Kisah Teladan: Imam Syafi’i Pencari Ilmu Sejati

0
7

Siapa yang tak kenal imam mazhab yang satu ini. Namanya cukup familier ditelinga kita. Nama asli beliau adalah Muhammad bin Idris bin Al-Abbas, beliau sering disebut Imam Syafi’i. Nama ini diambil dari kakek beliau yang ketiga, yaitu Syafi’i bin As-Said, padahal pada awalnya panggilan beliau adalah Abu Abdullah. Beliau lahir di Gaza pada tahun 150 H, tahun yang bertepatan dengan wafatnya Imam Abu Hanifah. Beliau sudah menjadi yatim saat usia beliau masih sangat muda, ayah beliau wafat meninggalkan beliau dalam keadaan miskin. Walaupun demikian kalau kita lihat dari catatan hidup beliau, pada usia 7 tahun beliau berhasil menghapal Al-Quran 30 juz. Kita juga sebenernya hapal Al-Quran, tapi juz 30 doang, beda dikit kan?? Pada usia 10 tahun (riwayat lain 13 tahun) beliau hapal kita Al-Muwaththa’ karya Imam Malik yang berjilid-jilid. Dan pada usia 15 tahun (riwayat lain 18 tahun) beliau dipercaya untuk mengeluarkan fatwa oleh gurunya, Muslim bin Khalid Az-Zanji.

Hebat bukan? Apakah beliau didukung duit? Beliau menyatakan sendiri kepedihannya, “Aku adalah seorang yatim di bawah asuhan ibu. Ibuku tidak mempunyai uang untuk membayar seorang guru untuk mengajariku. Namun seorang guru mengizinkanku belajar dengannya ketika ia mengajar. Kala aku mengkhatamkan Al-Quran aku selalu masuk masjid untuk mengikuti pelajaran yang disampaikan para ulama dalam pengajian itu. Aku menghafalkan hadis dan permasalahn-permasalahan agama. Akibat kemiskinan itu, ketika aku melihat tulang yang menyerupai papan, maka tulang itu aku ambil untuk menulis hadis dan beberapa permasalahan agama.” Diriwayatkan pula bahwa beliau memungut kertas bekas kantor pemerintahan di masa itu untuk menulis.

Terbukti, uang bukanlah kendala utnuk mencari ilmu. Hanya butuh semangat, kawan, semangat saja. Pasti pengorbanan itu berbuah manis. Seperti dialami Imam Syafii yang akhirnya beliau menjadi panutan dengan mazhab yang beliau bangun, dan menjadi tujuan para pencari ilmu baik di Irak, Syam, dan Yaman pada masa itu.

Tapi, bukan hanya semangat mencari ilmu saja, tapi juga harus dibarengi dengan semangat menjaga ilmu. Ada riwayat yang menyebutkan bahwa beliau kehilangan 40 ayat hapalannya karena tidak sengaja melihat betis perempuan yang bukan mahramnya. Ada juga yang meriwayatkan hanya tumit seorang wanita yang tersingkap dari pakaiannya. Nah kalo jaman sekarang gimana tuh?? Di jalan, sekolah, pasar, TV, di mana-mana aurat melulu, kalo bukan karena penjagaan dari Allah tu ayat Quran nggak ada yang mau nempel di otak kita kali.

Bukti tentang keluasan ilmu beliau bisa kita lihat selain dari kitab-kitab karangannya juga dari kesaksian-kesaksian orang-orang tentang beliau. Ketika beliau mengajar di masjid Baghdad, di situ ada 20 halaqoh (kelompok belajar). Setelah beliau datang malah menciut jadi 3 halaqoh. Pada ke mana? Apa pada kabur? Tentu bukan, yang 17 halaqoh lainnya bergabung dengan halaqoh beliau. Karena ketinggian ilmunya, pantaslah beliau digelari Nasir As-Sunnah (pembela sunnah). Pernah juga saat beliau berada dalam perjalanan dari Mekah menuju Madinah, selama 8 hari, beliau mengkhatamkan Quran sebanyak 16 kali. Menurut Ar-Rabi’ bin Sulaiman, Imam Syafi’i membagi waktunya menjadi 3 bagian, sepertiga untuk menulis, sepertiga untuk solat, dan sepertiga untuk tidur. Begitulah keseharian beliau, menjadikan ilmu itu sepertiga hidupnya begitupun ibadahnya.

Maka yakinlah, dengan terus berupaya penuh semangat dalam mencari ilmu, biaya tidak akan menjadi halangan karena banyak orang yang berhasil melewatinya. Dengan ilmu itu kita bisa meningkatkan kualitas ibadah kita kepada Allah, dan ilmu itulah yang akan memuliakan kita di dunia dan akherat. [Ridwan]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here