Buletin Teman Surga Spesial Syawal Kalo Ramadhan Bisa Ngomong

0
23
buletin teman surga spesial ramadhan 1442 h

buletin teman surga spesial ramadhan 1442 hTahun kedua lebaran kita masih ditemani wabah corona. Berita media massa dan layar kaca didominasi oleh kebijakan pemerintah yang melarang tradisi mudik. Lebaran di rumah aja. Demi memutus mata rantai penyebaran covid 19 yang masih merajalela.

Sementara di Palestina, penghujung Ramadhan dinodai oleh arogansi pasukan Israel la’natullah alaih yang menyerang Masjid al-Aqsa, Gerbang Damaskus di Kota Tua, dan distrik Sheikh Jarrah di Yerusalem Timur pada Jumat (7/5) malam. Sebanyak 205 warga Palestina mengalami luka-luka dalam serangan itu. Pasukan Israel menyerang umat Muslim yang sedang melaksanakan ibadah shalat tarawih di Masjid al-Aqsa.

Kita berdoa semoga wabah pandemi corona segera berakhir. Dan negara Israel hengkang dari bumi Palestina. Meski begitu, apapun yang terjadi di tengah kita jangan sampai melupakan berlalunya bulan Ramadhan yang mulia.

iklan buletin teman surga

Ramadhan Berakhir. Panik Gak?

Kita boleh sedih gak bisa silaturahmi secara offline dengan sanak saudara di desa. Kita mungkin khawatir kalo gak mudik, gak akan ketemu lagi dengan orang tua. Tapi sesedih dan khawatir itukah yang kita rasakan seiring berakhirnya bulan mulia?

Euforia hari kemenangan sering kali bikin kita lupa diri. Bukan baju baru, hampers lebaran atau angpau yang harus kita khawatirkan. Sampai gak sempat meluangkan waktu itikaf di mesjid pada 10 hari terakhir Ramadhan atau berat menyisihkan kelebihan harta untuk menunaikan zakat infak dan sedekah. Tapi nasihat Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang mesti kita renungkan.

“Hari raya itu bukan bagi orang yang memakai pakaian baru, Akan tetapi hari raya bagi mereka yang takut terhadap hari pembalasan.” (Khalifah Umar bin Abdul Aziz)

Makanya bukan rona kebahagiaan yang ditunjukkan oleh para Sahabat saat ditinggal bulan suci Ramadhan. Justru sebaliknya. Mereka bersedih. Karena belum tentu bakal ketemu Ramadhan lagi tahun depan.

Apalagi kalo ingat pesan Rasulullah saw, “Sekiranya umatku mengetahui kebajikan-kebajikan yang dikandung bulan Ramadhan, niscaya umatku mengharapkan Ramadhan terus ada “sepanjang tahun” (HR. Abu ya’la, ath-thabrani, dan ad-dailami).

Kapan lagi bisa dapat kesempatan menabung pahala dengan ‘mudah’ dan ‘murah’ kalo nggak di bulan Ramadhan. Kapan lagi punya peluang besar pengampunan dosa kalo nggak di bulan Ramadhan. Kapan lagi bisa merasakan nuansa islami sebulan penuh kalo nggak di bulan Ramadhan.

Jangan sampai kita termasuk orang celaka seperti disampaikan Rasulullah saw dalam sabdanya.

“Celakalah seorang hamba yang mendapati bulan Ramadhan kemudian Ramadhan berlalu dalam keadaan dosa-dosanya belum diampuni.” [HR. Ahmad, dishahihkan al-Hakim, adz-Dzahabi dan al-Albani]

Pantas apabila ada ulama salaf yang berkata, “Barangsiapa yang tidak diampuni dosa-dosanya di bulan Ramadhan, maka tidak akan diampuni dosa-dosanya di bulan-bulan lainnya.” [Latha-if  Al-Ma’arif, hal. 297]. Ngerih gaes!

Jadi, ditinggal Ramadhan Panik gak? Panik gak? Paniklah masa enggak!

iklan buletin teman surga

Pesan Ramadhan Untuk Kita

Ketika tulisan ini kamu baca, bisa jadi tamu agung itu telah berpamitan meninggalkan kita dengan sejuta pelajaran dan kebaikan. Kalo ada yang bilang rindu itu berat, maka kerinduan akan pertemuan dengan Ramadhan tahun depan itu jauh lebih berat. But, Ramadhan must go on.

Kalo Ramadhan bisa ngomong, mungkin inilah beberapa pesan yang akan disampaikannya untuk kita. Sebagaimana penulis kutip dari catatan sahabat online Republika di Mesir.  

Pertama, setelah aku pergi, jangan kau lupakan aku (puasa) karena aku akan datang kembali menghampirimu selama 6 hari di bulan Syawal. Agar aku dan kamu senantiasa dekat serasa pertemuan setahun tanpa berpisah sedikitpun. Aku akan lebih dekat lagi ketika kau melaksanakan puasa Senin dan Kamis, atau puasa ayyâmul baidh (tanggal 13,14, dan 15 setiap bulan qamariyah), puasa Arafah, puasa Asyura.

Bahkan Rasulullah SAW menganjurkan untuk melaksanakan puasa Daud (sehari berpuasa sehari berbuka). Itu semua tiada lain agar kau selalu mengingatku, sehingga aku pasti menunggumu di pintu surga ar Rayyân. So sweet!

Kedua, setelah aku pergi, jangan kau biarkan kitab suci Alquran beselimutkan debu. Buatlah jadwal agar kamu bisa tetap membacanya seperti ketika aku bersamamu.

Ketahuilah bahwa Alquran itu salah satu gizi hatimu dan Alquran merupakan salah satu yang dapat memberimu syafaat kelak. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW :

“Puasa dan Al Quran itu akan memberikan syafa’at kepada hamba di hari kiamat. Puasa akan berkata, ‘Ya Rabbi, aku telah menghalanginya dari makan dan syahwat, maka perkenankanlah aku memberikan syafa’at untuknya.’ Sedangkan Alquran akan berkata, ‘Ya Rabbi, aku telah menghalanginya dari tidur di malam hari, maka perkenankanlah aku memberikan syafa’at untuknya.’ Maka Allah SWT memperkenankan keduanya memberikan syafa’at.” (HR Imam Ahmad dan Ath-Thabrani).

Ketiga, setelah aku pergi, jangan kau tinggalkan shalat malam walaupun kamu sanggup hanya melakukan beberapa rakaat saja. Sungguh shalat malam mampu mendekatkanmu dengan Raja-ku.

Keempat, setelah aku pergi, jangan kau tinggalkan kebaikan-kebaikan yang sudah kamu lakukan di saat aku ada di sisimu. Ketahuilah bahwasanya Raja-ku senantiasa mencintai satu amalan kebaikan yang dilakukan tanpa henti walaupun itu sedikit.

Sebagaimana sebuah hadis dari ’Aisyah RA, beliau mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda ”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” (HR Muslim).

Kelima, saat aku pergi, duhai kasihku Muslimah jangan kau lepaskan kembali jilbabmu, karena di situ kehormatan dan kemuliaanmu terjaga. Jangan kau memakainya karena aku, tapi pakailah ia karena Raja-ku.

Terakhir, Kun Rabbâniyyan walâ takun Ramadhâniyyan, jadilah kau insan yang senantiasa beribadah kepada Allah, jangan kau beribadah hanya di bulan Ramadhan saja. Karena sungguh Allah itu Tuhan di seluruh waktu.

iklan buletin teman surga

Jagain Semangatnya, Kencengin Ngajinya

Jangan dianggurin pesan Ramadhan untuk kita di atas. Catat baik-baik. Kalo perlu, tempel di kamar dan kasih hiasan biar gampang diingat. Kalo sudah, saatnya kita tunaikan pesan mulia itu dalam keseharian pasca Ramadhan. Kuncinya?

Istiqomah dalam menjalankan kebaikan.

Seorang Sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah saw., “Wahai Rasulullah, ajarilah aku dari Islam ini suatu ucapan yang mana aku tidak perlu lagi bertanya tentang hal itu kepada orang lain setelah engkau.”

Beliau menjawab, “katakanlah, ‘aku beriman kepada allah,’ kemudian beristiqamahlah!” (HR.  Ahmad).

Secara bahasa, istiqamah itu artinya menempuh jalan (agama) yang lurus (benar) tanpa berpaling ke kiri maupun ke kanan. Istiqamah mencakup pelaksanaan semua bentuk ketaatan kepada Allah SWT, lahir dan batin; meninggalkan semua bentuk larangan-Nya.

Rasulullah saw. ngasih kabar gembira bagi kita-kita yang selalu bersabar dan tetep istiqomah. Sabda beliau:

“Sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari yang memerlukan kesabaran. Kesabaran pada masa-masa itu bagaikan memegang bara api. Bagi orang yang mengerjakan suatu amalan pada saat itu akan mendapatkan pahala lima puluh orang yang mengerjakan semisal amalan itu. Ada yang berkata,’hai rasululah, apakah itu pahala lima puluh di antara mereka?” Rasululah saw. Menjawab,”bahkan lima puluh orang di antara kalian (para shahabat).” (HR Abu Dawud, dengan sanad hasan)

Allah swt bakal ngejamin kebaikan bagi yang berani istiqomah. Seperti ditegaskan dalam firman-Nya:

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “robb kami ialah allah” kemudian mereka beristiqomah (meneguhkan pendirian mereka), maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan allah kepadamu” (QS. Fushshilat [41]: 30).

Lantas, bagaimana caranya agar kita tetap istiqomah dalam ketaatan pasca Ramadhan?

Pertama, banyak berpikir. Para sahabat, generasi awal kaum Muslimin yang berhasil dididik Rasulullah saw. mengaitkan aktivitas berpikir dengan keimanan. Mereka menjelaskan bahwa, “Cahaya dan sinar iman adalah banyak berpikir” (Kitab ad-Durrul Mantsur, Jilid II, hlm. 409). Semakin kita banyak berpikir tentang kebesaran Allah swt dan mengkaji Islam lebih dalam, lambat laun cahaya keimanan kita akan semakin bersinar. Makanya ikut ngaji.

Kedua, perbanyak ibadah dan jauhi maksiat. Rasul pernah bilang, “iman itu kadang bertambah dan kadang berkurang”. Rasul juga bilang, “iman bertambah dengan taat, dan iman bekurang dengan maksiat”. Makanya kita kudu getol beribadah, baik yang sunat apalagi yang wajib. Dan jangan lupa, jauhi pelaku maksiat juga tempat maksiat. Biar kita nggak kebawa-bawa sesat.

Ketiga, bergaul dengan orang-orang alim. Perilaku seseorang sangat dipengaruhi oleh teman dekatnya. Makanya, sering-sering deh ngumpul dengan teman yang bisa mengajak kita untuk tetap taat dan mengingatkan kita agar jauh dari maksiat. Dengan begitu, tanki semangat kita untuk istiqomah selalu terisi penuh.

Keempat: Banyak menjalankan amal-amal yang sunnah—seperti shalat malam, shaum sunnah, dll—selain tentu konsisten dalam menjalankan berbagai kewajiban. Di bulan syawal, jangan lupa untuk berpuasa sunnah 6 hari untuk melengkapi shaum Ramadhan kita.

Dari Abu Ayyub Al Anshori, Rosululloh bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa Romadhon kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa setahun penuh.”(HR. Muslim no. 1164).

Kelima: Membaca kisah-kisah orang shalih terdahulu sehingga bisa dijadikan teladan dalam beristiqamah.

Keenam: Memperbanyak doa kepada Allah SWT agar diberi keistiqamahan. Allah SWT memuji orang-orang yang beriman yang selalu berdoa kepada-Nya untuk meminta keteguhan iman ketika menghadapi ujian. Doa yang paling sering Nabi saw. panjatkan adalah:

 (Duhai zat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-mu).” (HR. At-Tirmidzi).

Emang nggak mudah menjaga semangat Ramadhan setiap bulan. Istiqomah menjadikan ridho Allah swt di atas pertimbangan materi, kepentingan keluarga, atau solidaritas teman. Tapi percaya deh, Allah swt pasti akan mengganti setiap pengorbanan kita dengan kebaikan dunia akhirat. Meski Ramadhan sudah berlalu, tetap taat dan jauhi maksiat. Jagain semangat Ramadhannya, kencengin ibadahnya, getolin ngajinya. Kuy! []

iklan buletin teman surga

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here