Buletin Teman Surga 198. Remaja Merdeka Itu….

0
11
buletin teman surga 198 remaja merdeka itu

Remaja Merdeka Itu….

Agustus ini, Ibu pertiwi ulang tahun kemerdekaan untuk yang ke 77 kalinya. Merdeka dari penjajahan fisik yang pernah menimpa Bumi Nusantara oleh negeri matahari terbit dan negeri kincir angin sebelum 17 Agustus 1945.

Sejatinya, bukan cuman negara kita yang merdeka dari penjajahan. Rakyatnya juga nggak boleh ketinggalan, mesti merdeka juga dari berbagai tekanan. Tak terkecuali generasi muda yang kelak bakal membawa negeri ini meraih kemerdekaan hakiki. Tak hanya terbebas dari invasi militer, tapi juga penjahan secara politik, ekonomi, atau budaya yang tak kasatmata.

Pertanyaannya, seperti apa karakter remaja merdeka yang menjadi dambaan umat? Lets cekidot!

Pertama, lepas dari jerat nafsu.

Geliat jiwa muda gampang banget terjerumus ke dalam jurang kemaksiatan. Terutama kalo udah terpapar virus hedonis. Gaya hidup yang memuja kesenangan dunia. Setan pinter banget ngegoda remaja untuk ikutin jalannya yang sesat. Saking pinternya, remaja banyak yang nggak nyadar kalo udah terjerat nafsu akibat godaan setan.

Tengok saja, banyak remaja yang keranjingan berlenggak-lenggok di atas zebra cross dengan busana yang mengumbar aurat. Belum lagi budaya pacaran yang makin beringas dalam kemasan pergaulan bebas. Nggak ketinggalan, adu jotos seringkali jadi pelarian kalo sesama kaum Adam slek. Kalo udah begini, remaja makin diperbudak oleh nafsu. Gak bisa lepas.

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuan-Nya, dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya? Maka siapa yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat?) Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?”(QS. Al-Jatsiya : 23)

Karena itu, remaja merdeka bakal mati-matian berusaha untuk lepas dari jeratan nafsu. Bukan perkara mudah, tapi bisa dilakukan selama kita tetap ngaji, mengenal Islam lebih dalam. Karena, hanya Islam yang bisa menundukkan hawa nafsu.

Diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr bin Al Ash ra, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak beriman seseorang sampai hawa nafsunya ia tundukkan demi mengikuti apa yang aku bawa” (HR. At-Thabrani)

 

Kedua, bebas dari tekanan teman sebaya

Dalam lingkungan pergaulan, pengaruh teman satu sirkel punya peran besar dalam membentuk karakter remaja. Terutama kalo sudah melibatkan peer pressure alias tekanan teman sebaya.

Secara istilah Peer pressure bisa diartikan sebagai tekanan perasaan ketika seseorang harus melakukan hal yang sama seperti orang lain pada usia dan kelompok sosial tertentu agar disukai atau dihargai. Peer pressure bisa memberi pengaruh yang kuat dalam suatu kelompok, di mana anggotanya akan berperilaku seperti yang lain.

Ngerinya, kalo sirkel pertemanan kita dihuni oleh remaja toxic. Mereka bisa menekan temen-temen mainnya untuk berperilaku negatif seperti mereka. Mulai dari merokok, nenggak miras, bolos sekolah, bohong pada orang tua, pacaran, atau tawuran.

Sialnya, banyak remaja “menyerah” berada dalam peer pressure negatif karena ingin disenangi, ingin dihargai oleh sirkel pertemannya atau khawatir bakal dicengin anak – anak lain kalo nggak punya kelompok pertemanan.

Remaja yang merdeka itu, dia nggak pilah pilih teman. Karena dia bisa menunjukkan sikap terbaik dalam menghadapi peer pressure. Kalo ada temannya yang ngajak maksiat, dia pilih mengingatkan dan meninggalkan mesti resikonya bakal dijauhi oleh teman-temannya.

Sebaliknya, kalo ada teman yang ngajak taat, dia langsung mengiyakan dan segera ambil bagian. Lantaran teman model gini yang bakal menyelamatkannya dari bencana di dunia dan musibah di akhirat.

Lantas,bagaimana caranya remaja merdeka itu bisa bebas dari tekanan teman sebaya, dia harus punya rasa bangga yang membuncah sebagai seorang muslim. Sebagaimana ditegaskan Allah swt dalam firman-Nya:

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.” (QS. Fussilat Ayat 30)

 

Ketiga, Say no to wasting time

Godaan yang satu ini, paling susah ditolak oleh remaja, terutama kalo diajak oleh teman dekatnya. Wasting time alias membuang waktu. Sibuk dengan aktifitas yang minim manfaat. Meski bukan perbuatan yang diharamkan, tapi bisa melenakan hingga melalaikan kewajiban atau nyerempet kemaksiatan.

Remaja merdeka itu dia berusaha menjaga kemuliaannya sebagai seorang muslim dengan menjauhi segala kegiatan yang minim manfaat. Sebagaimana diingatkan Rasulullah saw, “Diriwayatkan dari Abi Hurairah –semoga Allah menridhainya- ia berkata, ‘Rasulullah SAW bersabda, ‘Termasuk baik Islam seseorang  adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.’”

Imam al-Qori berkomentar mengenai makna “meninggalkan sesuatu yang tidak berguna”. Maksudnya sesuatu yang tidak penting dan tidak patut ia lakukan. Baik berupa ucapan atau tindakan. Baik sekedar melihat maupun memikirkan.

Daripada waktunya dihabiskan untuk mabar, nonton konser musik, nongkrong di pinggir jalan, atau ngobrol ngalor ngidul, atau mager gak jelas, remaja merdeka lebih memilih untuk belajar dan beribadah.

 

Keempat, growth to contribute

Hakikat eksistensi bagi remaja muslim, tergambar dalam nasihat  seorang Ulama besar Abu Abdillah Muhammad bin Idris atau yang masyhur dengan sapaan Imam Syafi’i. “Demi Allah, hakikat seorang pemuda adalah dengan ilmu dan takwa. Jika keduanya tidak ada maka pribadinya tidak bernilai.”

Itu artinya, kalo seorang remaja ogah-ogahan menimba ilmu atau males-malesan mengenal Islam lebih dalam, seperti mayat hidup. Imam Syafi’i mengingatkan “Siapa yang tidak belajar di masa mudanya, bertakbirlah untuknya 4 kali karena kematiannya”

Sebaliknya, kalo remaja getol belajar baik ilmu agama maupun ilmu dunia berarti dia telah menghargai kehidupannya. Karena salah satu ciri makhluk hidup terus bertumbuh dan berkembang. Wawasannya terus bertambah, kemampuannya kian terasah.

Tak cukup sekedar menimba ilmu, remaja merdeka itu selalu berusaha menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah. Dia menjadikan dakwah sebagai poros hidupnya. Tak sungkan berkontribusi, tanpa tapi, tanpa nanti, tanpa lelah.

Terakhir, remaja merdeka itu… kamu! Iya kamu. Merdeka![]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here