Buletin Teman Surga 147. Bencana Tak Henti Menyapa

0
20
Buletin Teman Surga 147. Bencana Tak Henti Menyapa

Buletin Teman Surga 147. Bencana Tak Henti MenyapaMenangis lagi, lagi dan lagi, sepertinya negeri kita tercinta ini nggak pernah sepi dari bencana. Dan di awal tahun ini, bencana belum juga beranjak pergi. Tercatat beberapa bencana atau musibah seperti banjir terjadi di beberapa kota di Indonesia. Sempat ramai beritanya di sosial media, banjir yang udah jadi langganan setiap kali hujan deras terjadi di Kota dan Kabupaten Bandung. Hujan deras biasanya selain membawa banjir, juga mengakibatkan longsor. Di Sumedang, Jawa Barat diberitakan terjadi longsor.

Disamping, banjir ada bencana yang masih belum kelar di negeri kita. Apalagi, kalo bukan bencana wabah virus. Bahkan kabar terbarunya virus Corona udah memasukin phase II. Konon wabahnya berasal dari Inggris. Dan, pada saat tulisan ini dibikin, bencana yang menyita perhatian publik adalah jatuhhnya pesawat SJ-182 yang jatuh di perairan Jawa (Jakarta). Gimana harusnya kita menyikapi bencana ini? Kuy-lah kita kupas di edisi BTS ini…

iklan buletin teman surga

Bencana Ini Akibat Ulah Manusia?

“Kalo banjir mah akibat dari curah hujan yang tinggi, nggak bisa dikait-kaitkan dengan manusia?” Mungkin itu salah satu omelan, ketika kita mengatakan kalo bencana atau musibah akibat ulah manusia. Pun, kayak bencana virus Corona, lalu bencana kecelakaan pesawat, gunung meletus, dan lain-lain, kayaknya nggak bakal 100% orang setuju kalo itu semua diakibatkan oleh tangan manusia.

Oke, biar kamu nggak makin bingung, yuk kita kupas, bener nggak sih bencana itu akibat murni tangan manusia? Gini, kalo kita coba telaah ternyata musibah atau bencana itu kalo dilihat dari segi bentuknya, secara sederhana dibedakan dalam 3. Ada musibah yang bentuknya natural, kultural, dan struktural.

Pertama, musibah natural maksudnya adalah musibah karena memang kejadian alam. Sebut aja misalnya gunung meletus, angin puyuh, gempa bumi. Pada musibah ini, terjadi tanpa kesengajaan alias nggak ada campur tangan manusia. Bencananya terjadi karena atas kehendak Allah, dan manusia nggak akan terhisab atas hal ini. Karena kejadiannya murni dari Allah, entah itu secara “fungsi” memberi teguran kepada manusia maupun ngasih ujian buat manusia.

Kedua, ada musibah yang tersebab oleh kultur atau kebiasaan perilaku manusia. Mungkin dari yang ringan, tersebab buang sampah sembarangan maka akibatnya selokan di depan rumah jadi meluap. Sampe dengan musibah banjir akibat dari pembabatan hutan secara liar, kemudian penggalian tambang. Dari banjir itu bisa merembet ke musibah yang lain, seperti tanah longsor. Pembuangan sampah atau limbah penambangan, yang bisa mengakibatkan penyakit masyarakat di sekitar penambangan dan sebagainya.

Ketiga, musibah juga bisa terjadi secara struktural. Nah, kalo musibah ini terjadi akibat dari sistem hidup yang rusak dianut oleh sebuah negeri. Mulai dari yang nyata kelihatan dan langsung kontan akibatnya kita rasakan, maupun yang nggak terterawarang dan baru dirasakan akibatnya oleh generasi berikutnya. Contoh aja ya misalnya, sistem perbankan yang membiarkan riba merajalela, membuat masyarakat terjerat hutang yang menumpuk. Bahkan skala Negara, ketika sebuah Negara meminjamin (baca: hutang), sebenarnya menjatuhkan negeri kita dalam kebinasaan jerat riba.

D iantara ketiga bentuk musibah di atas dapat disimpulkan kalo musibah Natural terjadi atas kehendak-Nya sedangkan musibah Kultural dan Struktural lebih banyak terjadi sebagai akibat peran dan ulah manusia. Sebagaimana firman Allah:

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar)”. (QS.al-Rum:41)

Dalam Tafsir Jalalain, Imam Jalaluddin al-Mahalli, as-Suyuthi menyebutkan bahwa “..kerusakan yang terjadi di darat, dan di laut yang berupa terhentinya hujan dan menipisnya tumbuh-tumbuhan serta banyak negeri-negeri yang kekeringan sungainya itu disebabkan oleh perbuatan-perbuatan maksiat manusia….”.  Jadi, kalo musibah yang bentuknya natural, kita nggak bisa salahin manusianya, tapi kalo musibah bentuknya kultural dan struktural itu udah pasti akibat ulah manusia.

iklan buletin teman surga

Trus, Sikap Kita Kudu Gimana?

Oke, kalo dari segi bentuk atau sifatnya musibah kita udah bisa bedain, lalu berikutnya yang nggak kalah pentingnya, kita musti gimana dalam menyikapi bencana yang menimpa kita? Kita kudu diam merenung, atau kayak gimana ketika musibah itu datang ke kita?

Gaes, musibah atau bencana yang datang atau menimpa diri kita, itu adakalanya berupa bala’, iqob, dan azab. Atau bahasa lainnya, musibah bisa jadi berupa ujian atau cobaan, lalu ada yang berupa peringatan, dan bisa pula berupa azab. Tapi, hampir semua dari kita kalo ketimpa bencana lebih banyak sedih atau bahkan ekstrimnya mengutuk. Sementara kalo dikasih nikmat, kita banyak gembiranya, bahkan ada yang sampe kelupaan untuk bersyukur. Jadi, sebenarnya sikap yang bener seperti apa sih?

Pertama, ada bencana yang disebut bala’. Imam al-Raziy dalam kitab mukhtar al-shihab memberikan penjelasan bahwasanya bala’ digunakan untuk menggambarkan ujian, baik atau buruk. Allah Swt., menyatakan: “Allah yang menciptakan hidup dan mati untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya”. (QS. Al-Mulk: 2). Musibah jenis ini, diberikan kepada manusia sebagai ujian. Bagi orang yang beriman, ujian adalah tanda naik kelasnya iman seorang muslim.

Itulah kenapa seorang yang beriman, nggak boleh mencukupkan diri cuman bilang secara lisan ngaku beriman tanpa ujian. Nah, sikap kita terhadap ujian itulah yang menentukan kualitas iman, sekaligus membuktikan ucapan iman kita. Kalo kita mendapat atau menghadapi ujian, lalu marah, bahkan memaki itu tandanya ada masalah pada kualitas iman kita terhadap takdir Allah. Ada yang salah dalam mindset kita tentang rukun iman terhadap qadha dan qadar. Padahal kalo kita menyikapi takdir musibah dengan sikap yang benar, selain menaikkan derajat, juga bisa menentukan posisi kita kelak di akhirat.

Kedua, bencana diartikan sebagai hukuman atau iqob. Iqob itu bahasa lainnya adalah hukuman dari sebuah sebab-akibat, ketika manusia melampaui batas dengan melanggar aturan Allah. Bencana ini masuk kategori akibat ulah tangan manusia baik kultural maupun struktural, sebagaimana disinggung oleh Allah dalam QS. Ar-Rum 41. Jadi, kalo terjadinya musibah yang datangnya dari perusakan alam, seperti banjir, longsor dan sejenisnya, maupun musibah akibat sistemik, maka di sini wilayah pembahasannya bukan ujian atau cobaan, sebagaimana poin 1 di atas.

Pada musibah yang kategori iqob alias hukuman ini, maka penyikapan yang baik dan benar adalah merenung, berpikir, dan mencari solusi. Merenung bahwa harus diakui kalo musibah seperti banjir, musibah tha’un (wabah), musibah terjeratnya hutang ribawi, dan sejenisnya, akibat ulah manusia. Berpikir, maksudnya adalah selain berpikir tentang sebab-musabab bencana atau musibah itu, maka harus berpikir akar dari masalahnya apa. Kemudian, mencari solusi yang fundamental dari masalah bencana itu apa dan bagaiamana menangangani bencananya itu sendiri.

Ketiga, ada bencana atau musibah yang bentuknya pembinasaan atau azab. Bencana yang berupa azab ini bisa ditunaikan Allah di dunia, bisa juga berupa bencana yang kelak ditimpakan di akhirat.

“Dan Sesungguhnya kami merasakan kepada mereka sebahagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar)“. (QS. As Sajadah: 21).

Bencana azab di dunia, ini pernah menimpa umat terdahulu, seperti umat Nabi Nuh yang tidak beriman ditimpa dengan banjir bandang. Umat Nabi Musa yang tidak beriman ditenggelamkan di laut. Umat Nabi Luth yang kufur, dihancurleburkan dengan azab karena melegalakan homoseks, dan seterusnya. Lalu, apakah musibah berupa azab ini bisa menimpa kaum yang ada sekarang? Ini jawaban dari Allah

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa

aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur. Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain. Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi”(QS. al A‟raf: 96-99)

Dalam Tafsir Jalalain dijelaskan bahwa seandainya semua penduduk negeri yang mendustakan  semua beriman terhadap Allah SWT dan rasul-rasul-Nya, tidak kufur dan maksiat. Pastilah Allah SWT akan melimpahkan karunian-Nya melalui hujan dan tumbuh tumbuhan. Akan tetapi bila mereka tetap mendustakan Allah SWT dan rasul-rasulNya, maka mereka akan dihukum dengan azab yang pedih. Dan azab itu diberikan di saat mereka sedang lalai, yaitu tengah malam dan siang hari saat mereka merasa aman dari azab.

Pada musibah jenis ini, sikap yang terbaik adalah menjadikan azab yang telah menimpa sebagai tadzkiroh (peringatan) bagi kita, supaya kita nggak berperilaku serupa dengan umat-umat terdahulu yang mendustakan para nabi, dan ayat-ayat Allah. Kalo kita masih aja cuek bin bandel terhadap peringatan itu, maka bukan nggak mungkin bencana azab itu menimpa umat kita saat ini. Naudzubillah min dzalik.

iklan buletin teman surga

Protokol Islam Ngadepin Musibah

Nggak cuman ngadepin wabah Corona, menghadapi musibah baik yang sudah menimpa maupun yang belum menimpa kita, maka Islam juga punya protokolernya.

(1) Pertama dan utama ketika kena musibah, kita diwajibkan mengucapkan “Inna lillahi wa inna ilaihi raji‟un‟.”. Sebagaimana Allah sampaikan dalam surat al-Baqarah: 155, “(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji‟un‟. Kalimat ini sebagai bentuk penyerahan urusan kepada Allah, juga sebagai bentuk keikhalasan atas apapun bencana yang menimpa kita.

(2) Pentingnya, benerin mindset keyakinan kita akan takdir Allah, baik dan buruknya. Ini adalah

penting sekali bagi seorang yang ditimpa musibah. Ketika kita yakin, insya Allah musibah itu akan terasa ringan bagi mereka.

“Allah jadikan thaun sebagai rahmat bagi orang-orang beriman. Tidaklah seseorang yang di negerinya mewabah thaun lalu ia tetap berada di situ dengan sabar dan berharap pahala, ia tahu tidak ada musibah yang menimpanya kecuali apa yg telah Allah tetapkan bagi dirinya melainkan baginya pahala seperti pahala seorang syahid.” (HR. Al-Bukhari)

(3) Tetap bersyukur, musibah yang jauh lebih besar tidak menimpa kita, dan bersyukur melihat sekeliling kita yang masih selamat dari musibah. Artinya, dengan masih disisakannya kita setelah terjadi bencana, Allah seakan-akan minta ke kita biar kita bisa mengambil pelajaran dan hikmah dari bancana tersebut. Imam Ibnu Qayum menyampaikan “… Penderitaan yang dirasakan sendiri terasa lebih berat, tetapi ketika ada orang lain menderita dengan penderitaan yang sama atau lebih berat darinya, terasa ringan baginya. Bukan berarti dia senang melihat orang lain menderita” (Buku, Hikmah dibalik Musibah, hal 45)

(4) Tidak mengeluh atau merintih terus menerus, perbanyaklah istighfar. Ditimpa musibah memang menyakitkan dan menyedihkan, tapi larut dalam kesedihan tidak akan mengeluarkan kita dari musibah. Sikap yang terbaik adalah berdoa, agar kita bisa diberi hati yang luas menerima musibah, dan selanjutnya mengambil ibroh dari musibah untuk bangkit. “Allah menganugerahkan hikmah kepada siapa yang ia kehendaki. Dan, barang siapa dianugerahi hikmah itu, ia benar-benar dianugerahi karunia yang banyak. Dan, hanya orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran.” (QS al-Baqarah: 269). Kalo kita masih terus-terusan ngeluh, bukan nggak mungkin kita nanti jatuhnya su’udzon kepada Allah. Naudzubillah min dzalik.

(5) Selain harus husnudzon, protokol menghadapi musibah yang terbaik adalah mencari akar masalah agar menemukan solusinya yang hakiki. Boleh ikut care dan membantu sesama yang terkenan musibah, baik bantuan dana, tenaga maupun pikiran. Tapi demi kemaslahatan bersama, agar kita siap menghadapi bencana di kemudian hari, maka nggak salah kalo kita harus muhasabah diri dan muhasabah sistem. Jangan-jangan memang bencana demi bencana ini terjadi karena secara sistemik ada pembiaran. Maka tidak ada langkah lain untuk memperbaiki itu semua dengan menggiatkan lagi tugas dan kewajiban kita untuk amar ma’ruf nahyi mungkar terhadap sistem di masyarakat bahkan sistem negeri ini.

So, karena kita sekarang masih terkena wabah Corona, maka Corona sebenarnya bukan musibah yang terbesar. Musibah yang paling besar sejatinya di mana kita jauh dari Allah SWT. Tidak takut lagi melakukan dosa, tidak merasa takut ketika ketika tidak melaksanakan ibadah kepada Alloh. Virus Corona bisa jadi adalah warning dari Allah, karena kita sudah jauh dari Allah terlalu asyik dan dibutakan oleh dunia sehingga lupa kalo hidup kita hanya pinjaman dari Allah. Kalo yang punya (Allah) mau ngambil kapan saja apakah kita sudah siap? Wallahu’alam []

iklan buletin teman surga

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here