Buletin Teman Surga 203. Ini Jalan Santriku

0
17

Sabtu 22 Oktober 2022 mayoritas pondok pesantren nusantara gencar merayakan hari Santri Nasional. Momen special bagi para santri, dan baru dilakukan setelah adanya penetapan hari santri secara resmi melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 22 Tahun 2015 tentang Hari Santri. Berbagai kegiatan dilakukan oleh para santri, dari mulai pawai, lomba-lomba antar santri, de el el. Bisa jadi di antara kamu juga ada yang ikut dalam perayaan hari Santri ini ya guys?

SANTRI itu…

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata “santri” setidaknya mengandung dua makna. Arti pertama adalah orang yang mendalami agama Islam, dan pemaknaan kedua adalah orang yang beribadah dengan sungguh-sungguh atau orang yang saleh.

Kita sering mendengar kalo santri itu sebutan untuk mereka yang tengah belajar Islam lebih dalam di pondok pesantren. Nggak cuman ilmu keislamannya aja yang digenjot setiap hari, tapi juga budaya kesehariannya juga kental dengan kehidupan Islam.

Nggak heran kalo seorang wali santri di salah satu pondok pesantren kota hujan ngasih catatan menarik tentang pengertian santri itu. Beliau bilang, kata Santri merupakan akronim alias kepanjangan dari masing-masing hurufnya.

S = Satrul ‘aurat. Seorang santri itu selalu menutup auratnya dengan baik. Santri cowok batasnya pusar dan lutut kaki, sementara yang Perempuan auratnya adalah semua anggota badan, kecuali wajah dan dua telapak tangan. Kalo ada santriwati yang sudah menutup rambutnya tetapi masih menggunakan baju ketat, celana panjang dan tidak menutupi kakinya (dengan kaos kaki), atau santri cowok yang masih doyan pakai celana pendek di atas lutut berkeliaran di antara teman-teman sebayanya, berarti belum sempurna ke-santri-annya. Mungkin masih newbie.

A N= Amar ma’ruf Nahy munkar. Seorang santri karakternya dekat dengan perilaku amar ma’ruf nahy munkar alias mengajak orang lain agar taat kepada aturan-aturan Allah dan Rasul Nya dan mencegah terjadinya kemungkaran. Dengan kata lain, santri itu seorang pengemban dakwah. Kalo ada santri yang cuek bebek dengan kondisi umat Islam dan ogah-ogahan terjun dalam aktifitas dakwah, dipertanyakan lagi ke-santri-annya.

T = Ta’lim. Seorang santri itu berjiwa pembelajar. Tak pernah lelah menimba ilmu, terutama tsaqorah Islam, selama hayat masih di kandung badan. Baik di dalam lingkungan pondok pesantren maupun setelah terjun ke tengah masyarakat. Tak pernah puas dengan ilmu yang didapatnya agar bisa lebih banyak memberikan manfaat bagi orang lain.

R = Ruhamaa. Seorang santri itu penyayang terhadap semua orang. Terutama sesama muslim. Tak terkecuali terhadap mereka yang beda keyakinan. Nggak ada dalam kamus seorang santri perilaku doyan ngebully, ngeprank, atau merendahkan sesama saudaranya. Justru dia akan berusaha melindungi dan menjaga nama baik saudara-saudaranya sesama muslim.

I = Islam. Sebutan santri itu hanya bagi mereka yang bergama Islam. Fix. No debat.

Seperti itulah penjelasan sederhana tentang Santri. Tertarik?

Salah Satu Pilihan

Sebagai seorang muslim, kita diajari kalo hidup nggak cuman di dunia. Ada kehidupan akhirat yang tengah menanti kita. Ada hari perhitungan alias yaumul hisab saat kita semua dikumpulkan di padang Mahsyar menunggu giliran dimintai pertangungjawaban amal ibadah kita selama di dunia.

Kalo tabungan pahala dari amal sholeh kita surplus, tiket ke surga bakal kita dapat. Sebaliknya, kalo ternyata amal salah yang justru banyak menggerus tabungan pahala karena kemaksiatan yang kita lakukan, neraka jadi tempat kembalinya. Ngeri!

Karena itu, seorang muslim dituntut untuk selalu menjaga perilakunya di dunia agar selalu dalam ridho Allah swt. Biar berlimpah tabungan pahalanya dan minus dosa. Allah swt berfirman, “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Isra : 36)

Perilaku kita akan terjaga kalo kenal islam lebih dalam. Gak berani nyerempet maksiat dan lebih banyak dekati taat. Di sini pentingnya kita ngaji. Getol menuntut ilmu agama sebagaimana gencarnya kita belajar di sekolah formal.

Dan mengenyam pendidikan di pondok pesantren bisa jadi salah satu pilihan untuk mengenal Islam lebih dalam. Nggak cuman sarat dengan pendidika agama, tapi juga suasana belajar dan kesehariannya padat dengan kegiatan islami.

Mulai dari dini hari, santri dikondisikan untuk menunaikan shalat tahajud. Lanjut muroja’ah (mengulang hafalan quran) secara mandiri sambil nunggu adzan shubuh berkumandang. Bada shubuh, ada kajian dengan ustadznya hingga waktu syuruq. Selesai kajian, mandi, sarapan, atau olahraga sebelum belajar di kelas sesuai jadwal pelajarannya.

Bada dzuhur, lanjut belajar di kelas hingga ashar. Bada ashar disambung muroja’ah mandiri atau mungkin ada kelas tahsin hingga maghrib. Free time bagi santri untuk istirahat, sholat, makan malam, mandi mulai bada maghrib hingga isya. Bada isya, lanjut ngaji kitab hingga malam sekitar pukul 21 – 22. Lalu, istirahat deh hingga dibangunin lagi untuk tahajud.

Kurang lebih seperti itu yang penulis tahu, siklus agenda santri di pondok. Tak salah kalo santri lebih besar peluangnya untuk mendalami keilmuan agama dibanding sekolah umum. Sehingga bisa melahirkan para pejuang tanah air seperti di era kemerdekaan dulu atau para pengemban dakwah yang konsisten menyampaikan kebenaran Islam untuk mengembalikan kejayaan Islam dan kaum muslimin.

Jadi, menuntut ilmu di pondok pesantren, baik yang tradisional mapun yang modern adalah sebuah pilihan untuk mendalami ilmu agama sebagai bekal dalam keseharian. Gak masalah kalopun saat ini kita duduk di bangku sekolah umum. Yang penting terus tune in dengan Islam. Kenali Islam lebih dalam. Selalu alokasin waktu untuk ngaji setiap pekan. Tanpa tapi, tanpa nanti. Kuy! []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here