Buletin Teman Surga 164. Kuy, Balik Sekolah Lagi?

0
20
buletin teman surga 164. kuy balik sekolah lagi

buletin teman surga 164. kuy balik sekolah lagiGaes udah tahu kan, kalo sekolah mau masuk lagi? Istilahnya PTM alias Pembelajaran tatap Muka. Nah, kalo mendengar berita ini, kamu hepi atau sedih? Jangan-jangan sudah ada yang terlanjur enjoy belajar daring, akhirnya malah males kalo ada PTM. Tapi, coba man-teman tanya deh terutama ke ibu, kayaknya para orang tua kita ngarep bahwa memang harus segera belajar tatap muka lagi, bukan belajar jarak jauh. Nah, biar valid, sambil ngelanjutin baca buletin kece ini, coba sekarang tanya deh ke ibunya man-teman.

Anak Senang, Ortu Tegang

Hayo jujur, kalo dibandingin antara belajar jarak jauh Vs PTM, kayaknya sih banyak yang suka belajar jarak jauh. Ya, meskipun ada sedikit bersusah-susahnya belajar jarak jauh, tapi itu kan bisa dilakukan sambil rebahan, sambil googling, stalking, de el el. Nggak se-formal kalo belajar di sekolah, yang waktunya udah diatur, harus berseragam, mata yang nggak bisa ditahan ngantuknya kalo ada guru yang ngajarnya monoton, dsb. Perihnya, aktivitas belajar sambil leha-leha kayak gitu udah berjalan hampir 2 tahun. Udah jadi habits baru, yang kalo mau disuruh lagi ke habits yang lama, yang kurang menyenangkan tadi, sepertinya bakalan berat.

Dari sisi orang tua kita, kalo coba kita sedikit empati atas kerepotan mereka mengurusi kita saat belajar di rumah. Udah beliau selama ini repot ngurusin urusan rumah tangga, sekarang ketambahan job, harus menemani kita belajar. Belum lagi ortu, yang anaknya banyak, bukan hanya berbagi perangkat gadget atau laptop, tapi juga kudu membagi waktu. Apalagi, kalo orang tuanya, baik bapak maupun ibunya ternyata para pekerja, kebayang kan betapa repotnya mereka membagi waktu, pikiran, dan tenaganya buat kita.

Ya, memang benar tugas mendidik sebenarnya ada di tangan ortu, tapi kalo model pembelajaran yang selama ini di sekolah harus dibawa ke rumah, itu harus butuh waktu dan penyesuaian. Nah, sayangnya nggak semua ortu bisa beradaptasi, apalagi kalo terkendala adanya kuota dan sinyal. Duh, betapa perih dan tegangnya ibu kita menemani kita belajar.

Mumpung belum terlambat, yuk minta maaf ke orang tua, mungkin kita ada bandel-bandelnya selama diajari di rumah oleh Beliau. Sekaligus, kudu bin wajib kita berterimakasih ke ortu, mungkin khususnya ibu udah menemani, ngajarin, direpotin atas tugas-tugas dari sekolah. Dan mungkin siapapun di rumah yang udah ngebantu kita belajar selama daring, ucapin maaf dan terimakasih.

Selebihnya, baru kita berpikir dengan jernih, jangan dicampurin dengan nafsu malas atau keenakan belajar daring, lalu ogah-ogahan ngelakuin PTM. Ya, meskipun kita nggak tahu apakah kebijakan PTM akan jadi berlangsung secara menyuluruh, karena mengingat wacana belajar di sekolah ini sebenarnya udah pernah disampaikan dari tahun kemarin. Baru Juli 2021, rencana akan diberlakukan serentak di seluruh Indonesia. Jangan dibayangin ngerinya PTM, fokuskan bahwa kita memang harus tetap belajar, karena belajar itulah bekal masa depan kita.

iklan buletin teman surga

PTM Vs Virus Corona

Jadi, kebijakan PTM sudah disampaikan Pak Menteri. Pak Nadiem mengungkapkan hasil dari berbagai survei yang dihimpun maupun yang dilakukan Kemendikbud-Ristek. Beliau menyebutkan, mayoritas peserta didik dan orang tua sudah ingin tatap muka. “Hampir 80% sudah ingin tatap muka. Karena juga sudah lebih percaya diri dengan protokol kesehatan,” (kompas.com)

Hanya saja dibukanya sekolah untuk PTM ini, jangan diambil hanya karena dibandingkan dengan dibukanya Mal. Karena masalahnya bukan Mal sudah dibuka duluan, tapi kan masalahnya ada di penyebaran virus corona. Kalo fokusnya ke pendemi, harusnya malah Mal itu, jangan dibuka duluan. Faktanya, kan Mal atau Pasar tetap atau masih buka, padahal di tempat itu tidak terhindarkan kerumunan, persentuhan dan sebagainya. Jadi, membandingkan Sekolah Vs Mal, itu perbandingan yang nggak apple to apple. Ya nggak?

Nah, yang masih jadi maju mundur untuk ikut PTM terbatas, karena kekhawatiran tertular virus covid-19.  Padahal sebenarnya, bagi sekolah yang akan melaksanakan PTM terbatas, beberapa hal yang harus disiapkan memenuhi standar kesiapan pembelajaran sesuai daftar periksa seperti tercantum pada laman Data Pokok Pendidikan (Dapodik) Kemendikbud dan Education Management Information System (EMIS) Kemena.

Di sekolah juga diminta untuk membentuk satgas COVID-19, lalu mempersiapkan infrastruktur sekolah dan seluruh warga sekolah dalam pemenuhan protokol kesehatan yang ditetapkan. Kemudian, ada kombinasinya juga antara metode pembelajaran tatap muka terbatas dan pembelajaran jarak jauh. Khusus yang PTM terbatas dilakukan melalui dua fase.

Pertama,  fase transisi berlangsung dua bulan sejak dimulainya pembelajaran tatap muka terbatas di sekolah. Kedua fase kebiasaan baru setelah masa transisi selesai, maka pembelajaran tatap muka terbatas memasuki masa kebiasaan baru. Pas, masa transisi bulan pertama keterisian 50% dan bulan kedua keterisian siswa 100%, maksimal 18 anak perkelas.

Nah, kalo prosedurnya sudah sedemikian rupa, secara ikhtiari sudah cukup aman. Tapi, kayaknya sih masih saja tetap ngeri-ngeri sedap sama virus corona. Karena faktanya, orang yang kelihatannya sehat-sehat saja, ternyata membawa virus corona, atau yang disebut OTG. Meskipun juga sudah vaksin, masih tetap saja angka korban belum begitu menurun, bahkan yang sudah divaksin 2x, tetap juga positif kena virus corona.

Indra Charismiadji, seorang pemerhati pendidikan di laman sebuah berita, menyampaikan kebijakn PTM ini kurang tepat dilakukan saat kasus Covid-19 masih tinggi seperti sekarang ini. Penilaian ini disebut Indra didasarkan pada kondisi keamanan tenaga pendidikan yang belum maksimal karena yang telah divaksin penuh belum mencapai 20%, selain itu IDI juga belum merekomendasikan pembelajaran tatap muka (PTM).

Di sinilah, memang perlu keseriusan untuk menerapkan kebijakan PTM ini. Jangan setengah-setengah, dan juga tergesa-gesa, biar kita yang mau ke sekolah bener-bener secure, nggak insecure. Karena masalahnya, bukan aja soal mengembalikan pembelajaran tatap muka, tapi juga masalah keamanan atau kesehatan yang juga kudu diproritaskan. Diri kita sendiri bukan takut, tetap juga kudu waspada atau antisipasi, dengan ikhtiar mematuhi protokol kesehatan. Selebihnya, kita serahkan penjagaan diri kita sama Allah SWT.

iklan buletin teman surga

Jangan Gegabah, Jangan Patah

Pendidikan memang penting buat anak-anak negeri tapi jangan juga mengabaikan keselamatan mereka. Jangan gegabah menerapkan kebijakan, kalo tidak dikaji secara mendalam, karena nyawa jadi taruhannya. Jangan hanya karena udah patah semangat dan bosen ngurusin belajar di rumah, lalu diambil kebijakan tersebut.

Kita ini, para generasi masa depan, sangat dibutuhkan di masa depan untuk meneruskan perjuangan.  Sementara tanda-tanda wabah ini berakhir, belum kelihatan, malah yang kelihatan justru masih terus bertambah angkanya, maka sekali lagi, situasi kayak gini keselamatan jiwa jangan sampai dinomorduakan. Jangan malah mengutamakan, kehidupan ekonomi. Iya kita memang butuh makan, tapi cara mencari makannya juga kudu diperhatikan. Bukan lantas demi alasan memulihkan ekonomi, lalu Mal dibuka. Inilah yang disebut cara pandang kapitalisme, yang mementingkan aspek ekonomi saja.

Kalo emang tulus mau menyelesaikan masalah, protokol kesehatan dijaga ketat, dikasih vaksin yang tokcer, baru dibuka sekolahnya, jangan Mal-nya dulu yang dibuka. Tapi kalo kebijakannya setengah-setengah, apalagi sampe menyebut-nyebut tempat ibadah macam masjid, sebagai cluster yang berpotensi penyebaran virus, itu mah udah kelewatan. Masjid minta ditutup, atau social distancing, nah gimana dengan Pasar, Mal yang terjadi kerumunan di situ?

Sebetulnya kebijkan PTM tetap masuk akal. Tentu jika dibarengi oleh penertiban tempat-tempat keramaian yang lain seperti mal-mal, pasar-pasar, bandara, stasiun, terminal dll. Faktanya, banyak di antara tempat-tempat tersebut—yang notabene jauh lebih ramai daripada masjid—dibiarkan tetap “normal”. Tidak benar-benar ditutup atau ditertibkan, dan diterapkan protokol yang ketat.

iklan buletin teman surga

Umur Generasi Peradaban

Sekali lagi, keberlangsungan umur generasi, ini menjadi penting untuk jadi bahan pikiran kita, karena ancaman pendemi yang belum berakhir, bahkan akan semakin menjadi-jadi, kalo kita emang nggak serius menanganinya. Di buletin ini, di awal-awal pendemi ini terjadi, udah pernah disinggung, gimana secara umum, mencegah biar penyebaran virus nggak semakin melebar.

Dalam Islam, keselamatan nyawa manusia harus didahulukan daripada aspek yang lain, termasuk ekonomi. Makanya, Islam pun punya solusi mengatasi pandemi. Bahkan, dengan syariah Islam, wabah akan lebih mudah diatasi dan dikendalikan. Tanpa mengganggu syiar Islam dan ibadah kaum Muslim. Nyawa manusia bisa terselamatkan, ekonomi juga tetap bisa berjalan.

“Jika kalian mendengar wabah di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Jika terjadi wabah di tempat kalian berada, janganlah kalian keluar dari wilayah itu” (HR al-Bukhari).

“Janganlah kalian mencampurkan orang yang sakit dengan yg sehat” (HR al-Bukhari).

Untuk menerapkan petunjuk Rasul SAW itu harus dilakukan dua hal: pertama, jaga jarak antar orang. Kedua, harus diketahui siapa yg sakit dan siapa yang sehat. Jaga jarak dilakukan dengan physical distancing seperti yg diterapkan oleh Amru bin ‘Ash dalam menghadapi wabah Tha’un Umwas di Palestina kala itu dan berhasil.

Adapun untuk mengetahui siapa yang sakit dan yang sehat harus dilakukan 3T (test, treatment, tracing). Kecepatan dalam melakukan 3T itu menjadi kunci. Harus dilakukan tes yang akurat secara cepat, masif dan luas. Lalu dilakukan tracing kontak orang yang positif dan dilakukan penanganan lebih lanjut. Mereka yang positif dirawat secara free ditanggung negara. Tentu semua itu disertai dengan langkah-langkah dan protokol kesehatan lainnya yang diperlukan.

Langkah ini bisa memisahkan orang yang sakit dan yang sehat. Mereka yang sehat tetap bisa menjalankan aktivitas kesehariannya. Mereka tetap dapat beribadah dan meramaikan masjid. Mereka juga tetap menjalankan aktivitas ekonomi dan tetap produktif. Dengan begitu daerah yang terjangkit wabah tetap produktif sekalipun menurun.

Dengan prosedur sesuai petunjuk syariah itu, agama dan harta (ekonomi) juga tetap terpelihara. Kebijakan seperti itulah yang semestinya diambil dan dijalankan sekarang ini. Apalagi penerapan syariah Islam memang bertujuan untuk memelihara agama, nyawa dan  harta manusia.

Penerapan syariah Islam juga bertujuan untuk memelihara nyawa manusia. Dalam Islam, nyawa seseorang—apalagi nyawa banyak orang—benar-benar dimuliakan dan dijunjung tinggi. Menghilangkan satu nyawa manusia disamakan dengan membunuh seluruh manusia (Lihat: QS al-Maidah [5]: 32). Nabi SAW juga bersabda:

“Sungguh lenyapnya dunia ini lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang Muslim” (HR an-Nasai, at-Tirmidzi & al-Baihaqi).

Kalo protokal dari syariah Islam ini diterapkan dengan konsekuen, maka dengan begitu, kita tetap optimis, tidak patah semangat belajar, demi meneruskan perjuangan peradaban Islam Berjaya kembali, InsyaAllah []

iklan buletin teman surga

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here