Buletin Teman Surga 166. Ketika Dosa Dipandang Sebelah Mata

0
32
buletin teman surga 166. ketika dosa dipandang sebelah mata

buletin teman surga 166. ketika dosa dipandang sebelah mataEra digital saat ini begitu gencarnya memancing netizen remaja untuk getol berekspresi di dunia maya. Tanpa rasa malu dan sungkan, aktifitas pribadi pun bertebaran di linimasa sosial media. Masih mending kalo kegiatannya bermanfaat dan menginspirasi. Lha ternyata kalo yang diposting justru aktifitas pacaran, pamer kekayaan, busana yang mengubar aurat, atau bentuk kemaksiatan lainnya, wadidaw bisa jadi dosa jariyah tuh. Gawat!

Dosa Kok Dianggap Biasa?

Sebagai seorang muslim, pastinya kita udah tahu lah ya kalo perbuatan dosa itu bermasalah. Di hadapan manusia, apalagi di hadapan sang Pencipta. Nggak ada baik-baiknya. Cuman masalahnya, kok banyak yang menganggap perbuatan dosa itu biasa aja. Masa iya sih, doi jelmaan setan?

Nggak risih nyerempet maksiat. Seperti orang pacaran yang kerap mendekati zina dalam kesehariannya.  Gak sungkan mengumbar aurat. Tak merasa bersalah karena setiap perbuatan dosanya dianggap remeh. Seperti bubuk rengginang di dasar kaleng biskuit sisa lebaran. Ngenes.

Pertanyaannya, kok bisa seorang muslim sampai menganggap perbuatan dosa itu biasa aja?

Pertama, mungkin karena banyak yang ngelakuin kemaksiatan seperti dirinya. Jadi dia ngerasa banyak temennya kalo pun harus nyemplung ke neraka. Ups. Ngaco.

Kalo temen-temennya banyak yang pacaran, pikirnya aktifitas baku syahwat itu bukan kemaksiatan selama masih bisa jaga diri. Kalo sohibnya sering pakai busana mengumbar aurat yang bikin jakun kaum adam naik turun bak portal perumahan, jadi tak masalah kalo ikut-ikutan.

Allah swt sudah ngingetin jangan latah ketika nilai-nilai Islam terasing dalam keseharian kita. “Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Yang mereka ikuti hanya persangkaan belaka dan mereka hanyalah membuat kebohongan” (QS. Al-An’am Ayat 116).

Kedua, karena perbuatan dosa itu keliatan ‘keren’. Beda dari yang lain. Sering dijadikan simbol keberanian karena gak semua orang mau melakukannya. Kalo ada yang berbuat maksiat bukannya diingatkan malah dikasih tepuk tangan. Apalagi setelah diupload ke sosial media, ada yang nyinyir tapi terkadang tak sedikit juga yang kasih jempol. Ujung-ujungnya malah jadi kontent viral. Ini yang bisa bikin pelakunya celaka. Hati-hati!

Ibnu Qudamah -rahimahullah- mengingatkan: “Dan ketahuilah bahwa mayoritas manusia celaka hanya karena takut cibiran dan cinta pujian dari ‏manusia. Sehingga seluruh gerak-gerik mereka menyesuaikan apa yang diridhai manusia dengan berharap pujian dan takut celaan. Dan hal itu termasuk di antara perkara yang membinasakan seseorang, sehingga WAJIB untuk mengobatinya.” (Mukhtasharul Minhaajil Qaasidin, Ibnu Qudamah, hal. 212)

Ketiga, perbuatan dosa banyak yang mengkampanyekan. Seperti perayaan tahun baru masehi atau peringatan valentine day yang selalu menyedot perhatian remaja. Belum lagi budaya pacaran yang nggak pernah absen dalam tayangan hiburan baik di layar kaca atau layar lebar. Begitu juga dengan tren busana yang mengekspos daya tarik seksual kaum hawa terus dijadikan panduan remaja putri untuk tampil beda.

iklan buletin teman surga

Jangan Anggap Enteng Dosa

Bisa jadi di antara para pelaku maksiat baik yang sengaja atau sekedar ikut-ikutan menganggap akibat dosa itu enteng aja. Nggak keliatan langsung. Emang gak ada ceritanya setelah mengumbar aurat seorang remaja putri lantas kulitnya melepuh terus mengeluarkan nanah  yang baunya menyengat ngalahin sampah busuk. Tapi bukan berarti Allah swt nggak akan ngingetin para pendosa untuk segera bertobat lho. Belon waktunya aja.

Biar kamu nggak meremehkan perbuatan dosa, simak beberapa akibat yang akan diterima jika bermaksiat.

Pertama, dosa itu bisa bikin ketagihan. Orang yang berbuat dosa kalo nggak segera bertobat ujungnya bisa mengulangi perbuatannya. Awalnya mungkin merasa bersalah. Tapi lama kelamaan rasa penyesalan itu memudar bahkan hilang. Akhirnya bikin dosa lagi.

Perilaku dosa itu nagih karena hati pelakunya mati. “Seorang mukmin jika berbuat satu dosa, maka ternodalah hatinya dengan senoktah warna hitam. Jika dia bertobat dan beristighfar, hatinya akan kembali putih bersih. Jika ditambah dengan dosa lain, noktah itu pun bertambah hingga menutupi hatinya. Itulah karat yang disebut-sebut Allah dalam ayat, “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.” (HR Tirmidzi)

Kalau hati sudah tertutup, maka hilanglah kepekaan terhadap dosa. Semakin sering berbuat dosa, akan semakin terbiasa. Akhirnya hilang sudah rasa penyesalan ketika berbuat dosa. Tak ada lagi rasa malu berbuat dosa, tak ada lagi rasa bersalah ketika berbuat maksiat. Semua itu karena hatinya sudah hitam pekat, tertutup oleh dosa-dosa yang semakin menggerogoti hati hingga matilah hati itu.

Kedua, dosa mengikis rasa malu. Rasa malu itu dekat dengan keimanan sedangkan perbuatan dosa justru menggerogoti keimanan. Itu artinya, semakin sering berbuat dosa keimanannya bakal aus dan rasa malu pun perlahan memudar.

Rasul saw mengingatkan, “Iman dan malu merupakan pasangan dalam segala situasi dan kondisi. Apabila rasa malu sudah tidak ada, maka iman pun sirna,” (HR. Al-Hakim).

Kalo rasa malu udah memudar, cuek aja dia berzina. Nggak sholat. Nggak puasa Ramadhan. Nggak nutup aurat. Minum khamr. Ngata-ngatain orang pakai bahasa kasar dan vulgar. Persis seperti yang digambarkan rasulullah saw; “Jika kamu tidak memiliki rasa malu, berbuatlah sesukamu,” (HR. Bukhari).

ketiga, dosa itu tiket ke neraka. Apa akibat bagi orang yang bangga atas dosa yang dilakukannya? Dalam kitabnya yang bejudul Nashaihul ‘Ibad, Syekh Nawawi al-Bantani berkata:

“Barang siapa yang berbuat dosa sementara dia tertawa atau merasa senang dan bangga dengan dosa yang dia tanggung, maka kelak Allah akan memasukkannya ke neraka dalam keadaan menangis. Karena seharusnya dia menyesal dan beristighfar pada Allah SWT karena dosanya itu.”

iklan buletin teman surga

Dekati Taat Jauhi Maksiat

Dosa memang nggak terlihat. Tapi bukan berarti nggak ada. Beruntungnya kita sebagai seorang muslim, meyakini bahwa dosa akan memberatkan kita saat hari perhitungan di akhirat kelak. Karena itu, tak ada alasan bagi kita untuk meremehkan perbuatan dosa.

Nggak peduli apa itu dosa besar atau dosa kecil. Karena bukan ukurannya yang kita perhatikan, tapi kebencian Allah swt yang mesti kita khawatirkan. Bilal bin Saad rahimahulLaah mengingatkan: “Janganlah engkau memandang pada kecilnya dosa (yang engkau lakukan), tetapi perhatikanlah kepada siapa engkau berdosa.” (Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubalaa, 5/91).

Hal yang sama ditegaskan oleh Imam an-Nawawi al-Bantany, “Janganlah meremehkan dosa-dosa kecil, karena disitulah dosa-dosa besar bersemi”.

Agar kita nggak terjerumus dalam kubangan dosa, maka mesti kita bangun benteng pertahanan berikut:

Pertama, menumbuhkan rasa takut pada Allah. Penting banget untuk membangun pondasi kalo kita menjauhi maksiat karena takut pada Allah swt. Bukan takut pada makhluk. Kalo kita enggan berbuat dosa karena takut dimarahin ortu, ke gap sama guru, atau khawatir kena razia, gampang banget diakalin. Kalo nggak ketahuan, bisa jadi tetap melakukan kemaksiatan.

Nggak ada yang bisa lolos dari pengawasan Allah swt di mana saja kapan saja. Dia pasti melihat apa yang kita lakukan baik di tempat ramai atau sembunyi di tempat gelap. Kita juga gak bakal luput dari catatan malaikat Roqib dan Atid yang selalu membersamai kita setiap hari.

Kedua, segera bertaubat setelah berbuat dosa. Bukan malah merasa bangga seolah itu keren dan simbol keberanian. Itu sama saja dengan ‘meledek’ Allah swt.

“Setiap umatku akan diampuni kecuali orang yang melakukan jahr. Di antara bentuk melakukan jahr adalah seseorang di malam hari melakukan maksiat, namun di pagi harinya –padahal telah Allah tutupi-, ia sendiri yang bercerita, “Wahai fulan, aku semalam telah melakukan maksiat ini dan itu.” Padahal semalam Allah telah tutupi maksiat yang ia lakukan, namun di pagi harinya ia sendiri yang membuka ‘aib-‘aibnya yang telah Allah tutup.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketiga, beristighfar setiap hari. Biasakanlah untuk membasahi bibir kita setiap hari dengan bacaan istighfar. Seperti diajarkan oleh Rasulullah saw agar Allah swt mengampuni dosa-dosa kita. Di antaranya dengan melafadzkan bacaan ‘rajanya istighfar’ (sayyidul istighfar) setelah shalat fardhu.

Allahumma anta rabbii laa ilaaha illaa anta khalaqtnii wa anna ‘abduka wa anaa ‘alaa ‘ahdika wa wa’dika. mastatha’tu a’uudzu bika min syarri maa shana’tu abuu u laka bini’ matika ‘alayya wa abuu-u bidzanbii faghfir lii fa innahu laa yagfirudz dzunuuba illa anta.

Artinya: “Ya Allah Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan selain Engkau yang telah menciptakanku, sedang aku adalah hamba-Mu dan aku diatas ikatan janji –Mu. Dan Aku berjanji kepada-Mu dengan semampuku. Aku berlindung kepadamu dari segala kejahatan yang telah aku perbuat. Aku mengakui-Mu atas nikmat-Mu terhadap diriku dan aku mengakui dosaku pada-Mu, maka ampunilah aku, sesungguhnya tiada yang boleh mengampuni segala dosa kecuali Engkau.” (HR. Bukhari).

“Barangsiapa mengucapkannya [sayyidul istighfar] pada siang hari dan meyakininya, lalu dia mati pada hari itu sebelum waktu petang, maka dia termasuk penghuni syurga. Dan barangsiapa mengucapkannya pada malam hari dalam keadaan meyakininya, lalu dia mati sebelum waktu pagi, maka dia termasuk penghuni syurga” (Hadits Bukhari dari Syaddad bin Aus ra).

Keempat, banyakin amal sholeh. Selain bertobat, yang harus kita lakukan untuk mengurangi dosa adalah getol beramal sholeh. Rasulullah swt mengingatkan,

“Bertakwalah kepada Allah di manapun Anda berada. Iringilah perbuatan dosa dengan amal kebaikan, karena kebaikan itu dapat menghapusnya. Serta bergaulah dengan orang lain dengan akhlak yang baik” (HR. Ahmad 21354, Tirmidzi 1987, ia berkata: ‘hadits ini hasan shahih).

Kelima, Ngaji tanpa tapi tanpa nanti. Inilah aktifitas yang nggak boleh kita lewatkan dalam keseharian. Agar kita tahu dan paham perilaku apa saja yang dibenci Allah swt dan Rasul-Nya. Agar keimanan kita terjaga dan tak mudah goyah oleh godaan setan yang terkutuk. Tak hanya ngaji membaca Al-Qur’an, tapi juga mengenal Islam lebih dalam.

Teman surga, jangan pernah remehkan perbuatan dosa. Baik yang kecil apalagi yang besar. Simbol keren nggak diukur dari keberanian bermaksiat. Justru orang kaya gitu lebih layak dilabeli cupu. Malah kalo ketagihan bermaksiat bisa jadi budak nafsu. Waduh!

Karena itu, selalu terapkan prinsip 3M protokol keimanan. Menumbuhkan rasa takut pada Allah swt, Menjaga diri dari pergaulan yang menyesatkan, dan Mengenal Islam lebih dalam. Dekati taat, jauhi maksiat![]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here