Buletin Teman Surga 150. Sis, Aturan Jilbab Ini Dari Sang Khaliq

0
54
buletin teman surga 150 sis aturan jilbab ini dari sang khaliq

buletin teman surga 150 sis aturan jilbab ini dari sang khaliqSebagaimana rame di sosmed, sebuah video orang tua yang protes kepada pihak sekolah anak perempuannya konon katanya dipaksa berjilbab di salah satu sekolah di Padang. Aksinya berlanjut menyurati komnas HAM dan juga Mendikbud. Ujungnya keluarlah SKB tiga menteri.

Gaes, buletin ini sebagai bagian dari remaja ngerasa kudu ikut ngasih edukasi yang bener bin lurus, gimana seharusnya menyikapi soal or kasus di atas? Tentu bukan untuk memperkeruh suasana dan juga bukan bagian dari provokasi. Nah, buletin kesayanganmu ini fokus ngebahas soal jilbabnya aja ya, sebagai sebuah kewajiban bagi muslimah. Kuy, pelototin deh sampe titik akhir buletin ini.

iklan buletin teman surga

Berjilbab Itu Dasarnya Iman

Kalo boleh tanya deh ke teman-teman kita yang cewek muslimah, alasan kenapa mereka berjilbab. Pasti jawabannya beragam, ada yang berjilbab karena teman ceweknya pada berjilbab, ada yang berjilbab dengan alasan orang tua mereka, juga mungkin ada yang beralasan pake jilbab karena peristiwa buruk di masa lalu. Nah, ada nggak ya kira-kira temen-teman cewek berjilbab karena “terpaksa” oleh aturan sekolah? Hem… kayaknya sih, nggak sedikit ya yang alasannya kayak gitu.

Bukan nge-judge, tapi kalo alasan awalnya berjilbab karena malu, karena takut, karena iri, karena nggak enak, dan sejenisnya, bakalan mudah bongkar pasang jilbab. Nggak usah dikasih contoh orangnya ya, man-teman bisa cari sendiri beritanya banyak selebritis yang bongkar pasang jilbab. Bahkan, mungkin man-teman pembaca buletin ini, punya teman wanita, kalo di sekolah berjilbab (kerudung) tapi begitu keluar gerbang sekolah, dilempar kerudungnya. Wadaw!

Tentu saja fakta seperti itu nggak dibenerin, dan nggak boleh dijadikan standar atau hukum bener-salah. Karena hukum berjilbab itu datangnya dari Allah, Sang Khaliq pencipta kita. Sebagaimana Allah sampaikan di dalam Al-Qur’an An-Nur 31 (kerudung), dan perintah penggunaan jilbab (baju kurung) ada di QS.Al-Ahzab  59:

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Ayat di atas menggunakan kalimat berbentuk amr (perintah) yang menurut ilmu ushul fikih akan dapat memproduk wajib ‘ainī ta’abbudī, yaitu suatu kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap pribadi orang yang beragama Islam dengan tanpa tanya mengapa. Siapa yang melaksakan kewajiban itu akan mendapat pahala, karena ia telah melaksanan ibadah yang diwajibkan Allah Swt. dan siapa yang tidak melaksanakannya ia akan berdosa.

Menutup aurat selain wajib juga saddu al-dzarī’ah, yaitu menutup pintu ke dosa yang lebih besar. Para ulama sepakat mengatakan bahwa khusus bagi kaum perempuan, memakai jilbab (busana muslimah) adalah wajib bagi setiap pribadi muslimah.

Nah, hanya saja untuk sampai pada “kerelaan” untuk diatur dengan yang wajib dari Sang Khaliq, maka tentu saja awal mulanya adalah soal keimanan. Yes, dari kita-nya yakin alias beriman kagak dengan Allah beserta rukun iman yang lainnya. Kalo iman-nya kagak nyala, gimana bisa menerangi hati untuk mau taat sama aturan berjilbab.

So aturan berjibab itu bukan sekedar fashion, gaya-gayaan, apalagi cuman ikutan teman dan trend, tapi memakai jilbab adalah tuntutan alias konsekuensi keimanan. Kalo ngaku beriman ya udah taat total. Karena iman itu selalu berbarengan dengan amal (shalih).

iklan buletin teman surga

Jangan Tanggalkan Jilbabmu, Sis

Kalo soal beriman tadi udah beres, maka kagak ada tuh jilbab kayak palang pintu kereta api, yang buka-tutup. Bahkan, kalo berimannya bener akan menjadi alasan kuat enggan untuk melepaskan jilbabnya. Nggak ada kekuatan yang lebih kuat dari kekuatan iman. Makanya kalo imannya lemah, karena nggak pernah dibangun imannya, kalo imannya loyo karena nggak pernah dirawat dengan belajar tsaqofah Islam, wajar aja kalo buka-tutup jilbabnya.

Itulah kekuatan iman yang nggak diragukan powernya. Baca lagi deh sejarah atau riwayat para nabi, rasul dan juga para sahabat, bagaimana mereka bisa keukeuh bin istiqomah dalam keislaman, karena menggengam bara Iman. Meskipun resikonya harus berhadapan dengan nyawa yang hilang sekalipun. Lihatlah, bagaimana seorang Bilal bin Rabbah berani melawan perintah tuan-nya untuk kembali menjadi musyrik, meskipun harus mengalami siksaan yang pedih. Kita bisa juga saksikan sejarah mencatat Yasir dan Istrinya sahid di tangan kafir Quraisy, demi mempertahankan keimanannya.

Sis, man-temanku kaum hawa, jangan tanggalkan jilbabmu. Kalo kamu yang udah berjilbab, tinggal diperkuat aja alasan berjilbabnya karena iman kepada Allah. Lalu, perkuat dan dirawat iman-nya itu dengan sering datang ke kajian Islam, baca buku-buku Islam, punyai guru atau ustadz tertentu yang menjadi rujukan. Jangan malah menanggalkan jilbab, hanya karena merasa imannya belum kuat. Itu langkah yang salah, apa yang sudah kamu bangun dan lakukan, tinggal dilurusin niatnya, diperkuat dan dirawat. InsyaAllah kalo kamu ada keinginan itu, maka kamu akan mendapatkan apa yang disebut hawalatul iman alias lezatnya iman.

Man-teman boleh cek deh, kasus teman-teman kita yang dulunya berjilbab lalu melepas jilbabnya, ujung pangkalnya ada di masalah keimanan. Kalo imannya kokoh, nggak akan terbeli sama urusan dunia. Bagi orang yang beriman, dunia ini receh banget jika dibandingkan dengan akhirat. Maka jangan gadaikan akhirat kita yang jatahnya kita lebih lama di sana kelak, hanya dengan dunia yang sejenak ini. Berapa lama sih, kita bertahan di dunia? Paling lama kan usia kita 100 tahun. Bandingkan dengan akhirat yang satu harinya di dunia setara dengan 50 ribu tahun.

Kalo masalah imannya beres, ujian, godaan dan cobaan berjilbab bakal bisa dilibas dengan tuntas. Kalo iman kita kuat, nggak bakal ngorbanin jilbab kita hanya karena kita punya masalah dengan manusia. Pun, kalo iman kita tuntas maka meskipun tanpa disuruh oleh pihak sekolah pun kita udah pasti berjilbab. Bahkan karena dorongan iman pula, kita bakal ngajak teman-teman kita muslimah untuk juga jangan melepaskan jilbab. Jadi, nggak perlu dipaksa berjilbab pun dengan aturan yang dibikin sekolah, kita suka rela berjilbab. Walaupun sebenarnya nggak ada aturan sekolah yang memaksa untuk berjilbab bagi muslimah, terlebih bagi non muslimah.

iklan buletin teman surga

Indahnya Aturan Islam Tentag Jilbab

Di luar pembahasan soal iman, kalo kita bicara jilbab sebagai sebuah pakaian, maka bagi yang menginginkan keindahan, keanggunan, bahkan keterjagaan, justru jilbab adalah pakaian pelindung itu semuanya. Lihat aja, gimana trend-nya ketika para wanita yang merasa dirinya pengin bebas (baca: liar) mereka melepaskan jilbab, tapi malah disambut dengan gelombang hijrahnya kaum hawa untuk berhijab.

Gimana nggak, lha wong jilbab itu pakaian pelindung bisa memproteksi dari segala tindak kejahatan, terutama kejahatan seksual. Kalo aturan pemakainnya benar sesuai syariat, lalu para lelaki alias lawan jenisnya paham Islam, maka betapa indahnya suasana pergaulan kita di tengah masyarakat. Sebaliknya, ketika para wanita berpakaian bebas dengan irit bahan, berbaju ketat, belum lagi bergaul bebas dengan lawan jenis, maka angka kejahatan seksual pun bukan malah berkurang, malah makin melonjak.

Bahkan gelombang keinginan berpakaian tertutup ala jilbab itu tidak hanya terjadi di negeri yang mayoritas muslim, kayak negeri kita. Negara Barat yang notabene kaum muslimin di sana minoritas, tapi kaum muslimahnya nggak takut untuk menunjukkan identitas sebagai muslimah dengan jilbabnya. Bahkan di beberapa instansi seperti kepolisian di Inggris, didapati para polwannya berpakaian jilbab. Itu membuktikan, bahwa aturan jilbab ini nggak perlu dipaksa (walaupun sebenarnya nggak ada paksaan juga), mendorong yang punya spirit keimanan pasti ingin mengenakannya.

Di Indonesia saja, terlepas alasannya apa, ada para selebritis yang notabene non muslim malah nyaman bin nyantai aja menggunakan jilbab. Di medsos juga pernah ada video chalenge wanita Barat non muslim, ditantang mengenakan jilbab, komentar mereka fine-fine aja. Itu semuanya membuktikan bahwa, jilbab sebagai sebuah pakaian bisa lintas ras, suku bahkan agama pun mengenakannnya. Hanya saja, yang perlu dicatat bahwa Islam tidak pernah memaksa seseorang untuk masuk Islam, apalagi berjilbab. Jadi kalo ada yang teriak kaum muslimin itu intoleran, karena memaksakan berjilbab, itu salah alamat.

iklan buletin teman surga

Toleransi yang ambyar!

Coba, man-teman boleh search deh di google, institusi mana yang pernah melakukan pemaksaan terhadap pengenaan jilbab. Sepertinya tidak ada institusi yang melakukan itu. Pun, kasus yang terjadi di Padang, setelah disimak secara bersama beritanya, yang terjadi bukan “pemaksaan”. Hanya saja, karena terlanjur viral dan diframing dengan jahat akhirnya yang tertuduh adalah aturan berjilbabnya itu sendiri. Padahal 46 siswi non muslim yang sekolah di situ merasa enjoy aja koq, hanya karena gegara 1 orang, jadi geger seluruh jagad.

Sekali lagi, nggak ada institusi yang melakukan pemaksaan. Kalo pun diterapkan sebagai sebuah aturan, maka itu kudu dianggap sebagai sebuah kewajaran dong. Taruh aja contoh, kalo ada seorang punya toko dan si empunya toko mensyaratkan pegawai wanitanya berjilbab, maka itu wajar, karena dia si empunya toko seorang muslim. Ya, kalo diopinikan atau bahkan diviralkan oleh seseorang yang misalnya melamar di situ nggak diterima gegara nggak berjilbab dan nggak mau berjilbab, maka yang jelas salah si pelamarnya itu. Bukan si empunya toko dong. Kalo mau jadi pegawai di toko tersebut, ya harus ngikutin aturan, kalo nggak bisa ikutin aturan ya wajar kalo nggak diterima di toko tersebut. Simpel dan logis kan?!

Terlepas si pelamar tadi muslimah atau non muslimah, maka di situ tidak ada konteks yang namanya pemaksaan. Kalo aturan itu diterapkan memang sifatnya penekanan, buat apa dong aturan kalo dibuat untuk dilanggar, ya nggak?! Kayak kita di sekolah nih, dibuat aturan untuk setiap hari Senin ikut upacara bendera, nah aturan itu sifatnya penekanan, dibuat untuk ditaati. Kalo nggak taat, akan ditegur, dinasehati sampai ke tahapan selanjutnya, seperti dipanggil orang tuanya. Kalo nggak bisa ngikutin aturan, ya bisa jadi sangsi paling ekstrim adalah dikeluarkan dari sekolah.

Nah, back to aturan berjilbab. Bagi muslimah yang udah baligh, berjilbab itu wajib ketika di luar rumah atau bertemu dengan non mahramnya. Jadi, berjilbab itu bukan pilihan, bukan lagi soal rela atau nggak rela. Sekali lagi itu sebagai sebuah konsekuensi keimanan dan keberislaman.

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan, ‘Kami mendengar, dan kami patuh.’  Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS An-Nur: 51)

Bagi seorang muslimah, berjilbab bukan lagi masalah toleransi melainan konsekuensi keimanan. Mungkin ketika dia tidak berjilbab di sekolah maupun di luar sekolah, dia merasa aman-aman aja, atau malah happy bangets. Tapi kalo bicara konsekuensi keimanan, dia kelak harus mempetanggungjawabkan perbuatannya tersebut di hadapan Allah. Maka di situlah, sekali lagi masalahnya bukan di masalah toleransi.

iklan buletin teman surga

Awas Islamophobia!

Gaes ayo berpikir cerdas. Justru yang musti kita waspadai, yang kita harus khwatirkan dari kasus jilbab ini muncul benih-benih islamophobia. Apa yang berbau Islam akan dicurigai, bahkan kalo perlu dilibas, sambil menyerukan yang namanya moderasi Islam. Nah ini nih yang bahaya dan sadar atau nggak, saat ini sedang digalakkan, yakni untuk bersikap moderat alias bersikap tengah-tengah aja terhadap apa yang bukan Islam. Islamophobia dan Islam moderat ini diibaratkan kayak botol sama tutupnya. Jadi, sengaja islamophobia ini dihembuskan, agar kaum muslimin mengambil sikap moderat.

Terbukti, seruan untuk toleran terhadap aturan berjilbab itu bukti nyata. Ya itu baru satu aturan, kita diminta toleran terhadap aturan agama kita sendiri. Artinya, kalo ada muslimah nggak berjilbab itu nggak boleh dipaksa, layaknya seorang non muslim yang bebas memilih pilihannya sendiri. Nah, kalo satu per satu aturan Islam diberlakukan kayak gitu, ya bukan nggak mungkin, umat Islam bakal lari dari aturannya sendiri. Umat Islam dibuat takut dengan aturannya sendiri, gaswat ini!

Oleh karenanya, gaes kita harus selalu ingat bahwa Islam dari sejak lahirnya risalah ini selalu mendapat pertentangan. Walaupun kita nggak sengaja mencari musuh, tapi musuh itu akan selalu ada. Haq dan  batil itu akan selalu berhadap-hadapan wajah itu sebuah keniscayaan. Maka tetapkan diri kita, agar tetap berada di sisi Islam, walaupun orang-orang kafir, munafik, musyrik itu membenci dan mengajak mengikuti mereka.

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu” (QS : Al Baqarah : 120) []

iklan buletin teman surga

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here