebas waktu

buletin teman surga 146 menebas waktuHai, Guys! 2020 telah berlalu, 2021 datang menghampiri. Apa resolusimu tahun ini? Mumpung masih di awal Januari, kuy cek lagi resolusi yang sudah ada. Sudahkah resolusi yang dibuat sesuai dengan standar kita sebagai seorang muslim? Halal, haram, cek! Apalagi bagi yang belum punya resolusi,  kudu deh pantengin tulisan ini sampai selesai. Sip, ya!

iklan buletin teman surgaBerkaca Dari Masa Lalu

Benar bahwa masa lalu tidak bisa dijadikan sebagai sumber hukum atas sebuah perbuatan. Namun, masa lalu sangat tepat jika dijadikan sebagai sebuah pembelajaran. Menjadi rem tatkala ia adalah sebuah keburukan, dan menjadi gas tatkala ia adalah kebaikan. Maksudnya bagaimana?

Begini, tidak semua masa lalu itu baik. Benar begitu, kan? Nah, adanya masa lalu yang tidak baik ini hendaknya menjadi rem bagi kita agar tidak mengulangi hal serupa. Kita jadi tahu sebab dan akibat yang ditimbulkan. Dari peristiwa yang tidak baik ini pula kita dapat mengambil sebuah pelajaran dan menjadi waspada dalam mengambil keputusan.

Begitu pula sebaliknya. Adanya peristiwa baik di masa lalu dapat menjadi gas bagi kita. Yapz, kita bisa gas pol untuk mengamalkan kebaikan yang pernah tercipta. Bahkan bisa jadi lebih dari itu. Sebab sangat mungkin bagi kita untuk Mengamati, menyusuli, mengungguli, bahkan juga menyempurnakan kebaikan yang pernah ada. keren, kan?!

Pertanyaannya, bagaimana masamu yang telah berlalu di tahun 2020? Baik ataukah buruk? Ya, apapun warna masa lalu, selagi masih ada nyawa di masa sekarang artinya masih ada kesempatan untuk berubah. Jika dulunya buruk, mari berubah untuk jadi baik. Apabila dulu sudah baik, maka sekarang harus jauh lebih baik lagi. siap, ya?!

Sebagai generasi Islam, tentu kitapun sudah sangat paham tentang kondisi yang dianjurkan. Bahwa kondisi kita harus lebih baik dari masa ke masa. Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Jika kualitasnya sama saja, maka kita tergolong merugi. Apabila kualitasnya lebih buruk, maka kita menjadi orang yang celaka. Maka tidak ada pilihan lain bagi kita untuk menjadi orang yang beruntung kecuali terus asah potensi agar menjadi lebih baik lagi dan lagi. Begitu ya, Guys!

iklan buletin teman surgaAgar Dapat Menebas Waktu

Pernah mendengar perkataan dari Imam Syafi’i rahimahullah bahwa waktu ibarat pedang? Yapz, jika tidak lihai dalam menggunakannya maka waktu yang akan menebas kita. Ingat setiap detik waktu terus berputar. Tahun bertambah, namun usia kita berkurang. Sedangkan waktu yang sudah terlewat, ia tidak akan bisa kembali terulang. Alangkah celakanya kita jika membiarkan waktu berlalu begitu saja.

Lantas apa yang harus dilakukan agar waktu ini bisa kita tebas dan kendalikan? Pertama, lakukan amal saleh. Harus selalu diingat bahwa amal saleh adalah amal yang baik dan diterima oleh Allah Swt. lawan dari amal saleh adalah amal salah. Amal saleh dapat direalisasikan dengan memenuhi dua syarat dalam beramal. Yakni niat yang ikhlas hanya karena Allah Swt., kemudian cara beramal yang harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah Saw.

Coba raba hati dan cek setiap kali mau beramal. Apapun itu amalnya. Raba perlahan, benarkah semata mengharap ridha Allah Swt? Atau terselip di lubuk hati sebuah rasa ingin dipuji oleh manusia? Cara memeriksanya gampang. Jika bahagia dan duka ditentukan oleh sikap manusia, maka kemungkinan besar belum ada ikhlas pada diri kita. Namun apabila suka atau duka bukan lagi karena manusia melainkan hanya karena keridhaan-Nya, maka di situlah ikhlas bertahta. Paham, yah?!

Kemudian bagaimana caranya agar mengerti benar atau salahnya sebuah amal? Gimana bisa tahu bahwa sebuah amal sudah mengikuti tuntunan Baginda Nabi sedangkan kita tidak pernah sekalipun berjumpa? Nah, di sinilah pentingnya mengaji. Wajib bin kudu pakai banget mengaji Islam secara kaffah (menyeluruh). Rutin duduk dalam majelis ilmu yang membahas tsaqofah Islam. Ingat, bukan sekadar lewat youtube ngajinya. Mesti ada mentor sungguhan yang akan membersamai, membimbing, mengarahkan, serta mendoakan kita dalam proses memahami tsaqofah Islam.

Jika niat sudah lurus karena Allah Swt. dan cara beramalanya pun telah mengikuti Rasulullah Saw., maka amal saleh akan menjadi habits kita. Apabila amal saleh sudah menjadi gaya hidup,  yakinlah bahwa keberuntungan pun akan menghampiri. Sebab orang yang waktunya disibukkan dengan amal saleh maka ia akan beruntung. Berita buruknya, jika kita tidak sibuk dalam amal saleh, maka kita akan disibukkan dengan keburukan. Hasilnya? Yaps, celaka dan binasa. Jangan sampai, ya!

Kedua, amal jariyah. Yakni amal yang tidak akan terputus pahalanya meskipun kita telah meninggal dunia. Kita harus menyadari bahwa diri ini sangatlah terbatas. Ditambah lagi diri kita bukanlah seorang Nabi. Kita juga bukan para sahabat. Ulama atau ustadz/ustadzah, juga bukan. Maka masih sangat kurang jika hanya mengandalkan salat, puasa, ataupun zakat kita. Rasanya belum cukup bagi kita untuk kemudian menebas waktu yang ada. Sebab jika kita telah mati, maka terputuslah segala amal tersebut. Iya jika pahala dari amal-amal tersebut jumlahnya berlimpah banyak. Bagaimana jika ternyata ada amal-amal yang cacat bahkan tertolak?

Oleh sebab itu, kita butuh senjata tambahan. Senjata tersebut adalah amal jariyah. Kita harus berupaya bagaimana agar ada pahala yang terus mengalir meskipun raga tak lagi bernyawa. Ok, bagaimana caranya? Mudah saja, kita cukup menambah setiap amal dengan dua hal. Yakni ajak dan ajar.

Maka jangan puas dengan hanya melaksanan salat, tetapi cobalah untuk mengajak dan mengajarkan orang lain untuk salat. Jangan puas hanya dengan capaianmu yang istiqomah menutup aurat, tetapi ajak dan ajarlah sebanyak-banyaknya temanmu untuk juga menutup aurat. Begitu seterusnya, beramal bukan hanya untuk diri sendiri tetapi juga mengajak dan mengajarkan kepada orang lain. InsyaAllah ini akan menjadi amal jariyah. Dengannya kita akan mampu menebas waktu sehingga aliran pahala akan tetap ada untuk kita meski  nyawa telah terpisah dari raga. Masyaallah!

iklan buletin teman surgaBersiap untuk Hari Esok

Setiap kita pasti tahu bahwa hidup di dunia hanyalah sementara. Barangkali sudah sering mata kita menyaksikan kematian. Bisa jadi orang-orang terdekat kita, teman kita, bahkan guru-guru kita. Kematian itu begitu nyata adanya. Hanya saja, sudahkah kematian yang nyata di depan mata itu memberikan efek pada hari-hari kita? Sadarkah bahwa diri ini juga pasti akan mati? Apa yang sudah dipersiapkan?

Selayaknya mudik saat lebaran, maka kematianpun harus dipersiapkan. Karena hakikatnya kematian di dunia adalah awal dari kehidupan hakiki di akhirat. Puluhan ribu tahun lamanya kita akan berdiri menunggu penghisaban. Sampai pada gilirannya akan diputuskan menjadi penduduk surga ataukah neraka. Apa indikator diri akan mendapatkan surga atau neraka? Betul, indikatornya adalah amal-amal selama di dunia. amal-amal inilah yang menjadi bekal bagi kita. Karena itu, pastikan istiqomah dalam beramal saleh, yes!

Bingung mau mulai dari mana? Tidak perlu bingung, mari simak tips istiqomah beramal saleh berikut ini:

  1. Mengakaji Islam kaffah secara intensif. Aktivitas ini hukumnya wajib bagi setiap individu. Ya, sebab hanya dengan mengajilah amal-amal kita bisa sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. So, jangan pernah coba-coba meninggalkan lingkar kajian ini. Sebab aktivitas mengaji adalah ibarat jantung yang menentukan mati atau hidupnya keimanan. Sepenting itu, loh! Maka harus serius!
  2. Jangan sendirian. Pastikan kita memiliki sahabat bahkan juga komunitas yang selalu mendukung kita dalam beramal saleh. Ingat, lidi sehelai akan sangat mudah dipatakan dibandingkan dengan seribu lidi yang diikat jadi satu. So, pastikan bahwa kita bersama dengan pejuang-pejuang takwa lainnya agar istiqomah sampai husnul khatimah. Ok, ya!
  3. Jangan disimpan sendiri. Apa yang sudah kita pahami, setelah diamalkan maka wajib hukumnya untuk dibagikan. Dengan begini ilmu akan semakin melekat dan berlimpah berkah serta fadilah. Kebaikan demi kebaikan akan kita dapatkan. Semakin mudah dalam taat, juga otomatis peroleh tambahan pahala dari setiap orang yang beramal saleh sebab wasilah dakwah kita. Enggak ada ruginya! Cakep!

Nah, setidaknya tiga tips ini bisa jadi kunci untuk kita agar istiqomah dalam amal saleh. Dengan ini semoga terkumpul banyak bekal bagi kita untuk menghadapi hari penghisaban. Serius, hari itu sangat berat Guys! Setiap kita menanggung amalannya masing-masing. Maka pastikan hanya beramal yang baik-baik, ya Dear!

”Maha Suci Allah yang menguasai (segala) kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menciptakan Mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 1-2)

iklan buletin teman surga

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here