Buletin Teman Surga 205. Tanda Cinta Untuk Guru

0
8

Pahlawan tanpa tanda jasa. Itulah gelar mulia yang diberikan kepada guru di negeri ini. Sudah fix kalo guru adalah sosok berjasa di balik perjalanan kita dalam menimba ilmu. Dari Taman Kanak-Kanak hingga Perguruan Tinggi. Baik di sekolah formal atau non formal.

Minggu ini, para pahlawan itu berulang tahun. Yup, negara menetapkan tanggal 25 November sebagai Hari Guru Nasional. Lantas, bagaimana sikap terbaik kita sebagai tanda cinta untuk guru yang tak lekang oleh waktu? Biar nggak penasaran, kita spill caranya.

Guru Sumber Ilmu

Dalam Islam, guru memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan mulia di sisi Allah SWT. Lantaran guru dengan keilmuannya bisa mengajar anak didik agar cerdas secara akademik dan terbangun kepribadian Islamnya. Nggak heran kalo dulu pemerintahan Islam, sangat menghargai profesi guru. Tak sekedar dikalulngi gelar pahlawan tanpa tanda jasa, tapi dijamin kesejahteraan hidupnya. Tanpa membedakan apakah guru PNS ataukah swasta atau honorer. Sama mulianya.

Sejarah telah mencatat bahwa guru dalam naungan Islam mendapatkan penghargaan yang tinggi dari negara dengan memberikan gaji yang melampaui kebutuhannya. Diriwayatkan dari Ibnu Abi Syaibah, dari Sadaqoh ad-Dimasyqi, dar al- Wadl-iah bin Atha, bahwasanya ada tiga orang guru di Madinah yang mengajar anak-anak dan Khalifah Umar bin Khattab memberi gaji lima belas dinar (1 dinar = 4,25 gram emas; 15 dinar = 63,75 gram emas; bila saat ini 1 gram emas Rp. 850.000, berarti gaji guru pada saat itu setiap bulannya sebesar 54.187.500).

Asyik banget ya. Kalo para guru terjamin kesejahteraannya, tentu bakal ngasih perhatian penuh dalam mendidik anak-anak muridnya. Nggak lagi dipusingkan untuk mencari tambahan pendapatan. Tidak hanya itu, negara menurut Islam juga wajib menyediakan semua sarana dan prasarana dengan maksimal dalam menunjang profesionalitas guru menjalankan tugas mulianya.

Dalam kedudukannya sebagai sumber ilmu, perlakuan murid pada sang guru sangat terjaga adabnya. Seperti ditunjukkan para ulama. Nggak heran kalo mereka tumbuh dan menjadi tokoh-tokoh Islam yang dikenal karena ketinggian ilmunya. Apa aja sih yang dilakukan para ulama saat belajar pada guru-gurunya?

Pertama, fokus dengerin penjelasan guru.

Ibnul Jamaah mengatakan, “Seorang penuntut ilmu harus duduk rapi, tenang, tawadhu’, mata tertuju kepada guru, tidak membentangkan kaki, tidak bersandar, tidak pula bersandar dengan tangannya, tidak tertawa dengan keras, tidak duduk di tempat yang lebih tinggi juga tidak membelakangi gurunya”.

Bahkan diriwayatkan Yahya bin Yahya Al Laitsi tak beranjak dari tempat duduknya saat para kawannya keluar melihat rombongan gajah yang lewat di tengah pelajaran, Yahya mengetahui tujuannya duduk di sebuah majelis adalah untuk mendengarkan apa yang dibicarakan gurunya bukan yang lain.

Kedua, berbicara sopan kepada guru.

Para Sahabat Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam, muridnya Rasulullah, tidak pernah kita dapati mereka memotog ucapannya atau mengeraskan suara di hadapannya. Bahkan Umar bin Khattab yang terkenal keras wataknya tak pernah meninggikan suaranya di depan Rasulullah. Dalam hadist Abi Said al Khudry radhiallahu ‘anhu juga menjelaskan,

 “Saat kami sedang duduk-duduk di masjid, maka keluarlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian duduk di hadapan kami. Maka seakan-akan di atas kepala kami terdapat burung. Tak satu pun dari kami yang berbicara” (HR. Bukhari).

Ketiga, sabar dalam membersamai sang guru.

Kalo kamu kena teguran karena tak mengerjakan tugas? Dapat hukuman lantaran bercanda kelewatan? Atau kena sentil karena gangguin teman? Woles aja. Meski sakit hati, bikin malu, dan ngerasa nggak nyaman, tetap bersabar dan jangan pernah berpaling dari kebaikan guru. Apalagi sampai bertindak kasar dan melawan. Atau malah menjelek-jelekkan nama baiknya di sosial media biar viral. Nggak banget.

Al Imam As Syafi Rahimahullah mengingatkan, “Bersabarlah terhadap kerasnya sikap seorang guru, Sesungguhnya gagalnya mempelajari ilmu karena memusuhinya”

Berbahagialah selagi masih ada guru yang sabar mengajari kita. Jangan pernah melupakan kebaikan para guru yang dengan telaten membimbing kita. Mereka yang telah mengantarkan kita pada titik ini dan kelak pada puncak keberhasilan di dunia dan akhirat. Seperti dalam lagu salah satu group band “Aku ada karena kau pun ada….

Muliakan Gurumu, Berkah Ilmumu

Burhanuddin az-Zarnuji berkata, “Orang-orang yang hadir di majlis ilmu itu banyak, namun mengapa yang keluar (berhasil) hanya sedikit? Hal itu, karena kebanyakan mereka tidak mengerjakan adab penuntut ilmu.”

Catet tuh. Salah satu faktor yang menjadi kesuksesan para penuntut ilmu adalah komitmen mereka dalam menjaga adab alias sopan santun saat menjalani proses bejalar. Baik ketika menimba ilmu maupun perlakukan mereka terhadap para guru. Kenapa menjaga adab itu sangat penting, terutama bagi kita selaku pelajar?

Mencintai ilmu berarti mencintai orang yang menjadi sumber ilmu. Menghormati ilmu berarti harus menghormati pula orang yang memberi ilmu. Itulah guru. Tanpa pengajaran guru, ilmu tak akan pernah bisa didapatkan oleh si murid.

Seorang ulama, DR. Umar As-Sufyani Hafidzohullah mengatakan, “Jika seorang murid berakhlak buruk kepada gurunya maka akan menimbulkan dampak yang buruk pula, hilangnya berkah dari ilmu yang didapat, tidak dapat mengamalkan ilmunya, atau tidak dapat menyebarkan ilmunya. Itu semua contoh dari dampak buruk.”

Seperti apa bentuk memuliakan guru, kita bisa merujuk pada kitab Ta’lim Muta’alim karya Sheikh Az-Zarnuji. Di antaranya,

  • Seorang murid tidak berjalan di depan gurunya
  • Tidak duduk di tempat gurunya
  • Tidak memulai bicara padanya kecuali dengan izin guru
  • Harus menjaga waktu, jangan mengetuk pintunya, tapi menunggu sampai guru keluar
  • Seorang murid harus mencari kerelaan hati guru, harus menjauhi hal-hal yang menyebabkan guru marah, mematuhi perintahnya asal tidak bertentangan dengan agama
  • Termasuk menghormati guru adalah juga dengan menghormati putra-putra guru, dan sanak kerabat guru
  • Jangan menyakiti hati seorang guru karena ilmu yang dipelajarinya akan tidak berkah

Inilah salah satu penerapan dari hadits Rasulullah saw: “Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda serta yang tidak mengerti hak ulama” (HR. Ahmad).

Mari kita tunjukkan tanda cinta untuk guru yang tak lekang oleh waktu. Awali dengan menunjukkan penghormatan kita pada semua guru. Agar ilmu mudah kita terima dan bermanfaat untuk semua. Muliakan gurumu, berkah ilmumu. Yuk! []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here