Buletin Teman Surga 165. Demi Apa Gila Konten?

0
20
buletin teman surga 165. demi apa gila kontent

buletin teman surga 165. demi apa gila kontentHallo, Guys! Bicara soal konten pasti udah pada nyambung aja kan, yah? Yapz, era digital hari ini memang begitu lekat dengan yang namanya konten untuk mengisi sosial media. Seolah, dunia maya itu bagaikan rumah kedua bagi pemiliknya. Bahkan bisa jadi alat ukur bagaimana kepribadian si pemilik tersebut. Yah, meskipun tampilan akun tidak selalu mencerminkan kondisi lahir batin pemiliknya, tetapi setidaknya demikianlah anggapan para penikmat social media. Konten sosial mediamu, adalah dirimu. Begitu!

So, Ngomong-ngomong ada berapa macam akun sosial mediamu, Guys? Konten apa aja yang sudah kamu sajikan di masing-masing akun?  Pernah mengalami kegabutan ketika mau menyajikan konten? Hihihi, kayaknya setiap yang memiliki akun sosial media pasti pernah merasakan hal ini deh!

iklan buletin teman surga

Dua Mata Pisau

Sebenarnya apa sih hukumnya kalau kita gandrung banget di sosial media? Bolehkah secara syariat Islam? Nah, pertanyaan ini sangat menarik untuk kita ulik. Kuy!

Tidak dapat dipungkiri bahwa hari ini kehidupan kita sudah sangat tergantung dengan dunia maya. Aneka informasi, begitu cepat bisa kita dapat. Maka tidak heran, gatel rasanya jempol kalau semenit aja enggak ngecek gadget. Bahkan bangun tidur sekalipun, benda pertama yang dicari ya pasti hand phone. Emang enggak semua orang sih begini, tapi mayoritasnya ya begitu. Kamu termasuk juga, kan?! Hehehe!

Keseringan berinteraksi dengan aneka konten di dunia maya lambat laun akan membentuk sebuah pemahaman dan kebiasaan baru pada diri kita. Ini sudah menjadi konsekuensi dari berulangnya sebuah aktivitas. Yapz, dia akan menjadi habits atau kebiasaan.

Kebiasaan yang terbentuk ini akan terbagi menjadi dua pola pada diri kita. Bisa berpola baik. Sebaliknya, sangat bisa berpola buruk. Jadi, bersosial media itu tidak selamanya baik dan juga tidak selalu buruk. Apa sih penyebabnya?

Yes, penyebabnya adalah diri kita sendiri, Guys. Konten-konten apa yang kita nikmati maka sudah pasti akan menjadi pola kebiasaan dalam hidup kita. Ingat, bahwa pemahaman akan mempengaruhi sikap atau perbuatan. Terinstalnya pemahaman itu sendiri adalah dengan memasukkan aneka informasi baik melalui bacaan, visual, ataupun audio visual. Intinya apapun yang selalu kita dengar, baca, dan lihat, semuanya memiliki kontribusi besar dalam membentuk pemahaman dan perbuatan kita.

Sampai di sini sudah tergambar bagaimana peran dunia maya dalam membentuk kebiasaan hidup kita, kan? Dengan peringkat 10 besar Negara yang kecanduan sosial media, rakyat Indonesia memang sangat mungkin terkontaminasi dengan konten-konten yang disajikan di dunia maya. Sekali lagi, bisa jadi membawa kebaikan dan bisa jadi pula membawa keburukan.

Ya, sebab sosial media itu memiliki dua sisi mata pisau. Sesungguhnya dia tidak akan bernilai jika kita tidak menyentuhnya. Dia dapat menjadi baik atau buruk adalah setelah kita menyentuhnya dan memanfaatkannya. Mau kita pakai untuk apa dua sisi mata pisau ini? Bisa kita gunakan untuk mempertajam kebiasaan baik dalam diri kita sehingga kebaikan demi kebaikan silih berganti menghiasi. Bisa juga kita gunakan untuk melukai diri sendiri bahkan juga orang lain yang mengakibatkan kebinasaan. Semua kendali benar-benar ada di tangan kita. Mau apa dan bagaimana?

iklan buletin teman surga

Menjadi Sang Pengendali

Allah SWT menciptakan manusia di dunia ini adalah untuk menjadi pemimpin. Wabilkhusus sebagai muslim, maka amanah kepemimpinan itu begitu lekat pada diri kita. Ya, setiap kita adalah pemimpin. Minimal pemimpin bagi diri sendiri. Dan harus diingat, bahwa setiap kita akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kita pimpin.

”Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya dan dia akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang wanita adalah pemimpin atas rumah suaminya, dan iapun akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang budak juga pemimpin atas harta tuannya dan ia juga akan dimintai pertanggungjawabannya. Sungguh setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya.” (Hadist Sahih Riwayat al-Bukhari: 4789)

Nah semakin jelas ya bagaimana posisi kita dalam pandangan Islam. Sebagai orang yang berakal dan juga beriman, semestinya kita menduduki posisi yang mulia ini. Yakni di mana dunia ada dalam genggaman tangan kita. Dunia takhluk dalam kendali kita. Kitalah yang memimpin dunia dengan iman dan takwa, baik dunia nyata ataupun dunia maya.

So, semestinya tidak ada kejadian pada diri kita yang terpedaya diperbudak oleh sosial media. Sebaliknya, semestinya kita berperan sebagai sang pengendali bukan terkendali.  Secara fitrah, kita pasti bisa mengontrol semua kondisi yang kita kuasai. Semisal terkait penggunaan sosial media. Konten apa yang mau kita stalking dan pantengin. Bahkan konten apa yang mau kita tayangin. Semuanya ada dalam kendali kita sendiri. Paham, yah?!

iklan buletin teman surga

Gila Konten, Demi Apa?

Konten. Hal ini tentu sangat penting bagi penduduk dunia maya. Terutama bagi penggiat sosial media. Keberadaan konten bagaikan aliran darah dalam tubuh yang menentukan mati dan hidupnya. Betul begitu, kan? Penggiat sosial media pasti ngangguk kencang, nih! Hihihi!

Sepenting itu keberadaan konten dalam sebuah akun. Bahkan sampai gila-gilaan menciptakan konten pun bakal dijabani. Demi apa, sih?

Tidak bisa dipungkiri, saat ini angka followers, likers, viewers, atau subscribers di sebuah akun itu sangat diperhitungkan. Apakah sekadar untuk eksistesni si pemilik akun. Ataukah untuk mendongkrak pundi-pundi rupiah darinya. Intinya, ujung dari diciptakannya konten yang se-WOW mungkin itu adalah demi materi dunia. Demi pengakuan. Demi pujian. Demi pundi-pundi penghasilan. Betul begitu, kan?!

Demikianlah era kapitalisme menggiring setiap manusia hari ini. Hanya materi dan materi yang dijejali. Alhasil banyak yang gila karena konten. Hilang akal bahkan nuraninya demi memperjuangkan sebuah konten. Jumlah like dan komen jadi buruan. Semakin banyak penonton dan komentar, semakin dikejar. Bahkan umbar aib tak jadi soal asalkan konten ditonton dan  disukai oleh ribuan orang. Astagfirullah!

Lantas harus bagaimana? Apakah sebagai generasi muslim enggak boleh turut ambil peran dalam dunia persosmed-an? Bukankah salah satu konsekuensi dari aktif di sosial media adalah menjadi tenar yang tak sepi dari pujian? Bahkan juga sangat mungkin peroleh penghasilan. Salahkah?

Harap tenang yah Dear #TemanSurga. Islam memang sangat tegas dan jelas dalam menghukumi segala urusan. Tetapi, Islam juga enggak se-kaku yang kamu bayangkan, kok. Pasti ada solusi yang adil nan menentramkan dalam setiap persoalan. Asyik!

Islam sangat memaklumi adanya potensi naluri manusia. Adanya rasa ingin eksis, ingin dihargai, ingin diapresiasi, bahkan ingin  mendapatkan pundi-pundi duniawi adalah sesuatu yang alami. Sudah jadi fitrahnya kita sebagai manusia. Bahkan Allah SWT yang menciptakannya. Naluri baqo’ (mempertahankan diri) namanya. Lantas salahnya di mana? Mari kita bedah!

Naluri baqo’  pada manusia bersifat netral. Tidak berkonsekuesni dosa ataupun pahala selagi belum disenggol-senggol oleh manusia. Maksudnya bagaimana? Ya, munculnya dosa atau pahala itu adalah bergantung pada perbuatan atau amal kita. Bagaimana cara kita mengekspresikan naluri yang ada?  Di sini lah letak nilai halal-haram atau dosa-pahala itu.

So, bagi #TemanSurga yang mau ambil peran dalam dunia persosmedan ya boleh-boleh saja. Efeknya jadi eksis, terkenal, banyak mendapat pujian bahkan kebanjiran penghasilan, ya sah-sah saja. Asalkan kamu pegang kuncinya, yakni luruskan niat semata karena Allah SWT dan pastikan menggunakan cara sesuai dengan syariat-Nya.

Maka pastikan, hanya konten kebaikan yang kamu hadirkan. Boleh all out membuat konten, asalkan memberi jaminan keselamatan untuk dunia dan akhiratmu. Bukan sekadar eksis dan berpenghasilan jutaan, tetapi juga mesti meluaskan kebermanfaatan. Dan tiada yang kebermanfaatan yang lebih baik kecuali sesuatu yang dikorbankan di jalan-jalan yang Allah SWT ridhai. Jalan dakwah fi sabilillah. Masyaallah!

So, bolehkah gila konten? Boleh, asal demi caper kepada-Nya. Agar kita peroleh rida-Nya. Supaya kita layak menjadi penduduk surga![]

iklan buletin teman surga

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here