Buletin Teman Surga 153. Akalnya Ghosting!

0
22
buletin teman surga 153 akalnya ghosting

buletin teman surga 153 akalnya ghostingAda-ada bae,  remaja di jaman now kalo bikin istilah. Lagi pada heboh pake istilah ghosting. Ghosting apaan sih? Ya, bisa ketebak lah, kalo kita telusur dari akar katanya ghost itu kan hantu, nah hantu itu kan cirinya “nggak keihatan” alias “menghilang”. Jadi kurleb ghosting itu untuk menamai aktivitas seseorang yang tetiba ngilang, nggak ada kabar, tetiba muncul gitu aja dengan kabar mengejutkan. Ya, pokoknya seputar itulah.

Tapi, kita nggak usah pusing dan nggak usah ngerasa insecure karena nggak gaul dengan istilah-istilah baru, macam ghosting itu. Karena besok-besok ketika kamu mata kamu melek, telinga kamu terbuka udah ada istilah-istilah baru lagi. Pusing kalo dipikirin.

Mending, sekarang mikirin nih, eh lebih tepatnya sih tebak aja deh, kira-kira kalo judul BTS kali ini “akalnya ghosting” ngebahas apa sih? Masak akalnya hilang? Atau akalnya gosong? Hehehe… udah deh daripada pingsan karena penasaran nggak bisa nebak, yuk simak buletin kesayanganmu sampe kelar.

iklan buletin teman surga

Akal Bisa Ghosting Ya?!

Istilah ghosting banyak dipake pada sebuah hubungan percintaan (baca: pacaran), tapi sebenarnya secara umum mah, ghosting bisa dipake apa aja, yang intinya membayang, membekas, menghilang dan sejenisnya. Nah, ghosting kali ini kita mau kaitkan dengan hilangnya akal. Wow, kalo hilang akalnya gila dong?

Hemm…, mungkin bisa mengarah ke gila juga, tapi belum sampe gila sih. Hilang akalnya di sini, lebih ke akalnya nggak lagi di tempatnya. Gini deh, biar kamu nggak tambah bingung dan makin nyambung ke bahasan kita kali ini, coba deh man-teman ingat lagi, pernah nggak punya teman or saudara yang kehilangan kesadaran karena mabuk? Bukan mabuk perjalanan ya, tapi mabuk karena minuman keras maupun mabuk karena narkoba.

Anggap aja man-teman pernah ngeliat orang mabuk beneran. Biasanya kalo orang mabuk, ngomognya suka ngaco, bahkan kalo mabuknya karena nyimeng atau nyabu lebih parah, perilakunya juga ikutan ngaco. Nah, itulah ciri-ciri orang yang akalnya sedang tidak ada di tempat, alias hilang kesadarannya. Bisa disebut halusinasi, mengigau, euforia dan sejenisnya.

Kalo tingkatannya udah jadi pecandu minol alias minuman berakohol, ada ciri-ciri yang bisa dideteksi. Di antaranya menurut P2PTM Kemenkes RI, (1) Suasana hati dan perilaku yang selalu berubah; (2) Menjadi pendiam dan penyendiri; (3) Tidak lagi tertarik menyalurkan hobi atau tidak tertarik untuk melakukan aktivitas positif; (4) Mata terlihat sayu dan merah; (5) Penurunan prestasi di sekolah atau kampus; (6) Daya ingat berkurang dan perubahan gaya bicara; dll

Nah, makin yakin kan, kalo para pecandu (pemabuk) itu sering akalnya ghosting? Bahkan kalo kecanduanya pada NAPZA (Narkotika, Putaw, Inex, Sabu, dll), lebih parah dari itu ciri-cirinya. Kalo levelnya udah pada sampe addict alias pecandu yang ketagihan, bisa ngelakuin apa aja. Mulai dari nyuri duit ortunya, sampe kejahatan yang lebih gila dari itu. Pantes banget kalo mereka disebut akalnya ghosting kan?

iklan buletin teman surga

Miras Mending Daripada Narkoba?

Kalo narkoba seharusnya sih udah bikin orang begidig untuk jadi penikmat maupun pecandunya. Apalagi, sudah ada badan khusus anti narkoba untuk menangani masalah ini. Tapi, nyatanya tetap aja ada penikmat dan pecandunya.  Persis, kayak rokok, meski sudah dikasih warning di bungkusnya, “merokok membunuhmu”, tapi tetap aja banyak yang nggak takut dampak or akibat bahaya rokok. Malahan kalo ada yang nggak ngerokok dibilangnya nggak cowok. Duh parah pisan!

Pertanyaannya, why, kenapa? Koq pada nggak kapok, ngeri, takut hilang akal, karena narkoba? Jawaban simpelnya sih, pake prinsip ekonomi, ada supply ada demand, alias pengadaan itu ada karena permintaan. Artinya, karena memang ada yang minta, baik untuk dikonsumsi atau didistribusi. Ini mah udah bukan rahasia lagi, kalo narkoba udah jadi ajang bisnis, bahkan udah sampe dibui pun masih bisa menjalankan bisnis narkoba ini. Ngeri kan?!

Itu narkoba, lalu gimana dengan miras? Ya setali tiga uang, sama aja. Bukan berarti miras maupun minol lebih enteng dampaknya. Nggak ada toleransi untuk hal yang membahayakan akal manusia. Kalo narkoba dilarang harusnya miras juga dilarang, dibentuk juga badan khusus untuk menangani masalah ini. Tapi lagi-lagi kayak rokok, meski sudah tahu bahwa miras ini berbahaya, tapi kalo demand alias permintaan, apalagi dikasih fasilitas, yaa wis bablas angine, nggak ada pengaruhnya larangan itu.

Kita udah dikasih tahu bahaya rokok, narkoba hingga miras, tapi kalo di supermarket or warung-warung tertentu disediain rokok atau miras, meskipun katanya kadar alkoholnya kecil, trus di bar atau café juga dijual bebas minol, ya podo wae alias sama aja bo’ong. Itu sama aja kayak orang tua ngelarang anaknya ngerokok, tapi bapaknya nyontohin di depan anaknya ngerokok, trus rokoknya ditaruh bebas di atas meja. Itu menunjukkan betapa nggak seriusnya penanganan masalah narkoba, miras dan sejenisnya, yang bisa berpotensi ngilangin akal manusia.

Jadi miras tetap aja bahaya bin haram. Sebahaya apa? Masih menurut P2PTM Kemenkes RI, dampak negatif miras, di antaranya: (1) Menyebabkan kerusakan saraf; (2) Menyebabkan gangguan jantung; (3) Mengganggu sistem metabolisme tubuh; (4) Mengganggu sistem reproduksi; (5) Menurunkan kecerdasan; (6) Mengganggu fungsi hati; (7) Menyebabkan tekanan darah tinggi, dll. Lengkap sudah, yang diserang bukan hanya akal atau otak, tapi seluruh organ bisa terancam rusak kalo kita jadi pengkonsumsi miras.

iklan buletin teman surga

Islam Larang Miras Demi Jaga Akal

Bukan Islam kalo nggak lengkap hukumnya, bukan Islam kalo nggak mengandung rahmat dari aturan syariatnya. Pun ketika Islam ngelarang miras, Allah sebagai Al-Khaliq tentu Maha Tahu segalanya, termasuk bahaya atau akibat dari miras. Makanya pengertian minuman keras dalam Islam adalah minuman yang haram dan memabukkan.

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al Maidah : 90)

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya…..” (QS. Al-Baqarah : 219)

Bahkan, lagi-lagi terkait dengan akal atau kesadaran, kita dilarang minum kamhr (miras) apalagi saat sedang shalat, karena kalo dalam keadaan mabuk, pasti hilang kesadaran, kontrol terhadap ucapan atau bacaan kita saat sholat.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, …..” (QS. An Nisa : 43)

“Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kalian lantaran (meminum) khamar dan berjudi, dan menghalangi kalian dari mengingat Allah dan shalat, maka berhentilah kalian (dari mengerjakan pekerjaan itu)” (QS al-Ma’idah: 91)

Miras atau khamr bisa jadi asal muasal sebuah kejahatan. Orang saling bunuh ketika dalam keadaan mabuk berat, orang kecelakaan karena abis mabuk berat, orang bisa memperkosa, mencuri dan sebagainya berawal dari mengonsumsi miras. Pantaslah jika Rasulullah SAW mengingatkan:

“Janganlah kamu minum khamar (miras), karena sungguh khamar adalah kunci dari setiap keburukan”  (HR Ibnu Majah)

Begitulah, miras telah merampas akal sehat para pengkonsumsi dan pecandunya. Miris banget, kalo ada yang bilang miras adalah simbol kemajuan dan modernitas. Mereka sudah kehilangan akal sehatnya, miras telah merenggut akalnya, hingga tak bisa berpikir baik-buruk, benar-salah, apalagi halal-haram.

iklan buletin teman surga

Biar Akal Nggak Ghosting

Imam Ahmad meriwayatkan dari sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Aku didatangi oleh Jibril dan ia berkata: Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah melaknat khamar, melaknat orang yang membuatnya, orang yang meminta dibuatkan, penjualnya, pembelinya, peminumnya, pengguna hasil penjualannya, pembawanya, orang yang dibawakan kepadanya, penghidangnya dan orang yang dihidangkan kepadanya.” (HR Ahmad)

Jadi, biar kita jauh dari zona akal ghosting, maka kita kudu jauh dari zona pertemanan pengkonsumsi miras. Karena mulai dari yang bikin, sampe yang cuman disuruh beli aja, terkena laknat Allah. Ya, awalnya kita mungkin cuman jadi tukang nganternya aja, tapi kalo keseringan gaul dengan mereka, maka kalo kita nggak kepingin nyoba, pasti mereka juga nggak bakal tinggal diam, ngajak kita untuk terjerumus. Naudzubilllah.

Nah, sebagai lawannya, kita kudu berkumpul di komunitas-komunitas yang positif, yang mengajak kita kepada kebaikan dan menjaga kita selalu baik. Sering-seringlah hadir di kajian Islam, atau kalo di masa pendemi kayak gini, jangan gabut, arahkan waktu kita untuk mengkonsumsi kajian online, baik yang langsung maupun via youtube dan sebagainya. Biar apa? Biar suasana hati dan pikiran kita jauh dari galau, sebaliknya malah kita jadi pribadi yang senantiasa terjaga keimanan dan taqwanya pada suhu yang konstan.

Trus, akal atau otak ini biar nggak tumpul harus terus diasah, otak kita harus produktif. Nah, biar produktif, maka kembalikan fungsi akal semula yakni untuk berpikir. Jangan biarin otak ini mandeg dari berpikir, terutama berpikir serius. Karena awal muasal dari semua aktivitas kita dimulai dari berpikir, bahkan itulah yang jadi ciri manusia yang bedain dengan hewan, yakni berpikir. Berpikir tentang apa? Kalo kata al-Qur’an begini:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,… (QS. Ali Imron 190)

Kapan dan pada saat apa kita diminta berpikir, bertafakur, merenung? Dilanjutkan oleh Allah dalam ayat selanjutnya:

“..(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. Ali Imron 191).

So, dengan terus berpikir yang dibimbing oleh al-Qur’an, di situlah kita tetap akan menjadi manusia waras yang berakal sehat, mudah bersyukur jauh dari insecure. Wah, ternyata insecure juga awalnya dari berpikir, otak atau akal. Makanya, jaga kewarasan akal kita biar nggak ghosting dengan Islam, ya hanya dengan Islam. Bukan yang lain. Yang lain mah lewat. Allahu Akbar! []

iklan buletin teman surga

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here