Buletin Teman Surga 202. Duka Lara Cinta Remaja

0
21

Betapa syulit …

Lupakan yayang …

Apalagi yayang baik …

Hayo ngaku siapa yang auto nyanyi? Stop dulu nyanyinya, yes. Sini pada kumpul. Kita simak dunia perbucinan remaja yang berujung nestapa. Bahkan berujung pada hilangnya nyawa. Beneran ada? Bisa dicek di berita-berita! Banyak deretan kisah pilu yang ditanggung oleh para remaja tersebab urusan cinta. Dari mulai korban perasaan, korban kehormatan, korban kesucian, hingga mengorbankan nyawa. Kamu, iya kamu yang sedang baca tulisan ini jangan mau jadi korban berikutnya, ya. Please!

 Ketika Cinta Ternoda

Apakah salah ketika ada rasa yang bernama cinta? Bisa iya, bisa juga tidak ya Guys. Salah atau benar itu tergantung bagaimana cara kita mengekspresikannya. Jika hadirnya rasa cinta kita ekspresikan sesuai syariah, maka ia akan jadi cinta mulia. So, enggak ada salah sama sekali.

Tapi jika cinta diekspresikan dengan menuruti hawa nafsu, maka akan jadi cinta yang salah. Cinta yang akan membenamkan kita dalam nestapa nan memilukan. Tidak pun di dunia, di akhirat sudah pasti menderita. Ya, begitulah akibat mengumbar cinta dengan cara mendekati zina (pacaran), yakni positif berdosa. Syerem banget, kan?!

Oleh karena itu, sudah semestinya kita berjuang untuk menjaga kesucian cinta. Jangan biarkan ia ternoda dengan hawa nafsu yang membinasakan. Penting bagi kita memahami hakikat cinta sejati. Sehingga kita tidak salah dalam meletakkan rasa cinta. Kita pun menjadi paham bagaimana cara mengekspresikan rasa cinta yang benar tanpa harus ikut-ikutan dengan mereka yang menganut kebebasan.

Ya, kita adalah remaja muslim. Kita istimewa. Kita memiliki aturan yang sangat mulia dari Allah SWT. Maka kita, semestinya menjadi mercusuar yang akan memberi arah dalam urusan perbucinan. Bucinnya remaja Islam itu harus membawa perubahan ke arah kebaikan. Bukan malah menyulut kebaperan yang berujung pada ternodanya cinta dalam kehidupan.

Cinta Sejati, Sesuai Aturan Illahi

Hadirnya rasa cinta di hati kita itu sebenarnya adalah fitrah. Alaminya manusia memang memiliki rasa yang bernama cinta. Menyukai lawan jenis. Ingin diperhatikan atau memberi perhatian, dan lain sebagainya. Intinya, ada debar yang berbeda tatkala cinta tengah menyapa. Ada yang pernah merasakannya? Tenang, itu adalah fitrah. Salah satu potensi kehidupan yang Allah SWT berikan untuk kita.

Ya, adanya rasa cinta merupakan potensi kehidupan. Allah SWT memberikan rasa tersebut dengan tujuan tertentu. Yakni agar manusia dapat berkembang biak di muka bumi ini. Oleh karena itu, Allah SWT memberikan fitrah cinta pada setiap diri manusia. Ada kecenderungan untuk saling menyukai lawan jenis. Ada daya tarik menarik antara laki-laki dan perempuan.

Maka tidak heran, jika laki-laki dan perempuan tidak menjaga interaksi dalam pergaulan, ujung-ujungnya pasti muncul rasa. Mulai deg-degan, salah tingkah, dan aneka rasa yang menjurus pada satu kata “cinta”. Di sinilah letak persoalannnya. Jika tidak tepat dalam mengelola, maka akan muncul petaka yang menyebabkan nestapa.

Lalu bagaimana semestinya kita bersikap? Ya, karena rasa cinta itu adalah fitrah yang Allah SWT berikan, maka Allah pulalah yang paling tahu cara untuk mengelolanya. Sehingga cinta yang ada menjadi mulia. Yakni cinta sejati. Cinta yang sesuai dengan aturan Illahi.

Allah SWT memberikan rasa cinta adalah agar manusia dapat berkembang biak. Lahirnya manusia-manusia baru dari bersatunya laki-laki dan perempuan yang saling jatuh cinta. Namun, Allah SWT tidak membiarkan rasa cinta tersebut liar begitu saja. Ada aturan-aturan yang rinci berkaitan dengan mengelola cinta ini. Sehingga cinta yang ada dapat memuliakan kedua belah pihak. Baik pihak laki-laki ataupun pihak perempuan. Bahkan juga akan memuliakan buah hati yang terlahir nantinya. Cinta yang sesuai dengan aturan illahi adalah cinta yang dibingkai dalam pernikahan. Cinta yang seperti ini niscaya akan memberikan bahagia, bukan nestapa.

Jaga Cintamu, Mulia Hidupmu

Guys, rasa cinta itu normal, kok. Tugas kita adalah mengarahkan rasa tersebut agar jangan sampai kebablasan. Bagaimana cara mengarahkannya? Yaps, ikuti aturan dari Sang pemberi cinta. Yakni Allah SWT.

Allah SWT memerintahkan kita untuk menjaga pandangan. Hindari kepo terhadap apapun tentang doi. Karena kekepoan itulah yang akan memancing hadirnya rasa. Selain menghindari kepo, kita juga harus menghindari interaksi dengan si doi. Tidak ada ceritanya chatingan apalagi sampai jalan berduan. Big no ya, Guys!

Jika kita sudah jaga pandangan. Sudah pula tidak dekat-dekatan. Tetapi rasa cinta itu tetap muncul, lantas harus bagaimana? Tidak perlu bingung. Kita cukup pendam dalam hati. Alihkan perhatian, jika belum siap naik ke pelaminan. Curahkan energi kita untuk menggali potensi diri. Membingkai masa depan yang gemilang dengan penuh kemulian. Tenang, cinta tidak akan menyebabkan kematian, kok. Dia hanya membuat gelisah saja. Dan, rasa gelsah ini sangat bisa dialihkan dengan berbagai aktifitas positif. So, kita kudu aktif dan produktif. Mengkaji Islam kaffah, ini yang paling utama.   Karena hanya Islam yang dapat menjadi perisai bagi kita dalam menjaga kesucian cinta. Hingga masanya tiba nanti. Cinta suci itu terbingkai dalam ikatan yang diridai Illahi. Kitapun menjadi manusia yang hidup mulia dan bahagia. Tidak hanya di dunia tapi juga sampai di Surga. Yuk, bisa yuk! Bissmiillah! []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here