Buletin Teman Surga 162. Nada Untuk Palestina

0
18
buletin teman surga 162. nada untuk palestina

buletin teman surga 162. nada untuk palestinaMy land they occupied

My home they demolished

One day, they imprisonment my family

And they ended my childhood

Duka Palestina kembali memantik keprihatinan masyarakat dunia. Arogansi tentara Israel yang kembali menyerang Ghaza dan komplek Mesjid  Al-Quds bikin sewot umat Islam. Tak ayal korban pun berjatuhan. Ratusan warga Palestina syahid. Anak-anak Palestina kehilangan masa kecilnya. Gelak tawa mereka tergantikan dentuman suara rudal diiringi tangis pilu.

Solidaritas umat Islam sedunia untuk Palestina menggema di setiap tempat. Di dunia nyata, bantuan kemanusiaan terus mengalir tiada henti. Tak terkecuali dari Nusantara. Bantuan donasi untuk Ghaza digalang oleh semua kalangan. Semua bergerak hingga berhasil mengumpulkan lebih dari 60 miliar rupiah. Amazing!

Di dunia maya, info seputar duka Palestina juga bersahut-sahutan di semua kanal sosial media. Bentuk keprihatinan netizen memviralkan lagu-lagu untuk Palestina. Sehingga banyak lagu-lagu dari Timur tengah yang berkisah tentang kepiluan Palestina makin familier di telinga kita. Sebut saja lagu Satabqo Al-Quds yang diaransemen ulang dan dinyanyikan oleh hafizh cilik dari Cianjur, Ahza Zain yang cukup menarik perhatian netizen untuk ikut menyisihkan sebagian hartanya.

Begitu juga dengan cover lagu A’touna Tufuli yang menyayat hati dan menggugah emosi. Tatkala anak-anak warga Palestina menyuarakan kesedihannya. Tatkala para Penjajah itu merampas tanah dan menghancurkan rumah-rumah mereka. Tatkala tak ada kegembiraan hari raya yang mereka rasakan. Tatkala kebebasan mereka terenggut. Mereka berteriak, berikan kebebasan masa kecil kami!

Tahun 2009 lalu, salah seorang musikus Asal Damaskus yang tinggal di Los Angeles merilis sebuah lagu Song for Ghaza yang viral hingga hari ini. Dia adalah Annas Allaf yang lebih dikenal dengan nama  Michael Hart. Salah satu lagunya bertajuk We Will Not Go Down kembali populer ditengah keprihatihan Palestina di Dunia Maya. Liriknya yang dalem plus alunan gitarnya yang melow cukup nendang lho. Bikin mengharu biru. Nggak heran kalo banyak orang terinspirasi sejenak untuk mikirin sodara-sodara kita di Palestina, terutama di Gaza.

We will not go down (kami tidak akan menyerah) emang pas menggambarkan karakter warga Palestina yang mayoritas Muslim. Yaps, keyakinan sepenuh hati akan kebesaran Allah swt yang tertanam dalam diri kita bakal menjadi benteng pertahanan yang tahan banting. Walau mesjid, rumah, atau sekolah muslim Palestina dibumihanguskan, namun semangat juang mereka dalam mempertahankan tanah suci Palestina tetep membara.

Lantas, apa yang mengharuskan kita sebagai remaja muslim yang kece dan imut harus tetap menjaga kepedulian terhadap Palestina?

iklan buletin teman surga

Karena Sejarah Palestina = Sejarah Islam

Riwayat negeri Palestina sangat erat kaitannya dengan perjalanan sejarah Islam dan kaum Muslimin. Di dalamnya terdapat Masjid al-Aqsha yang merupakan kiblat pertama umat Islam sebelum Allah Swt. memerintahkan hambaNya untuk menghadap kiblat kedua (Ka’bah al-Musyarrafah), 16 bulan setelah peristiwa hijrah. Masjid al-Aqsha juga menjadi tempat ‘transit’ Nabi Muhammad saw. menuju Sidratul Muntaha dalam peristiwa Isra Mi’raj.

Palestina berada di bawah kekuasaan Islam saat Umar bin Khathab ra berhasil menaklukkannya pada tahun 15 H dan menerima (kunci)-nya dari Uskup Agung Saphranius. Mereka menyepakati perjanjian masyhur, yaitu perjanjian Umariyah, yang di antara isinya (atas permintaan orang Nasrani yang tinggal di sana) adalah: “Tidak boleh satu orang Yahudi pun untuk tinggal di daerah Palestina”. Catet tuh!

Pada masa pemerintahan khilafah Abdul Hamid, kaum Yahudi yang nggak punya tempat tinggal (idih, kayak gelandangan aja…) berusaha menjadikan Palestina sebagai tempat mukimnya. Dengan bantuan Inggris, mereka berupaya memicu timbulnya krisis keuangan di Negara Khilafah Ustmaniyah. Lalu Hertzl, pemimpin senior Yahudi saat itu (1901 M), menawarkan sejumlah uang kepada Khalifah untuk memulihkan ekonomi Daulah Khilafah. Tapi dengan syarat, kaum Yahudi dibolehkan tinggal di Palestina.

Namun, Khalifah Abdul Hamid dengan tegas menolak tawaran Hertz. Beliau menjawab:

“Sungguh aku tidak bisa melepaskan bumi Palestina walau hanya sejengkal. Bumi itu bukan milikku, melainkan milik umat Islam. Bangsaku telah berjihad dalam mempertahankan bumi tersebut dan telah menyiraminya dengan darah-darah mereka. Lalu Yahudi itu meminta untuk orang-orang mereka, dan jika negara Khilafah suatu hari hancur, maka sungguh mereka pada saat itu akan dapat mengambil Palestina secara cuma-cuma. Namun, selama aku masih hidup, tertanamnya pisau bedah pada tubuhku lebih ringan bagiku daripada menyaksikan Palestina terlepas dari Negara Khilafah, dan hal itu tidak akan pernah terjadi. Sungguh aku tidak akan setuju untuk mencabik-cabik tubuh kita sendiri, padahal kita masih hidup.”

Pada tahun 1917 (menjelang runtuhnya Khilafah Utsmaniyah) dalam perang dunia I, Inggris berhasil menduduki Palestina. Lalu Inggris menetapkan sebuah Perjanjian Balfour. Isinya, Inggris menjanjikan kepada Yahudi untuk dapat menduduki Palestina dan mendirikan negara bagi mereka di sana.

Usai perang dunia II, PBB seolah mengamini rencana Inggris dengan mengeluarkan resolusi No. 181 tanggal 29/10/1947. Isi resolusi itu, menetapkan pembagian daerah Palestina menjadi dua, antara penduduknya dan kaum pendatang yang merampasnya. Lalu Inggris merekayasa perang antara para penguasa Arab yang menjadi bonekanya, dengan Yahudi sebagai bentuk penolakan pendirian negara Yahudi di Palestina. Padahal hasil akhirnya sudah ditentukan oleh Inggris. Yahudi sebagai pemenang sehingga bisa mendeklarasikan negaranya pada tanggal 05 Mei 1948 dengan menguasai sebagian besar wilayah Palestina.

Akibatnya, tingkah polahnya terhadap tuan rumah udah kebangetan. Saking nggak tahu dirinya, dia malah punya rencana untuk melakukan yahudisasi kota al Quds (Palestina) yang tertuang dalam sebuah proyek besar bernama “Jerusalem Raya”. Proyek ini mengusung slogan “Sebanyak mungkin orang Yahudi dan sedikit mungkin orang Palestina” di Al Quds. Rencana ini sempurna dilakukan pada tahun 2020 nanti. (Info palestina, 03/05/2005). Waduh tahun lalu dong!?

iklan buletin teman surga

Kuatkan Nada dengan Tindakan Nyata

Aksi brutal yang dilakukan militer Israel di jalur Gaza Palestina memancing kebencian umat Islam sedunia. Israel dan Palestina sepakat untuk melakukan gencatan senjata di Jalur Gaza pada Jumat (21/05/2021) setelah 11 hari terjadinya penyerangan Israel tanpa henti di daerah tersebut.

Perang antara Israel dan dua kelompok utama Palestina di Jalur Gaza ini telah mengakibatkan ratusan jiwa tewas, ribuan rumah hancur, dan meluluhlantahkan infrastruktur utama di kawasan tersebut.

Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan Palestina, 248 warga Palestina termasuk 66 anak tewas akibat serangan udara Israel sejak 10 Mei 2021. Lebih dari 1.900 orang, termasuk 560 anak-anak terluka di saat bersamaan. Lebih dari 90.000 orang terpaksa meninggalkan rumah mereka. 205 blok pemukiman atau rumah hancur total. 454 mobil atau alat transportasi hancur atau rusak parah. Tiga masjid hancur total, 40 masjid dan satu gereja rusak.

Siapa yang nggak terusik dengan duka nestapa yang menimpa saudara sesama muslim di Gaza. Aksi turun ke jalan pun digelar diberbagai tempat. Bantuan logistik seperti makanan, pakaian, obat-obatan, hingga tim medis mengucur deras menuju tempat kejadian.

Bahkan PBB pun berusaha mengeluarkan resolusi terhadap Israel. Sayangnya, resolusi PBB ditolak oleh AS sebagai salah satu pemegang hak veto dan pelindung Israel. Bantuan logistik tertahan di perbatasan. Pengiriman mujahid pun mentok di birokrasi penguasa negeri Muslim.

Apa yang tengah terjadi di jalur Gaza udah seharusnya membukakan mata kita tentang kondisi umat Islam sekarang. Sekat-sekat nasionalisme telah mengoyak ukhuwah islamiyah. Para penguasa muslim cuman bisa mengutuk (emangnya Malin Kundang pake dikutuk segala?) atau mengecam. Padahal Allah swt mengingatkan:

Jika mereka meminta pertolongan kepada kalian dalam urusan agama, maka kalian wajib menolong mereka.(QS al-Anfal [8]: 72).

Selain dengan bantuan dana, logistik, atau tenaga medis yang melengkapi gempita nada untuk palestina, mesti ada juga kekuatan seimbang untuk mengusir penjajah Israel dari bumi yang diberkahi itu. Tahu sendiri kan, selama ini militer Israel itu belagu banget mempertontonkan kebrutalannya.

Dan sepertinya, bahasa yang mereka pahami untuk menyelesaikan konflik bukan perjanjian damai atau gencatan senjata. Lantaran buktinya, setelah mereka dibuat kerepotan oleh serangan rudal tentara Hamas, mereka minta gencatan senjata. Eh setelah itu, mereka melanggar perjanjian dengan menyerang lagi warga Palestina. Mungkin cuman bahasa perang yang bisa menghentikan kelicikan mereka.

Untuk itu, umat perlu  pemimpin yang bisa menyatukan kaum muslimin seluruh dunia. Biar satu komando untuk menggalang bantuan jika ada umat Islam yang teraniaya. Terlebih lagi, keberadaan seorang pemimpin dalam Islam bukan sekedar pemersatu. Tapi juga menjadi pelindung alias perisai.

Rasulullah saw. bersabda,

Sesungguhnya al-Imam (pemimpin negara) itu (laksana) perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya.” (HR Al-Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, Abu Dawud, Ahmad).

Makna ungkapan kalimat “al-imamu junnah (Imam itu laksana perisai)” adalah perumpamaan sebagai bentuk pujian terhadap imam yang memiliki tugas mulia untuk melindungi orang-orang yang ada di bawah kekuasaannya sebagaimana dijelaskan al-Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim,

“(Imam itu perisai) yakni seperti as-sitr (pelindung), karena imam (khalifah) menghalangi/mencegah musuh dari mencelakai kaum muslimin, dan mencegah antara manusia satu dengan yang lain untuk saling mencelakai, memelihara kemurnian ajaran Islam, dan manusia berlindung di belakangnya dan mereka tunduk di bawah kekuasaannya.”

Jadi, selain menggalang solidaritas untuk Palestina dalam bentuk bantuan uang dan obat-obatan, jangan lupakan juga untuk menyadarkan umat. Biar kita semua ngeh kalo masalah Palestina dan negeri-negeri Islam lainnya adalah urusan kita juga dan hanya keberadaan pemimpin Islam sedunia solusinya.

Ayo, kita isi hari-hari kita dengan mengaji, menyuarakan kebenaran Islam, dan mengajak teman-teman kita untuk aktif berdakwah. Biar nggak cuman nada solidaritas aja yang terdengar nyaring di dunia maya, tapi juga tindakan nyata yang kian sering untuk membebaskan umat Islam di Palestina. Yuk![]

iklan buletin teman surga

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here