Kisah Teladan: Sultan Abdul Hamid II

0
6

Nama lengkapnya Abdul Hameed khan bin Abdul Majeed Khan yang lahir pada hari Rabu, 21 September 1842. Angka ‘II’ dibelakang namanya menunjukkan bahwa beliau adalah anak kedua dari istri kedua ayahnya, Sultan Abdul Majeed. Khalifah yang yang menguasai bahasa Arab, Turki dan Persia ini ditinggal ibunya ketika berumur 7 tahun. Pada 10 Februari 1918, Abd-ul-Hamid II meninggal tanpa bisa menyaksikan runtuhnya institusi Negara Khilafah (1924), suatu peristiwa yang dihindari terjadi di masa pemerintahannya. Ia digantikan oleh saudaranya Sultan Muhammad Reshad (Mehmed V) .

Salah satu prestasi yang terukir pada masa pemerintahan Sultan Abdul Hamid II adalah keberhasilannya memangkas hutang luar negeri daulah khilafah. Penting untuk dijelaskan mengenai hutang Daulah Utsmani ketika Abdul Hamid II berkuasa, yaitu 2.528 Juta Lira Emas Turki. Ketika beliau dijatuhkan, hutang Turki tinggal 106 juta Lira. Artinya, beliau berhasil memotong jumlah hutang hingga sekitar 1/20 dari hutang sebelumnya.

Selama periode pemerintahannya, Sultan Abd-ul-Hamid II menghadapi usaha dari kaum zionis yang ingin mendirikan negara Israel di Palestina. Bankir konglomerat yahudi Mizray Krusow, dan pimpinan organisasi zionisme, Herzl pernah menawarkan kepada Sultan Abdul Hamid II :

  1. Akan membayar seluruh hutang yang dimiliki oleh Daulah Utsmaniyah.
  2. Akan membantu peningkatan kekuatan Angkatan Laut Daulah Utsmaniyah.
  3. Memberi pinjaman 35 juta mata uang emas lira Utsmaniyah tanpa bunga untuk menjamin kesejahteraan Daulah Utsmaniyah.

Sebagai balasannya, mereka menghendaki dipenuhinya syarat :

  1. Dibolehkannya warga Yahudi untuk berziarah ke Palestina kapanpun mereka berkehendak.  Dan untuk tinggal di Palestina selama mereka menginginkan untuk tinggal di “tanah suci” tersebut.
  2. Dibolehkannya warga Yahudi untuk membangun pemukiman dimana mereka dapat tinggal di lokasi­lokasi di sekitar yerusalem.

Sikap sultan terhadap tawaran ini sangat tegas. Bahkan Sultan Abdul Hamid menolak untuk bertemu delegasi ini. Beliau mengirimkan jawaban kepada mereka melalui Tahsin Pasha. Jawaban beliau saat itu adalah “Sampaikan kepada Yahudi yang tidak sopan itu bahwa hutang Utsmani bukanlah sebuah hal yang memalukan, Perancis juga memiliki hutang dan hutang tersebut tidak mempengaruhi negara itu. Yerusalem menjadi bagian dari tanah kaum Muslimin sejak Umar Bin Khattab membebaskan kota tersebut dan aku tidak akan pernah mau menanggung beban sejarah memalukan dengan menjual tanah suci kepada Yahudi dan mengkhianati tanggung jawab dan kepercayaan dari kaumku. Silahkan Yahudi itu menyimpan uang mereka, dan Utsmani tidak akan pernah mau berlindung di balik benteng yang dibuat dari uang musuh­musuh Islam”. Beliau juga meminta mereka agar pergi dan tidak pernah kembali menemui beliau lagi.

Yahudi tidak menyerah setelah ditolak mentah­mentah oleh Abdul Hamid II. Pada tahun yang sama, 1901, pendiri gerakan zionisme, theodore hertzl mengunjungi Istambul dan berusaha bertemu kembali dengan Abdul Hamid II, dan sekali lagi Abdul Hamid II menolak untuk bertemu dengannya dan mengutus perdana menteri “Sampaikan kepada Dr. Hertzl untuk tidak mengambil langkah lebih jauh lagi dalam proyeknya ini. Aku tidak bisa memberikan sejengkal pun tanah dari wilayah Palestina karena memang tanah ini bukan milikku, tanah ini milik Daulah Islam. Daulah Islam yang telah mengobarkan jihad demi untuk penggabungan wilayah ini, dan mereka telah mengaliri tanah ini dengan darah mereka. Silakan Yahudi menyimpan kembali uang mereka. Jika Khilafah Islam suatu hari nanti berhasil dihancurkan, mereka boleh mengambil tanah palestina dengan gratis. Tapi, selama aku masih hidup, aku lebih memilih menusukkan pedang ke dalam tubuhku daripada harus melihat tanah Palestina dipotong dan dilepaskan dari Khilafah Islam. Ini adalah suatu hal yang tidak akan terjadi. Aku tidak akan memulai memotong tubuh sendiri sementara ia masih hidup”

Itulah teladan kita dengan ketegasanya menentang lobi yahudi untuk menghancurkan Islam. Nggak kaya pemimpin negeri-negeri muslim sekarang yang bernafas dalam himpitan ketiak negara adidaya. Kini saatnya bukan untuk mengenang kehancuran negara Khilafah tapi Moment of awakeing (momen kebangkitan) menuju tegaknya khilafah rasyidah ‘ala mihaj an-nubuwwah. [ridwan]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here