Buletin Teman Surga 204. Be a Hero, Be a True Muslim

0
10

Lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka.”

Itulah kutipan pidato Bung Tomo pada peristiwa 10 November 1945 yang bikin hati para pemuda pejuang bergetar. Selain Bung Tomo terdapat pula tokoh-tokoh berpengaruh lain dalam menggerakkan rakyat Surabaya pada masa itu.

Beberapa datang dari latar belakang agama seperti KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah serta kyai-kyai pesantren lainnya juga mengerahkan santri-santri mereka dan masyarakat sipil sebagai milisi perlawanan sehingga perlawanan pihak Indonesia berlangsung alot, dari hari ke hari, hingga dari minggu ke minggu lainnya.

Perlawanan rakyat yang pada awalnya dilakukan secara spontan dan tidak terkoordinasi, makin hari makin teratur. Pertempuran ini mencapai waktu sekitar tiga minggu.

Setidaknya 6,000 – 16,000 pejuang dari pihak Indonesia tewas dan 200,000 rakyat sipil mengungsi dari Surabaya. Korban dari pasukan Inggris dan India kira-kira sejumlah 600 – 2000 tentara. Di antaranya banyaknya pejuang yang gugur dan rakyat sipil yang menjadi korban pada hari 10 November ini kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan oleh Republik Indonesia hingga sekarang.

Siapakah Para Pahlawan Itu

Pahlawan dimaknai sebagai orang yang berjuang dengan gagah berani dalam membela kebenaran (KBBI). Secara etimologis ada juga yang memaknai pahlawan berasal dari akar kata pahala, dan berakhiran wan, pahalawan. Artinya, mereka pantas memperoleh pahala karena jasa-jasanya bagi perjuangan menegakkan kebenaran.

Tak heran jika sejarah perjuangan negeri kita kerap menuliskan dengan tinta emas para pahlawan dari kalangan umat Islam. Selain Bung Tomo dan penggerak battle of Surabaya, masih banyak yang lainnya.

Seperti Pangeran Diponegoro (1785 – 1855). Sang panglima perang Diponegoro yang ternama ini merupakan seorang kyai ternama di daerah tempat tinggalnya, Tegalrejo. Ia yang lahir sebagai putra keraton Yogyakarta ini memilih menghindari politik praktis dan menjadi penasihat agama di tengah masyarakat.

Bagi Pangeran Diponegoro, perang melawan penjajah Belanda merupakan sebuah jihad. Pahlawan nasional yang memiliki nama asli Bendara Raden Mas Antarwirya tersebut pernah menyatakan bahwa perlawanannya terhadap penjajah adalah perang sabil, yakni perlawanan menghadapi kaum kafir. Karena itu, terjadilah Perang Diponegoro yang juga dikenal dengan sebutan Perang Jawa yang berlangsung selama lima tahun (1825-1830) .

Lalu Cut Nyak Dien (1848 – 1908). “Sebagai perempuan Aceh, kita tidak boleh menumpahkan air mata pada orang yang sudah syahid,” demikian ucapan Cut Nyak Dien kepada putrinya, saat Teuku Umar, suami yang juga pahlawan nasional meninggal dunia. Bersama sang suami dan rakyat Aceh, Cut Nyak Dien berjihad mengusir Belanda dari Serambi Makkah.

Cut Nyak Dien merupakan wanita aceh yang mendapat pendidikan agama yang baik dari keluarganya. Tak hanya dikenal sebagai bangsawan, keluarga Cut Nyak Dien juga dikenal sebagai keluarga ulama yang disegani.

Atau Tuanku Imam Bonjol (1772 – 1864). Nama aslinya Muhammad Shahab, merupakan seorang ulama Minangkabau kelahiran Bonjol, Sumatera Barat. Bersorban dan berjenggot lebat cukuplah menggambarkan kharismatik pemimpin Perang Paderi ini. Gelarnya sebagai imam pun tak dapat dipungkiri bahwa beliau merupakan seorang ulama besar. Siapa sangka sang ulama justru mengambil peran besar di kancah peperangan melawan penjajah di Perang Padri pada tahun 1803-1838 yang sangat bersejarah itu.

Selain ketiga pahlawan nasional di atas, masih banyak pejuang dari kalangan ulama yang aktif dalam perlawanan terhadap penjajah di negeri khatulistiwa. Sebut saja KH.Ahmad Dahlan (1868 – 1923) pendiri Muhammadiyah dan KH.Hasyim Asy’ari (1871 – 1947) pendiri Nadhatul Ulama.

Be A True Muslim

Dalam Islam, sejatinya setiap muslim punya kesempatan mencatatkan namanya sebagai pahlawan. Baik yang diketahui oleh penduduk bumi, atau hanya dikenal oleh penduduk langit. Lantaran sifat kepahlawanan sudah menjadi bagian dari karakter seorang muslim sejati.

Pertama, peduli sesama. Dari sejak bangun tidur, kita diajarkan untuk memikirkan kondisi kaum muslimin. Rasulullah saw mengingatkan kita, “Barangsiapa yang pada pagi harinya hasrat dunianya lebih besar maka itu tidak ada apa-apanya di sisi Allah, dan barangsiapa yang tidak takut kepada Allah maka itu tidak ada apa-apanya di sisi Allah, dan barang siapa yang tidak perhatian dengan urusan kaum muslimin semuanya maka dia bukan golongan mereka” (HR. Al-Hakim dan Baihaqi).

Seorang pahlawan pantang memikirkan kepentingannya sendiri. Berawal dari kepedulian terhadap orang lain, seorang pahlawan bergerak untuk mencari cara agar bisa berkontribusi kebaikan pada umat.

Kedua, berdakwah. Tak cukup hanya peduli, harus ada aktifitas fisik yang menunjukkan wujud kepeduliannya dengan berkontribusi untuk kebaikan umat. Sebagaimana dilakukan oleh para pahlawan Islam Khalid bin Walid sang ”Pedang Allah” yang dikenal karena keberanian dan strategi perangnya hebat; Thariq bin Ziyad yang pertama kali membuka jalan dakwah di Eropa dengan penaklukan bumi Andalusia; atau Muhammad al-Fatih sang penakluk Konstantinopel.

Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemunkaran, hendaknya dia merubah dengan tangannya, kalau tidak bisa hendaknya merubah dengan lisannya, kalau tidak bisa maka dengan hatinya, dan yang demikian adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim)

Ketiga, ikhlas. Amal kebaikan seorang pahlawan dalam Islam murni hanya untuk mendapatkan ridho Allah. Bukan sanjung puji manusia. Bukan pula kalungan medali dan tanda kehormatan. Kalopun ada apresiasi, itu sampingan aja. Seperti dikatakan Ibnu Qutaibah dalam bukunya Uyyun Akhbar.

Maslamah bin Malik tengah mengepung sebuah benteng. Di dalam benteng itu ada celah pada dindingnya yang tak bisa dimasuki oleh satu pun pasukan Islam. Hingga muncul dari pasukan Islam seorang yang berhasil masuk celah itu dan membuka jalan penakulan benteng oleh kaum Muslimin.

Maslamah mencari tahu siapa ‘pahlawan’ itu dan memerintahkan anak buahnya untuk mencari agar bisa diberikan apresiasi atas jasanya. Hingga datang seorang yang mengaku tahu identitas pahlawan itu dan menyampaikan kepada Maslamah.

“Orang yang memasuki celah itu meminta engkau berjanji tiga hal agar Engkau jangan tuliskan namanya dalam surat kepada khalifah, jangan engkau minta khalifah memberi dia sesuatupun, dan jangan engkau tanya dari kabilah mana dia.”

Maslamah berkata, “ketiga hal itu aku jamin untuk dia.” Laki-laki itu berkata, “Akulah orangnya”.  Sejak kejadian itu, Maslamah selalu berdoa “Ya Allah jadikan aku bersama orang yang memasuki celah itu.”

Jadilah seorang muslim sejati, maka kita akan menjadi bagian dari para pahlawan Islam. Be a True Moslem! []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here